
satu tahun berlalu. Ansel di buat pusing dengan putranya yang begitu dingin namun juga manja hanya dengan Ibunya saja. Tatapan dan tingkahnya sama seperti sang Ayah dengan paras menurun dari Ibu. Doa Ansel meleset. Saat Isam masih bayi bahkan masih dalam kandungan Ia selalu berdoa agar anaknya itu menuruni sikap kalem dan lemah lebut dari Ibunya. Namun semua hanya doa dan belum terkabul. Semakin kesini Isam memiliki kecenderungan menuruni sikap Ayah. Posesif, dingin dan manja hanya pada Karina seorang.
Lalu bagaimana dengan Bella? Gadis itu kini sudah semester 2. Beberapa kali juga Ia mengulang mata kuliah karena nilainya kurang lalu diomeli Ansel habis habisan membuat Karin merasa kasihan. Suaminya selalu menyalahkan karena Bella mengambil jurusan yang menurut pria itu tidak relate sekali dengan kemampuan otak sang anak. Kata kata pedas yang keluar dari mulut Ansel membuat Karin ketar ketir.
__ADS_1
"Sudah Dad." Karin mencoba menenangkan suaminya yang sedang mengomeli Bella. Bukan masalah kuliah kali ini. Namun karena masalah mobil kesayangan pria berusia 45 tahun itu yang lecet karena kecerobohan putrinya. "Daddy sudah bilang jangan pakai mobil Daddy. Kenapa kamu ngeyel. Lecet begitu kamu mau tanggung jawab?" Ansel berkacak pinggang menatap Bella yang sedang duduk sambil menunduk. "Dad sudah lah." Karin mengusap lengan suaminya berharap pria itu berhenti. "Dia keterlaluan. Lihat semua ulahnya. Oh iya, Daddy juga dapat laporan dari kartu yang dia pakai. Belanja apa kamu Bel? Dalam seminggu ini kamu habis berapa juta? Daddy sita kartu kamu. Kemarikan." Ucap Ansel merembet ke topik lain. Pria itu kesal karna anaknya suka sekali shoping.
Bella menatap Daddynya tak percaya. Kartunya akan disita? Yang benar saja. Bagaimana Ia memenuhi kebutuhannya? Benda kotak seukuran KTP itu sangat berharga baginya. Demi apapun Bella tak rela. "Jangan Dad. Bella akan hemat." Ucapnya meminta belas kasih. "Nggak. Kemarikan. Mulai sekarang hanya uang cash yang kamu pegang." Tegas Ansel merebut tas anaknya. Ia membuka dompet putrinya lalu mengambil kartu berwarna gold itu. "Nggak ada lagi shoping atau apalah itu. Tas, baju dan sepatu kamu Daddy rasa sudah sangat banyak." Kesal Ansel berlalu pergi.
__ADS_1
"Mom." Bella mengadu seakan meminta bantuan. "Kamu tau Daddy kamu bagaimana Bell. Untuk yang satu ini aku tidak bisa membantu." Jawab Karin membalas pelukan putri sambungnya. Menurut Karin ini hal yang biasa. Jika tanpa kartu pun semua kebutuhan sudah tercukupi. Namun bagi anaknya tentu ini suatu yang berat. Terbiasa belanja dan boros jika tidak ada sumbernya maka akan tersiksa.
Dan pada akhirnya Ansel mengajak keluarga ke pantai. "Katanya mau jalan jalan ke pantai kenapa sekarang minta di gendong Mom terus nggak mau turun." Ucap Ansel. "Turun yuk sama Kakak. Kasihan Mom keberatan tuh." Ajak Bella yang berjalan di samping Ibunya. "Gamau. Mau sama Mommy." Tolak Isam sambil mengeratkan pelukan. Ansel menghela napas melihat tingkah putranya yang begitu manja dan posesif.
__ADS_1
Isam baru mau turun saat diajak duduk di tikar menikmati angin sore di pantai yang begitu menyejukkan. "Sepi ya." Ucap Karin memandang ombak sambil di peluk suaminya. "Iya. Memang sepi." Jawab Ansel menyembunyikan fakta bahwa dia telah menyewa tempat ini agar nyaman. Ia merahasiakannya dari sang istri karena jika tahu Karin pasti akan mengomel karena buang buang uang. "Isam harus tidur sendiri karna sudah besar. Jangan tidur sama Mommy dan Daddy terus." Tegur Ansel. "Mau sama Mom." Jawabnya sambil makan biskuit sebungkus bersama Bella. "Heh... Isam kan laki laki. Harus tidur sendiri. Dulu Daddy seumur kamu tidur sendiri. Kak Bella juga begitu." Bella mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Ayahnya karena memang itu fakta. "Mom sudah besar tidur sama Daddy." Isam menatap sang Ayah meminta penjelasan. "Mom kan Istrinya Daddy." Jawab Ansel. "Mommy. Istri itu apa?" Karin menghela napas. Anaknya selalu menanyakan hal hal yang baru di dengar. Rasa ingin tahunya sangat besar hingga kadang Ia kewalahan. Wanita itu tersenyum kemudian memeluk putranya. "Istri itu teman hidup. Lihat sayang langitnya berwarna jingga." Karin memangku putranya mengajak bocah tampan itu menikmati senja sebelum muncul pertanyaan selanjutnya
.
__ADS_1