
Karin sedang menemani suaminya di kantor. Wanita itu masih menunggu Ansel selesai meeting. "Kakak." Shiena memasuki ruangan langsung memeluk Karina. "Hy. Shie sama siapa?" Tanyanya sambil membalas pelukan gadis itu. "Sama Aku. Ansel mana? Jawab Jordan sekaligus bertanya "Masih meeting. Sebentar lagi pasti selesai." Jawab Karin mengajak Shie untuk duduk di sofa yang tak jauh dari sepupu suaminya.
Ansel baru kembali ke ruangannya. Pria itu berhambur memeluk istrinya mengabaikan Pria yang sedang duduk santai. "Begitu cara menyambut sepupu?" Tanya Jordan membuat Ansel berdecak. "Harus disambut bagaimana?" Tanyanya sambil melengos. "Di sapa atau bagaimana begitu. Masa di diemin." Jawabnya sambil menyandarkan punggung di sofa. "Mau ngapain?" Jordan menggeleng. "Shie mau ketemu Karin. Tadi dirumah nggak ada jadi langsung kesini." Shie yang masih nyaman dalam pelukan Karina mendongak. "Kakak puasa?" Tanyanya di jawab anggukan. "Shie sama Papa juga puasa." Lanjutnya. "Bagus. Puasa yang rajin ya." Tutur Karin dengan lembut.
__ADS_1
"Kak Ansel." Panggil Jordan. "Hm." Jawab Pria itu sambil memincingkan mata karena panggilan sepupunya yang tidak biasa. Otak cerdas Ansel tak perlu berpikir keras. Pasti ada maunya di balik sikap Jordan yang demikian. "Mau apa?" Tanya Ansel to the point tak ingin berbasa basi. "Hehe dirumah sangat sepi. Kamu tau sendiri kan aku hanya hidup sama Shie saja. Jadi aku mau dirumahmu. Boleh kan?" Tanyanya. Ansel menatap istrinya. Ia sedikit was was jika kepunyaannya digoda oleh Jordan. Namun di sisi lain Ia juga percaya jika sepupunya itu sudah berubah jadi tidak mungkin mengusik. Hidup Jordan lebih berat darinya. Pria itu bahkan harus selalu membawa putrinya bekerja karena mantan istri lebih memilih pergi dengan sang pacar saat Shie masih berusia 2 bulan. Jordan juga dijodohkan sama sepertinya. Pria itu malah dituntut untuk menghadirkan keturunan yang saat Shie lahir malah tidak diterima keluarga karna perempuan yang sebenarnya orang tua Jordan ingin cucu laki laki. "Hm baiklah." Jawab Ansel pada akhirnya.
"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah sembari menggandeng tangan Shiena. "Waalaikumsalam." Jawab Bella pelan. "Kenapa lemes begitu?" Tanya Karin ikut duduk di sofa. "Hari ini panas banget. Haus Mom." Keluhnya. "Shie tidak kepanasan dan merasa haus." Sahut gadis itu. "Masa kamu kalah." Karin tertawa kecil. "Mandi dulu biar seger terus istirahat lagi." Ucap Karin meninggalkan putrinya untuk mengantar Shie ke kamar agar gadis kecil itu bisa ganti baju dan bersih bersih.
__ADS_1
Ansel baru selesai mandi menghampiri Jordan yang mengintip di pintu kamar tamu. "Sedang apa kau? Mengintip istriku ya?" Tanya Ansel. Jordan mendesis. Pria itu menutup kembali pintu tanpa bersuara. "Sedang apa kau?" Tanyanya lagi lalu Jordan menceritakan apa yang Ia lihat. "Tidak masalah kan? Kasihan Shie tidak mendapat kasih sayang Ibunya. Dia begitu ingin memiliki Ibu seperti anak yang lain. Kamu tau sendiri kan jika dia juga tidak diterima keluarga besar." Ansel menghela napas lalu mengangguk. Tak Ia pungkiri jika Ia juga iba dengan keponakannya itu. "Makasih. Kenapa kamu tidak dari dulu saja menikahi Karina. Jika iya kan aku nggak terlalu pusing karena Shie terus bersedih." Ansel berdecak. "Jika aku menikahnya sejak dulu istriku baru umur berapa?" Kesalnya berlalu pergi.
Karin sibuk di dapur memasak untuk buka puasa bersama kedua putrinya di bantu Bibi juga. "Bibi mudik kapan?" Tanya Karin. "Belum Izin Tuan Nyonya." Jawab Wanita berusia setengah abad itu. "Lebaran lebaran sebelumnya?" Mereka menggeleng. "Kami mudiknya selesai lebaran." Jawab mereka. "Wah sayang sekali melewatkan lebaran sama keluarga. Nanti biar aku yang minta izin." Ucap Karin tentu saja membuat mereka senang. Jika Nyonya sudah bicara pasti Tuan mereka hanya bisa menuruti.
__ADS_1
Setelah melaksanakan sholat magrib semuanya sudah berkumpul untuk buka puasa. Karin baru duduk setelah mengambilkan makan untuk semua. Baru saja hendak mengambil sendok untuk makan Ia dikejutkan dengan panggilan video dari kakeknya. Karin segera mengangkat lalu mengucapkan salam. Ansel dan Bella sudah paham siapa yang menelpon jika Karin menggunakan bahasa tersebut. "Hafidi aleaziz kayf haluk? (Cucuku tersayang bagaimana kabarmu?)" Tanya pria paruh baya dari sebrang sana. "alhamd lilah bikhayrin. akhi kayf haluk? (Alhamdulillah baik. Kakek bagaimana kabarnya?" Karina bertanya balik. Ansel tak tahan lagi. Biarlah Ia dianggap cucu menantu yang durhaka namun karena si tua itu terus mengajak mengobrol jadi istrinya tidak sempat makan. Karin hanya makan kurma dan minum air putih sejak tadi. "Sambil makan." Ucap Ansel mulai menyuapi istrinya tak mau wanita hamil itu kelaparan.