Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Hari Pertama Tanpa Karin


__ADS_3

Semuanya tampak diam larut dalam kesedihan. Mereka sedang duduk tak saling mengobrol setelah mengantar Karin dari bandara dan wanita itu sudah berangkat seperempat jam yang lalu. "Aku ke kamar dulu." Ucap Ansel kemudian diikuti yang lain mengundurkan diri satu persatu.


Di dalam sebuah pesawat pribadi yang tengah mengudara tiga orang terlihat sedang duduk bersama sambil menikmati makanan. "Kenapa Abi dan Umi tidak boleh ikut kek?" Tanya Kafil. "Kakek sedang menghukum mereka." Jawab Pria paruh baya itu sembari menyuapkan potongan buah ke dalam mulut Karina. "Apa kamu mencintai suamimu sayang?" Lanjutnya menanyakan hal yang Karin sendiri tidak tau jawabannya. "Sedang dalam proses. Bagaimanapun dia sudah menjadi suamiku Kek." Yardan tampak menghela napas mendengar jawaban cucu kesayangannya. Mencintai suami adalah kewajiban. Namun entah kenapa Ia tak senang mendengarnya. "Kakak harusnya bisa dapat yang lebih baik." Celetuk Kafil. Membuat dua orang yang baru berhenti berbalas kalimat itu menatapnya. "Memang benar kan." Lanjut remaja itu.

__ADS_1


Malam hari Karin telah sampai di rumah Kakeknya. Mereka langsung di sambut ramah oleh para pelayan. "Kamar sudah siap?" Tanya Kakek memastikan. "Sudah Tuan." Jawab mereka. "Kalian istirahat dulu. Terutama Kamu sayang. Kamu sedang hamil. Nanti akan ada pelayan yang mengantarkan makanan." Karin dan Kafil mengangguk. Keduanya lalu bergegas pergi setelah mendapat kecupan dari pria paruh baya itu.


Karin baru saja selesai mandi. Wanita itu sedang duduk nyaman bersandar di headboard ranjang. "Permisi Nona. Kami mengantarkan makan." Ucap beberapa pelayan kemudian meletakkan berbagai menu di atas meja. "Terimakasih." Jawab Wanita hamil itu sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Kakak." Panggil Kafil memasuki kamar Kakaknya. "Hey. Ada apa?" Tanya Wanita itu sembari melahap makanannya. "Mau tidur sama Kakak." Jawabnya ikut duduk. "Kamu sudah makan?" Remaja itu mengangguk. "Kakak selesaikan ini dulu setelah itu tidur." Ucap Karin.


Ansel baru saja selesai meeting. Pria itu mencoba menghubungi istrinya lagi karena dari semalam setelah Ia mendapat pesan sampai sekarang mencoba namun tidak diangkat. "Assalamualaikum Dad." Suara merdu wanita cantik dari sebrang sana membuat hati Ansel menghangat. "Waalaikumsalam. Kamu baik baik saja kan sayang?" Tanyanya. "Baik. Alhamdulillah. Daddy bagaimana?" Karin bertanya balik. "Kurang baik karna kamu tidak ada." Jawab Ansel menampilkan wajah sedihnya lagi setelah beberapa saat tersenyum. "Sudah sarapan?" Karin mengalihkan pembicaraan. "Malas sarapan. Tidak ada yang enak." Ansel berkata jujur. "Jangan begitu dong. Harus sarapan. Makan seadanya saja. Bibi kan sudah pulang. Pasti juga masak." Celoteh Karina. "Memang masak. Tapi tidak seperti masakanmu." Jawab Ansel sembari meletakkan kepalanya di atas meja. "Hari ini kamu mau berkegiatan apa Yang?" Karin tampak berjalan lalu berhenti. "Mau ke perkebunan kurma sama Kakek. Aku mandi dulu ya Dad. Aku tutup dulu." Jawabnya namun Ansel menolak. "Mandi saja jangan dimatikan." Karin seketika menggeleng. "Sudah dulu. Assalamualaikum." Ia segera mengakhiri panggilan video yang sudah berlangsung cukup lama.

__ADS_1


Jordan memasuki ruangan sepupunya. "Huft." Pria itu menghela napas kemudian menjatuhkan tubuh kekarnya untuk tiduran di sofa. "Karin belum bisa di hubungi?" Tanyanya. Ansel tak bereaksi. Ia kemudian berdiri dari duduk kemudian ikut bergabung bersama sepupunya. "Sudah." Jawabnya malas. "Bagus dong. Kenapa masih manyun begitu?" Ansel menggeleng. "Sampai kapan dia disana." Gerutunya. Jordan yang mendengar itu seketika langsung duduk. "Jangan jangan memang sengaja diajak kesana terus nggak dipulangkan." Jordan menakut nakuti. "Jangan sembarangan." Ansel yang tak terima menonjok lengan sepupunya. "Apa maksudmu bicara begitu?" Kesalnya mendengar ucapan yang sembarangan. "Kan aku cuman mengira. Melihat betapa bencinya kakek Karin padamu kan tidak ada salahnya berpikir demikian." Jawab Jordan. Ansel terdiam. Perlahan Ia melepaskan tangan dari lengan pria di sampingnya. Pikiran mulai kacau di penuhi dengan dugaan dugaan seperti apa yang dikatakan sepupunya tadi. "Eh. Aku salah bicara ya." Jordan merasa tidak enak melihat perubahan sepupunya. "Tidak. Kau memang benar. Tidak merestui hubungan kami dan berkali kali ingin memisahkan kami. Tak heran jika kau berpikir begitu." Jawab Ansel kemudian menceritakan percakapan mertua dan Kakek Kakek Karin yang sempat Ia dengar saat hari lebaran. Kala itu Ansel hendak pergi namun Ia urungkan karena mendengar Abi yang mencoba menuturi Kakek karena bersikap dingin dan acuh kepadanya. "Semoga semuanya membaik." Ucap Jordan memberikan support.


__ADS_2