Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
USG


__ADS_3

"Nggak sekolah Bel?" Tanya Ansel melihat anak gadisnya belum bersiap padahal ini sudah hampir jam tujuh. "Kan Bella di skors Dad." Jawabnya mengingatkan. "Mom mau temani Daddy ke kantor ya? Padahal Bella kan di rumah." Lanjut gadis itu bertanya karena Mommy nya sudah memakai gamis dengan tas selempang kecil. "Mau ke rumah sakit cek kandungan. Setelah itu pulang." Jawab Karin sembari mengambilkan makan untuk suami dan anaknya. "Bella ikut." Ucapnya. "Nggak usah. Kamu belum mandi juga. Daddy nggak mau nunggu." Sahut Ansel. "Bella mandi sekarang. Daddy tunggu selagi sarapan." Ia bergegas pergi. "Jangan lari nanti jatuh." Tegur Karin.


Bella makan di suapi Ibunya di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit karena tidak sempat sarapan. "Enak begitu?" Tanya Ansel menyindir. "Enak." Jawab anaknya sambil tersenyum membuat Pria itu berdecak. "Sudah habis Bell." Ucap Karina melihat Bella membuka mulut lagi. "Yah... Cepet banget." Keluhnya lalu meneguk minum yang diberikan sang Ibu.


Ansel merangkul pinggang istrinya mesra memasuki rumah sakit. Tanpa mengantri seperti yang lain, Pria itu membawa Karina masuk ke dalam ruang dokter kandungan karena sudah membuat janji. "Selamat pagi Tuan. Nyonya." Sapa dokter wanita paruh baya itu ramah sambil mempersilahkan pasutri itu untuk duduk. "Pagi Dok." Jawab Karina sambil duduk.

__ADS_1


Ansel tersenyum menatap layar monitor yang menampilkan calon anaknya yang masih sebesar kacang tanah. Ia sangat terharu sampai meneteskan air mata. Ini momen berharga sepanjang hidupnya karen Ia akan menjadi seorang ayah dari anak yang dikandung oleh wanita yang Ia cintai. Sekarang Ansel akan memulai lembaran baru dengan Karina. Menciptakan hal hal membahagiakan dengan keluarga kecilnya. "Terimakasih." Ucap pria itu sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.


Bella menunggu di luar karena Ia tak di perbolehkan mendengar obrolan dokter dan kedua orang tuanya. Ia tak tau apa apa. Saat bertanya pun Daddy nya hanya menjawab jika Bella masih dibawah umur. "Mom." Bella bergegas berdiri saat melihat Ibunya keluar dari ruangan dokter. "Tunggu sini dulu." Ucap Ansel bergegas pergi untuk menebus resep vitamin. Ia akan melakukannya sendiri untuk sang istri. Tidak seperti biasanya yang hanya tinggal suruh saja. Setelah menikah apapun yang menyangkut tengang istrinya maka Ia akan lakukan sendiri. "Lihat Daddy Mom." Ucap Bella sambil tertawa melihat Ayahnya mengantri dan tampak berkali kali menghela napas. "Itu bagus untuk melatih kesabarannya." Jawab Karin tersenyum.


Sore hari selepas mandi Ansel menghampiri istrinya yang sedang duduk nyaman di balkon kamar. "Hari ini mau belajar apa dulu?" Tanya Pria itu duduk merapat sambil memeluk sang istri setelah melayangkan ciuman bertubi tubi. "Setelah kemarin kemarin sudah dijelaskan tentang konsep agama. Sekarang kita belajar wudhu. Kalau Daddy lupa nanti tinggal baca lagi." Ucap Karin lalu menjelaskan secara rinci pengertian, hukum dan tata cara berwudhu.

__ADS_1


Ansel tersenyum memandangi wajah cantik istrinya yang sedang berceloteh sedaritadi. Hidung, bibir, mata, alis dan semuanya sungguh pahatan yang begitu indah. Kata orang bidadari cantik. Namun baginya sang istri lah yang paling cantik. Karin begitu sempurna hingga setiap senyuman dari wanita itu mampu membuat hatinya bergetar. "Daddy dengar tidak sih." Ansel tersadar. "Ah iya. Apa?" Tanya Pria itu karena tidak ada yang masuk ke dalam otaknya. "Daddy begitu." Keluh Karina. "Maaf sayang. Wajah cantikmu membuat aku tidak fokus." Jawab Ansel jujur. "Yasudah sekarang menunduk saja dengarkan baik baik." Ia menggenggam tangan suaminya. "Lihat tangan kita dan dengarkan." Ucap Wanita itu langsung diangguki suaminya. Karin mulai menjelaskan lagi dari awal. Ia sesekali juga meremat tangan Ansel saat pria itu hendak mengangkat pandangannya.


"Dad. Yoghurt nya habis. Kita beli ya." Ajak Karin yang sedang berkumpul dengan keluarga kecilnya setelah makan malam. "Suruh orang saja. Ini sudah malam. Angin malam nggak baik." Jawab Pria itu tak mau istrinya keluar. "Ayolah Dad. Beli sendiri. Minimarketnya dekat. Tinggal jalan kaki sampai." Ansel menghela napas kemudian segera mengangguk.


Karina terbengong melihat suaminya. Ia memang minta yogurt tapi tidak dua troli penuh seperti itu. "Buat stok Mom." Ucap Bella mendukung Ayahnya. "Kebanyakan." Gumamnya. "Nggak banyak. Beli pabriknya sekalian juga mampu." Jawab Ansel mengecup pipi istrinya. "Mau apa lagi?" Lanjut pria itu bertanya namun di jawab gelengan oleh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2