Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Pergi


__ADS_3

Abi dan Umi sedaritadi mondar mandir di depan ruang UGD tempat dimana putri mereka masih di tangani oleh dokter. "Bel sebaiknya kamu pulang. Besok kamu sekolah. Terimakasih sudah membawa Mommy mu kesini." Ucap Umi. "Tapi Oma. Bella masih mau melihat keadaan Mom." Jawabnya enggan untuk pergi. "Nanti Oma kabari." Jawabnya sambil mengusap kepala gadis itu kemudian memerintahkan supir untuk mengantar.


Pagi hari Karin sudah siuman langsung dipindahkan ke ruang perawatan. "Gimana keadaan kamu Sayang?" Tanya Umi mengusap wajah pucat putrinya. Sekuat tenaga wanita itu menahan air mata agar tidak jatuh karena tak ingin membuat Karin bersedih. "Baik Mi." Jawabnya sambil tersenyum di tengah kondisi yang sebenarnya tidak baik baik saja. "Sekarang makan dulu ya. Mbak pasti lapar. Mbak harus minum obat juga." Ucap Abi sudah menyangga mangkuk bersiap untuk menyuapi putrinya.


Ansel baru pulang. Semalam pria itu menginap di apartemen untuk menenangkan diri tak ingin emosinya semakin memuncak dan berakhir menyakiti sang istri. Ia melangkahkan kaki menuju kamar karen tak mendapati istrinya di dapur atau di ruang makan. "Kemana dia?" Gumamnya karena tak menemukan Karina.

__ADS_1


Bella membiarkan Daddy nya kebingungan. Ia tak menegur atau memberi tahu pria kejam yang sedang kebingungan mencari istrinya itu. "Mom mana Bel?" Tanya Ansel menghampiri Bella yang sedang makan sendirian. "Mom kemana?" Tanyanya dengan nada tinggi karena tak mendapat jawaban. Bella berdiri dengan kasar sembari membanting sendoknya. Ia menatap Daddynya penuh permusuhan. "Daddy kemana aja semalam? Mom begitu gara gara Daddy kan? Asal Daddy tau, semalam Mom pingsan dan Daddy nggak bisa dihubungi. Mom ada di rumah sakit." Jawab Bella membuat Ansel menegang. Terakhir kali Ia meninggalkan istrinya di bawah guyuran shower dan setelah itu dia tak tau lagi bagaimana kondisi Karina.


Ansel berlari menyusuri lorong rumah sakit tak memperdulikan penampilannya yang acak acakan. Pria itu langsung masuk ke lift menuju ruangan tempat Karin di rawat.


Abi Karin menatap nyalang menantunya yang berjalan semakin mendekat. "Mau apa kamu?" Tanya pria itu menahan bahu Ansel. "Belum puas kamu sakiti anak saya. Lepaskan dia dan jangan ganggu Karin lagi." Lanjutnya menekankan setiap kata kata. "Bi. Ansel monta maaf. Ansel akan perbaiki semuanya." Jawabnya sembari meneteskan air mata. "Pergilah." Ucap Abi langsung membuat menantunya menggeleng. Ia ingin bertemu dengan Karin dan melihat kondisi wanita itu. "Ansel suaminya Bi. Ansel ingin tau keadaannya." Jawabnya memohon.

__ADS_1


Karin mengerjapkan mata merasakan tangannya basah. Wanita itu menatap seorang yang sedang duduk sembari menunduk. Jantungnya tiba tiba berdetak sangat kencang. Rasa takut muncul begitu saja membuatnya menarik tangan dengan cepat. "Pergi." Ucap Karin membuat Ansel mengangkat kepala menatap wajah istinya yang tampak ketakutan. "Sayang ini Daddy." Ucap Pria itu namun malah membuat Karin histeris. "Pergi jangan mendekat. Aku mohon pergi." Karin berteriak histeris saat Ansel mendekat.


"Bagaimana Dok?" Tanya Umi menghampiri dokter yang baru keluar. "Pasien mengalami guncangan luar biasa akibat kejadian menyakitkan yang pernah dialami. Kami sudah menyuntikkan obat penenang. Untuk itu mohon untuk menjaga ketenangan pasien. Buat senyaman mungkin dan jauhkan dari hal hal yang membuatnya ketakutan." Jelas dokter.


Abi menghampiri menantunya yang sedang berdiri mengamati Karin dari balik pintu kaca. "Kamu dengar sendiri kan. Demi kebaikan Karin jangan temui dia." Ucapnya. "Maaf." Ansel berkata dengan lirih. "Pulanglah. Jika waktunya sudah tepat kalian bisa bicara. Biarkan Karin tenang dulu." Abi berbicara lunak pada menantunya berharap pria itu bisa mengerti.

__ADS_1


Kafil memasuki ruangan Kakaknya dengan sedikit berlari. "Kakak." Ucapnya sembari memeluk Karina yang sedang makan di suapi Umi. "Hey. Kenapa tidak ganti baju dulu." Jawab Karin sembari membalas pelukan adiknya. "Bagaimana keadaan kakak?" Tak menjawab Ia malah balik bertanya. "Sudah lebih baik." Remaja itu terpaksa mengangguk setuju padahal Ia tau kondisi Kakaknya yang belum baik. "Mau kemana?" Tanya Umi melihat putranya melepaskan sepatu. "Mau ikut." Ia naik ke atas ranjang Karina yang cukup besar. "Kafil tidur disini." Lanjutnya lagi sembari berbaring. Umi hanya tersenyum melihat tingkah manja putranya. "Kamu sudah makan?" Tanya Abi yang baru datang. "Sudah Bi." Jawab Kafil. "Hm. Jadi sempit kan tempat tidur Kakak kalau kamu ikutan disini." Ucap Abi mengacak acak rambut anaknya. "Biarkan Bi." Jawab Karin sambil tersenyum.


__ADS_2