
Semua keluarga begitu bahagia dengan kehadiran anggota baru di keluarga. Bayi cantik yang baru berusia beberapa bulan itu bernama Basafa Chasida Morino Shahab. Nama yang diberikan Karin untuk putrinya yang tentu mengandung doa dan harapan baik.
Ngomong ngomong tentang Abrisam. Bocah tampan itu sangat menyayangi adiknya. Di awal awal memang Ia enggan mendekat seakan tidak terima. Pikirannya seperti sang Ayah. Isam takut jika perhatian Mommy nya hanya tertuju pada adik. Namun perlahan laham Ia mulai mengerti. Ibunya tetap seperti dulu yang selalu menyayanginya dan tidak berubah sama sekali.
Karin telah memastikan putrinya tidur setelah minum ASI. Wanita itu meletakkan Safa di box kemudian bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan untuk menemui anak dan suaminya yang tadi sempat bersitegang.
'Belum selesai juga.' Karin bermonolog di dalam hati. Wanita itu berhenti di depan pintu ruang keluarga yang sedikit terbuka. Dengan jelas Ia mendengar suaminya sedang marah marah. Pria itu mengungkit Bella yang selalu mengulang mata kuliah dan belum skripsi juga padahal normalnya gadis itu seharusnya sudah lulus sekarang. Karin tampak menghela napas. Entah faktor kemampuan atau apa Ia juga tak paham bagaimana Bella bisa begitu. Saat Ia ngobrol berkali kali dengan putrinya yang sama usia dengannya itu mengatakan jika mungkin salah jurusan. Nah... Karin sekarang dilanda bingung. Padahal Bella yang memilih sendiri dan ngotot pengen ambil jurusan itu. Ia juga mendukungnya namun tidak dengan Ansel yang mengatakan jika Bella tidak cocok dengan apa yang diinginkan. Dan sekarang perkataan Pria itu nyata adanya. Jika sudah begini Bella tak bisa berkutik kecuali terus berusaha untuk memperbaiki semuanya.
__ADS_1
Ansel tak menurunkan nada suaranya bahkan saat ini Karin sudah berjalan mendekat. Ia tak bisa lagi menahan kekesalannya kepada sang anak. "Kenapa nggak duduk? Kalau emosi kan sudah aku bilang untuk duduk." Ucap Karin mengusap lengan suaminya berharap pria itu tenang. Ansel menghela napas Ia merengkuh tubuh wanita cantik itu hingga masuk ke pelukannya. Karin mengusap punggung suaminya membuat Ansel merasa tenang. Beberapa saat berlalu Ia mengajak sang suami untuk duduk bersama Bella yang sedaritadi belum mengangkat pandangannya. Mungkin gadis itu takut sedaritadi dimarahi. Ia tau ketika Ansel sedang mengomel Pria itu bisa mengingat kesalahan dengan sangat baik dan mengungkit pada saat itu juga.
"Sudah tenang?" Tanya Karin. Ansel mengangguk sambil masih menggenggam tangan istrinya. Deru napas pria itu sudah tenang dan teratur menandakan emosi Ansel sudah benar benar turun. "Sekarang bicara baik baik coba. Dan Bella..." Karin beralih menatap putri sambungnya. "Coba jelaskan sama Daddy kamu maunya bagaimana." Gadis itu menatap Ibunya. Orang yang tak terhitung berapa kali menyelamatkan Ia dari amukan sang Ayah. "Bella mau lanjut kuliah terus. Bella akan tanggung jawab dan tuntaskan semua mata kuliah yang mengulang." Lirihnya memohon karena Sang Daddy sempat menyuruhnya untuk berhenti kuliah tadi. "Janji ya.... Jangan kecewakan Daddy mu yang sudah kerja keras untuk biayai kamu kuliah. Sekarang minta maaf." Bella mengangguk. Ia memeluk dan mencium Ibunya sebagai rasa sayang dan terimakasih.
Ansel menatap putrinya yang kini sudah duduk di tengah memisahkan Ia dengan sang istri. "Dad. Bella minta maaf. Bella mau tetap kuliah dan akan selesaikan semuanya. Bella janji Bella akan berusaha untuk perbaiki nilai." Ungkapnya sambil mencium tangan Ansel. Pria itu menghela napas kemudian memeluk putrinya dengan sayang. "Jangan kecewakan Daddy." Meskipun Ia tau otak putrinya tidaklah pintar namun Ansel berharap Bella bisa meraih gelar sarjananya. Beda keadaan saat dulu gadis itu masih SMA mendapat bimbingan dari Karin hingga nilainya baik. Namun sekarang sudah di bangku kuliah sudah bukan ranah Karin lagi karena jurusan yang diambil Bella berbeda dengan jurusan Ibunya dulu. Sedikit paham namun Karin tak berani mengatakan ini itu karena takut keliru.
Ansel tersenyum memeluk istrinya dengan hangat. Ia sagat bahagia dan bersyukur mendapat kehidupan yang begitu sempurna. Istri, keluarga dan segala kesehatan yang telah tuhan berikan Ia berterimakasih tentang semua itu. Awal lika liku kehidupan sudah Ia lalui. Dari jalur kelam hingga sekarang terang benderang berkat sang Istri. Ia tak menyangka sesuatu yang didapatkan dengan cara yang tak biasa bertahan dan membahagiakannya. Kehidupan Ansel sudah terasa sangat lengkap. Pria itu merasa tak kekurangan suatu apapun. Cinta dan kasih sayang Karina begitu membuatnya menjadi manusia paling beruntung di muka bumi. "I LOVE YOU." Ucapnya tiba tiba mengecup pipi Karin tanpa malu di depan semua orang. "Dasar Bucin." Gerutu Kakek membuat semuanya tertawa.
__ADS_1
Note :
Terimakasih sudah baca sampai akhir. Sesuai dengan keinginan mayoritas pembaca semuanya happy ending. Biar pada seneng dan bisa tidur nyenyak wkwk...
Mau tanya nih...
Kalau bikin novel lagi kira kira genrenya apa ya?????
__ADS_1
Jika ada saran silahkan komen🤗🤗🤗