Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Mengungkapkan


__ADS_3

"Mau kemana Bell?" Tanya Ansel dengan suara baritonnya menghentikan langkah Bella untuk menuju pintu utama. "Mau jalan jalan ke Mall sama Karin. Bella sudah janji mau jemput dia." Jawab gadis itu. "Daddy antar. Daddy temani kalian." Ucap Ansel membuat putrinya membulatkan mata. Ia mulai merengek keberatan dengan apa yang di katakan pria matang itu. Apa jadinya? Mereka kan ingin jalan berdua seperti remaja di luar sana. Kenapa Daddy nya ikut ikutan sih? Tidak seperti biasanya Ia kemana mana tidak di permasalahkan. "Daddy kenapa ikut ikutan sih. Daddy dah tua. Ini hang out nya anak muda. Nggak mau ah." Keluh Bella sembari menghentakkan kakinya. "Yasudah. Jangan pergi." Tegas Ansel meninggalkan putrinya.


Bella dan Ansel dalam perjalanan ke rumah Karin. Gadis itu terpaksa mengizinkan Daddy nya ikut daripada tidak jadi pergi karena sudah janji dengan sahabatnya. "Ini rumah Karin?" Tanya Pria itu berhenti di sebuah gerbang menjulang tinggi. "Ya. Sebentar lagi Karin keluar." Jawab Bella jutek sambil turun dari mobil.


"Karin." Pekik Bella langsung memeluk sahabatnya. "Hy. Ayo berangkat." Ajak gadis itu. "Oh Om." Karina tersenyum ramah saat Ansel turun dari mobil. "Hy Karin. Om gabung boleh kan?" Tanyanya di jawab anggukan. "Maafin Daddy aku yang lagi rewel ya. Dia emang nyebelin." Cerocos Bella segera mengajak Karina masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ansel hanya mendengarkan dua gadis yang sibuk bercengkrama di jok belakang dengan suara Bella yang mendominasi. "Aku mau beli make up. Sudah remaja juga harus tau caranya dandan." Ucap gadis itu membuat Daddy nya berdecak. "Kamu masih sekolah nggak usah pakai make up. Lihat Karin nggak dandan juga sudah cantik." Sahut Ansel memperhatikan wajah cantik karina dari spion tengah. "Karin kan memang cantik dari orok. Bada sama Bella." Jawabnya masih dongkol dengan sang Daddy. "Semua perempuan itu cantik Bell." Karina menepuk pundak sahabatnya.


Sampai di Mall mereka berkeliling. Bella selalu menarik tangan Karin untuk di mintai pertimbangan saat membeli sesuatu. "Bagus nggak?" Tanya Gadis itu menempelkan dress selutut di tubuhnya. "Kamu sudah beli warna biru tadi. Yang ini bagus. Bagian punggung juga tertutup." Karin memberi saran. "Okey. Kamu emang the best Rin coba kalau sama Daddy pasti hm aja jawabnya." Celoteh gadis itu. "Kamu nggak beli apa apa Rin?" Tanya Ansel membiarkan anaknya memilih yang disuka. "Baju Karin masih banyak Om." Jawabnya sambil mengulas senyum.


Ketiganya duduk bersama dengan hidangan yang sudah tersaji di meja. "Om tidak makan?" Tanya Karin melihat Daddy sahabatnya hanya minum cappucino. "Om masih kenyang. Kalian saja." Jawab Ansel. "Daddy mana mau makan burger. Dia makannya sehat sehat." Celetuk Bella sambil mengunyah. "Comot begini." Ucap Karin membersihkan sudut bibir sahabatnya. "Karin. Boleh Om tanya sesuatu?" Gadis itu mengangguk. "Kata Bella kamu banyak yang melamar ya?" Tanya Ansel lagi lagi di jawab anggukan. "Lalu kapan mau menikah?" Karina menggeleng. "Karin belum siap Om. Masih pengen merintis karir dulu. Lagipula belum ada yang cocok." Jawabnya. "Kriteria kamu seperti apa sih Rin?" Kini Bella yang ingin tau. "Yang pasti baik dan agamanya juga bagus itu cukup."

__ADS_1


Ansel dan Karin sedang menunggu Bella yang masih di toilet. "Karin. Om mau bilang sesuatu ke kamu." Ucap Pria itu dengan nada yang serius. "Apa Om?" Tanyanya. "Bagaimana kalau Om menyukaimu?" Kalimat yang dikatakan Ansel mampu membuat Karina membeku. "Maksud Om?" Tanyanya meminta penjelasan. "Sejak pertama kali bertemu dengan kamu Om sudah tertarik. Setiap hari Om memikirkan kamu. Semua yang Om lakukan hanya untuk bisa dekat dengan kamu. Seperti sekarang ini. Alasan Om meminta kamu untuk mengajari Bella hanya sebuah alibi agar Om bisa ketemu kamu. Karin, Om serius mencintai kamu. Maukah kamu menerima Om?" Karina tidak bisa berkata apa apa. Lidahnya kelu tak tau harus memberikan jawaban apa pada Daddy sahabatnya itu. "Om pasti salah." Itulah kalimat yang akhirnya keluar. "Tidak Karin. Om tidak pernah salah dengan perasaan Om. Maukah kamu menerima Om? Om akan lamar ke orang tua kamu." Dengan penuh ketegasan Ansel mengungkapkan. "Maaf Om. Karina tidak bisa." Jawabnya pelan. "Kenapa? Apa karna umur? Agama atau apa? Memang agama aku tidak bagus. Tapi aku bisa belajar." Karin tetap menggeleng. "Karina pulang duluan Om." Hendak beranjak tangannya di cekal oleh Ansel. "Lepaskan Om." Ucapnya. "Akan aku lepaskan tapi tetap disini. Kamu mau Bella curiga." Ancamnya membuat Karin mau tidak mau hanya bisa menuruti.


"Karin kenapa diam saja ya?" Ucap Bella ketika sampai di rumah. Ia heran dengan sahabatnya yang tiba tiba menjadi pendiam. "Mungkin capek dengerin mulut kamu yang terus mengoceh." Jawab Ansel bergegas pergi ke kamarnya.


Hembusan napas lolos dari bibir seorang pria membawa aroma wine yang beberapa saat lalu di teguknya. "Aku sudah mengungkapkan tapi kamu tidak menerima. Aku akan berusaha tapi jangan salahkan aku untuk memakai rencana selanjutnya jika menolakku lagi. Kamu milikku Karina." Lirihnya sembari mengepalkan tangan sambil menatap tajam

__ADS_1


__ADS_2