Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kesalahan Ansel


__ADS_3

Seperti kegiatan Ibu rumah tangga pada umumnya. Pagi pagi Karin sudah menyiapkan sarapan sembari menggendong Isam yang sudah mandi. "Kan sudah bilang jangan siapkan sarapan. Jangan masak. Kamu tuh kecapean Mom." Ucap Ansel memeluk dan mencium istri tercinta. "Capeknya kan kemarin. Sekarang sudah tidak." Jawab Karin membuat suaminya menghela napas. Pria itu kemudian duduk di kursi menikmati susu yang masih hangat.


Karin menyiapkan sarapan suaminya yang beda karena pria itu sedang menjalankan diet yang katanya sebagai program untuk membentuk otot otot agar terlihat muda. Ansel hanya minum susu berprotein tinggi, dada ayam kukus, sayur dan juga buah. Pria itu benar benar menghindari karbohidrat dan lemak. "Apa nggak eneg makan begitu?" Tanya Karin melihat suaminya makan tanpa ada bumbu apapun. "Enggak. Malah enak banget. Kan yang bikin istri tercinta." Jawabnya sambil tersenyum. "Pagi pagi sudah gombal. Basi Dad." Jawab wanita itu kembali fokus menyuapi Isam. "Hm... Punya istri cuek banget." Keluh Ansel sambil menghela napas. "Kamu mending pakai baby sitter deh Mom. Kalau begini terus capek kamu. Mau makan mau apa juga susah karna Isam nempel terus." Lanjutnya memberi saran siapa tau kali ini Karin menerima. "Enggak. Memang jadi Ibu ya begini. Jangan berlebihan." Ansel pasrah. Ia tak ingin memaksa Karin yang ingin membesarkan putranya tanpa campur tangan orang lain.


"Hari ini Mom nggak ikut Daddy ke kantor kan?" Tanya Bella sembari mengunyah makanannya. "Enggak." Jawab Karin telah selesai menyuapi putranya. "Mom." Isam menggerakkan tangannya minta di gendong. "Mom belum makan Nak." Tegur Ansel kemudian menyuapi istrinya. "Sini." Karin segera memangku putranya. "Mau jeruk?" Ia menawari kemudian mengupaskan untuk Isam. "Asem ya." Bella tertawa melihat adiknya memejamkan mata. "Ini manis sayang. Jangan bohongi Mom." Karin menggelitiki perut bayi tampan itu sampai tertawa.

__ADS_1


Setelah suaminya berangkat Karin langsung menghampiri Bella di ruang tengah untuk segera memulai pelajaran. Gadis itu masih dalam masa skorsing jadi Karin mendisiplinkan Bella untuk belajar dengan giat. Pertama Ia menjelaskan dengan detail cara mengerjakan dan memberikan beberapa contoh. "Gimana sudah mudeng?" Tanya Karin. "Belum yang terakhir itu. Susah Mom." Jawabnya kemudian Sang Ibu mengulangi lagi sampai Bella benar benar paham.


Karin kembali lagi menghampiri Bella setelah selesai dari ruang kerja suaminya. "Kerjakan ini. Waktunya satu jam. Nanti aku koreksi." Ucap Wanita itu memberikan lembaran lembaran soal yang baru saja Ia print kemudian menyalakan stop watch. "Oke." Jawab Bella bergegas mengerjakan.


"Iya sayang. Ayo ke Mom. Sini." Ucap Karin menyemangati Isam yang jalan tertatih menghampirinya. "Pinternya." Karin memeluk lalu menciumi Bayi tampan yang berhasil sampai di depannya. "Mommy." Ucap Isam begitu jelas dan lengkap membuat Karin bahagia. "Panggil Mom lagi sayang. Panggil Mommy lagi." Karin menggendong putranya dibawa untuk melihat Bella lagi.

__ADS_1


Sore Ansel sedang duduk menemani istri dan anaknya di taman belakang. "Dad tolong jagain sebentar ya. Aku mau ambil makannya Isam dulu." Ucap Karin sembari meletakkan anaknya di atas tikar. "Iya." Jawab Ansel ikut duduk dibawah.


Beberapa saat berlalu Karin kembali. Wanita itu celingukan kesana kemari mencari keberadaan anak dan suaminya. "Astagfirullah Isam." Karin panik melihat anaknya mendekati kolam renang dan akhirnya tercebur beberapa detik kemudian.


"Saya bangun." Karin dengan panik mencoba memberikan napas buatan. "Mom Isam." Ansel baru datang ikut terkejut. Ia telah ceroboh karena mementingkan panggilan telpon dan melalaikan tugas menjaga sang buah hati. Tak memperdulikan suami Karin menggendong putranya dengan langkah terburu buru dan air mata yang sudah mengalir deras untuk segera ke rumah sakit.

__ADS_1


Semua keluarga sedang menunggu Isam yang masih di tangani dokter. Ansel hanya diam tak bisa berkata apa apa. Pria itu baru saja mendapat makian dan pukulan dari Kakek istrinya. "Ganti baju dulu Nak." Tegur Umi karena Karin masih mengenakan pakaiannya yang basah tadi. "Isam Mi. Dia baru saja bisa panggil aku dengan jelas dan sekarang seperti ini." Karin menangis lagi setelah beberapa saat diam. "Isam akan baik baik saja. Dia anak yang kuat seperti Ibunya." Abi ikut menenangkan.


"Maaf." Ansel menghampiri istrinya. Karin tidak bisa lagi menahan diri. Wanita itu berbalik menatap suaminya dengan tajam. "Kalau saja kamu tidak ceroboh anakku tidak akan seperti ini. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Isamku maka kamu adalah orang pertama yang akan aku benci." Jawab Karin memalingkan wajahnya dari suami.


__ADS_2