Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bertemu


__ADS_3

Karin sudah beraktifitas seperti biasa. Wanita itu kini sedang berada di ruko untuk membuka toko kue. Ia menyiapkan semua keperluan dibantu beberapa orang karyawan barunya. "Mbak jangan kelelahan ya." Ucap Umi menegur putrinya yang menata barang barang di dapur. "Iya Mi." Jawab Karin sambil tersenyum. "Umi ke butik dulu ya." Pamitnya sembari memberikan pelukan dan ciuman lembut. "Hati hati Mi." Ia mencium tangan sang Ibu lalu mengantarkannya sampai ke depan.


"Mbak sama Mas istirahat saja dulu karna sudah masuk waktu dhuhur sekalian makan siang. Sebentar lagi ada makanan datang nanti langsung makan saja. Aku mau ke atas." Ucap Karin menghampiri karyawannya. "Baik Mbak." Jawab mereka.


Di sisi lain Ansel masih duduk di kursi kerjanya. Beberapa saat berlalu pintu ruangan terbuka. Sosok pria berjalan laku berhenti tepat di depan meja. "Duduklah Dam." Ucap Ansel. Tak banyak bertanya Damian mengangguk segera melaksanakan perintah sang Tuan. Karena Ansel tak menyukai basa basi Damian langsung melaporkan apa yang didapatkan beberapa hari ini. "Keadaan nyonya baik baik saja Tuan. Sekarang sedang membuka toko kue dan ini alamatnya." Ucap Pria itu sembari memberikan amplop. Ansel mengangguk segera membukanya. Ia mengamati satu persatu foto yang menunjukkan kegiatan Karina. "Bawa aku kesana." Ucapnya segera berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Damian yang masih duduk.


Sampai di sebuah ruko dua lantai Ansel langsung bergegas masuk. Pria itu membawa beberapa orang untuk mengatasi beberapa karyawan yang mencoba menghalanginya. Ia melangkahkan kaki dengan tergesa gesa menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua dimana ruangan istrinya berada.

__ADS_1


Karin membeku di tempat melihat pria yang berdiri di depannya. Ia menelisik penampilan suaminya yang tampak kurus dan berantakan. "Sayang." Karin memalingkan wajah saat kata itu terucap dari mulut sang suami. "Maaf." Ansel berjalan mendekat membuat Karin melangkah mundur. Pria itu dengan cepat memeluk tubuh ramping istrinya. "Aku minta maaf. Aku mohon jangan seperti ini. Aku akan memperbaiki semuanya." Ungkapnya sembari menangis sesenggukan.


Perlahan Karin melepaskan pelukan suaminya saat pria itu sudah sedikit tenang. Ia menggenggam tangan Ansel kemudian menuntunnya untuk diajak duduk bersama. "Maaf." Ucap Ansel untuk yang kesekian kalinya sembari menatap lekat wajah cantik sang istri. "Aku mau sendiri. Aku butuh waktu sendiri." Ansel menggeleng cepat. "Tolong jangan seperti ini. Aku mohon jangan seperti ini. Mari kita pulang dan aku akan perbaiki semuanya." Ia duduk di bawah memeluk pinggang Karin yang ramping. "Aku ingin sendiri dulu. Beri aku waktu. Nanti kita bicara lagi." Jawab Karin berusaha memberikan pengertian pada suaminya. Ansel pasrah, Pria itu mengangguk memilih untuk mengalah. Ia mencium kening dan bibir dengan lembut sembari mengucapkan kata kata manis untuk belahan jiwanya. "Jaga diri baik baik." Pesan Karin mencium tangan Ansel dan mengantarkan pria itu sampai di pintu.


Abi buru buru menghampiri lalu memeluk putrinya saat mendapat kabar jika Ansel datang. "Mbak baik baik saja?" Tanya Pria itu khawatir. "Karin baik Bi." Jawabnya sambil tersenyum. "Kita pulang ya." Ajaknya di jawab anggukan.


Sore hari Ansel mengajak Bella berbelanja. Pria itu akan membelikan beberapa barang untuk diberikan pada istrinya. "Kamu bantu Daddy kenapa sih Bell. Kalau Mommy kembali kamu juga senang kan." Ucapnya sedikit kesal karena sedaritadi Bella diam saja. "Sudah dibilang Mom nggak suka barang seperti ini. Mom sukanya street food." Ansel menghela napas. "Malu dong masa kesana bawa makanan pinggir jalan. Daddy kan orang kaya." Bella berdecak. "Terserah Daddy aja." Gerutunya melenggang pergi.

__ADS_1


Malam hari Ansel sudah berada di rumah mertuanya di temani Bella untuk bertemu istri tercinta. Pria itu masuk ke dalam langsung menuju ruang keluarga karena tau dari pelayan jika semua sedang berkumpul disana.


"Ansel." Ucap Abi melihat kedatangan menantunya. "Oh bersama Bella juga." Umi yang ikut menoleh tersenyum melihat gadis itu. "Mau ketemu Mom." Bella yang semula berdiri kini ikut duduk bersama Daddy nya. "Dia sedang mengajari Kafil di kamar. Pergilah kesana. Opa mau bicara dulu dengan Daddy mu." Bella mengangguk. Gadis itu tak membuang banyak waktu langsung bergegas pergi untuk menemui Ibunya.


Abi menelisik penampilan menantunya yang tampak berbeda. "Kamu sakit?" Tanya Pria itu dijawab gelengan. "Tapi kamu kelihatan tidak baik baik saja." Ansel mengulas senyuman miris. "Bagaimana bisa baik baik saja jika seperti ini Bi. Semua kesalahanku." Jawabnya sembari menunduk. "Hm. Kami tidak ada hak untuk ikut campur. Kalian yang bisa menyelesaikan." Ucap Abi sembari menepuk bahu Ansel.


Setelah perbincangan yang cukup lama dengan mertuanya Ansel bergegas ke kamar sang istri. Pria itu masuk ke dalam perlahan lalu menghampiri Bella dan Karina yang sedang bicara berdua. "Bell ke depan dulu Mom." Ucap gadis itu memberikan waktu kedua orang tuanya untuk bicara.

__ADS_1


Ansel meletakkan semua barang bawaannya di atas meja. Pria itu duduk di tepian ranjang lalu memeluk istrinya dengan erat. "I miss you." Ucap Ansel begitu dalam mengungkapkan kerinduannya. "Aku tidak pernah tidur nyenyak dan makan dengan baik selama kamu pergi." Ia berkeluh kesah. "Rasanya sangat menderita." Karin mengusap punggung suaminya. Tak ada yang bisa Ia katakan. Semuanya sudah jelas tanpa Ansel memberi tahu. Melihat pria itu seperti ini hatinya sakit. Namun di sisi lain Ia juga butuh untuk sendiri.


__ADS_2