Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Tidak Salah Pilih


__ADS_3

Aslan terbangun dari tidurnya. Seperti biasa pria itu sudah tak mendapati istrinya dalam pelukan karena memang terbiasa bangun subuh sekitar pukul 4 lalu sholat dan menyiapkan segala keperluan suami. Pria menggeliat sebentar kemudian segera mendudukkan diri sambil bersandar di headboard ranjang. Setelah beberapa saat termenung Ia turun lalu melangkahkan kaki menuju walk in closet. Disana pakaian kantornya sudah di siapkan dengan baik oleh sang istri lengkap dengan sepatu dan jam tangan juga. Ansel meraih catatan kecil yang menempel di lemari. "Aku ke rumah Umi." Gumamnya membaca pesan singkat yang di tinggalkan oleh istri.


Bella menghampiri Daddy nya yang sudah siap di ruang makan. Ia langsung duduk dan memakan sarapan yang di buatkan oleh Mommy nya. Bella sudah hafal dengan situasi seperti ini. Karin pasti tidak akan bergabung untuk makan bersama selama apapun mereka menunggu. "Permisi." Ucap Bibi menghampiri majikannya yang sedang menyantap hidangan. "Ada apa?" Tanya Ansel tetap fokus ke makanannya. "Nyonya tadi bilang ini bekal untuk Tuan dan Nona karena hari ini akan pulang agak telat." Ucap wanita itu meletakkan dua paper bag diatas meja.


Keduanya merasa senang mendapat perhatian dari Karin. Namun di sisi lain juga tidak nyaman dengan hubungan yang tidak kian membaik. "Sudah selesai Bell?" Tanya Ansel membuyarkan lamunan anak gadisnya. "Sudah." Jawab Bella cepat. "Ayo berangkat." Ia membawa bekal miliknya kemudian segera melangkah pergi diikuti Bella di belakang.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Ucap Karin saat memasuki rumahnya. "Waalaikumsalam Sayang." Jawab Umi memeluk putrinya lalu mengajak duduk bersama di sofa. "Kamu sudah sarapan?" Tanya Umi. "Belum Umi. Karin pengen nasi uduk." Jawabnya sambil tersenyum.


Umi memandangi putrinya yang sedang makan dengan lahap. Dadanya terasa sesak memikirkan cobaan yang dialami Karin begitu berat. Ia tak menyangka berlian yang di jaga begitu hati hati oleh keluarga akan berakhir seperti ini karena keegoisan pria yang kini telah menjadi menantunya. Namun nasi telah menjadi bubur. Semuanya tak bisa diulangi kembali. Takdir tak bisa dihindari dan mungkin ini yang terbaik. Umi hanya bisa berprasangka positif. Kedepannya Ia juga berharap semuanya membaik.


"Mbak sudah izin suami?" Tanya Umi menggenggam tangan Putri tercinta. Karin tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya. "Mbak inget kata kata Umi kan kalau Mbak sekarang sudah jadi istri dan harus bersikap baik pada suami." Karin menangis mendengar penuturan sang Ibu karena Ia tak menjalankan amanat itu. "Maaf Umi." Ucapnya. "Karin masih belum bisa. Karin masih butuh waktu. Semuanya begitu berat untuk Karin. Ini bukan yang Karin mau." Umi memeluk dan mengusap punggung putrinya. Ia maklum dan bisa mengerti apa yang dirasakan Karina saat ini. Tidak mudah bagi gadis kecil yang baru saja akan mulai menikmati masa remajanya harus dihadapkan dengan problem kehidupan yang begitu pelik.

__ADS_1


Ia memutar knop perlahan agar tidak menganggu. Dilihatnya Karin sedang melantunkan ayat suci sembari menghadap ke jendela yang terbuka lebar. "Mom." Bella tak tahan lagi langsung duduk bersimpuh sambil menangis memeluk kaki Karina. "Bella." Ia terkejut kemudian melepaskan tangan gadis itu lalu ikut duduk di bawah memeluknya. "Maaf. Jangan seperti ini. Aku tidak bisa." Ucapnya sambil sesenggukan. "Maafkan Daddy. Dia memang bersalah tapi jangan seperti ini." Lanjutnya lagi. Karin tak bisa berbuat apa apa selain menenangkan sambil mengusap punggung Bella. Ia melepaskan pelukan kemudian mengusap air mata sahabat yang kini telah menjadi anak tirinya itu.


"Minum dulu." Ucap Karin setelah membawa Bella duduk di sofa. "Bella rindu Mommy yang dulu. Jangan berubah. Bella mohon." Ia mengungkapkan isi hatinya. "Maaf." Ucap Karin sambil memberi pelukan. "Maaf aku egois dan membuatmu tidak nyaman. Aku hanya butuh waktu. Kamu tau, semua ini begitu tiba tiba dan mengejutkan." Ungkapnya sembari menahan air mata. "Bella mengerti." Jawab gadis itu mengusap punggung Ibunya.


"Sekarang mandi dan berganti baju." Karina tersenyum. "Dan setelah itu makan...?" Bella melanjutkan. "Bukannya tadi sudah makan bekal?" Tanya Karina sambil mengernyitkan keningnya. "Aku lapar lagi Mom." Ia tersenyum. "Baiklah akan aku masak." Gadis itu mengangguk semangat lalu mengecup kedua pipi Karin. "Teruslah tersenyum seperti ini." Ucap Bella. "Aku tidak salah pilih." Gumam Ansel yang sedaritadi memperhatikan keduanya di balik pintu.

__ADS_1


Karin menyajikan sepiring spaghetti untuk Bella. "Makasih Mom." Ucapnya langsung makan. "Hati hati masih panas." Tegur wanita itu. "Hanya satu?" Tanya Ansel yang baru datang. "Mau?" Ia mengangguk cepat merespon istrinya. Tak banyak bertanya Karin bergegas membuatkan spaghetti untuk sang suami.


"Apa enak?" Tanya Bella dan Ansel bersamaan melihat Karina makan Mie kuah buatan sendiri dengan toping sosis dan kerupuk udang yang begitu menggiurkan. Karina mengangguk sambil fokus makan. "Mau." Ucap keduanya bersamaan padahal spaghetti mereka baru saja habis membuat Wanita itu menatap anak dan suaminya heran. "Suapi." Lagi lagi ucapan mereka berbarengan saat Karin mendorong mangkuknya agar Ansel dan Bella mencicipi sendiri. Ia mengangguk kemudian menyuapi keduanya bergantian.


__ADS_2