Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Penderitaan Shie


__ADS_3

Karin sedang membantu suaminya bersiap setelah selesai mengurus anak anak.


"Nanti ke rumah Tante jam berapa?" Tanya wanita itu sembari memasangkan dasi sang suami.


"Sore deh."


"Kamu yakin mau datang? Apa nggak kerepotan nanti sama anak anak?"


"Kalau nggak datang nggak enak Dad. Mereka sering kesini tapi kitanya jarang kesana. Sesekali. Memang acara apa sih?"


"Anniversary pernikahan Tante."


"Daddy kok nggak bilang bilang. Aku belum beli apa apa."


"Gampang. Nanti biar aku suruh Jordan siapkan."


"Tuh kan nyebelin lagi. Masa iya kado buat Tante Om Jordan yang siapin. Nanti kita beli sendiri ya."


"Iya Sayang. Gemes liat kamu begitu." Ansel mengecup bibir istrinya.


Selesai mengurus suami Karin menyuapi putranya makan karena Safa tadi sudah makan dan minum ASI.


"Bell, Uang jajan kamu masih?" Tanya Karin karena anaknya sekarang menggunakan uang cash bukan kartu lagi. Semenjak saat itu semua fasilitas Bella termasuk mobil dan kartu Ansel tarik karena menurutnya Bella terlalu boros.


"Harus masih. Tiga hari lalu baru Daddy kasih. Tidak ada pengeluaran uang bensin dan shopping harusnya masih." Ansel yang menjawab pertanyaan istrinya.


"Masih Mom."


"Beneran?" Tanya Karin memastikan dan dijawab anggukan oleh gadis itu.


"Dad pulang nanti mampir di Bank ya."


"Mau ngapain?"


"Mau ambil uang cash. Ini waktunya gajian pegawai di toko."


"Nanti aku suruh orang saja. Repot kamu harus pergi ke Bank bawa anak anak sekalian." Jawab Ansel.


Para karyawan menyambut kedatangan bos dan keluarganya. Ansel tampak menggendong Isam sembari merangkul pinggang istrinya mesra berjalan mengabaikan para karyawan yang menyapa.


"Selamat pagi." Jawab Karin tersenyum ramah mewakili suaminya.


"Jangan senyum." Ucap Ansel saat sudah berada di lift.


"Jangan kumat lagi Dad."


"Memang tidak boleh. Senyuman kamu hanya untuk suami."

__ADS_1


"Daddy begitu."


"Terima saja. Jika tidak kan Daddy memaksa." Ansel terkekeh melihat ekspresi cemberut istrinya.


"Istirahat di dalam saja ya. Kalau butuh sesuatu aku di luar." Ansel mengecup kening anak anak dan istrinya bergantian kemudian bergegas pergi untuk menemui asistennya yang sedang menunggu.


"Adek mau jalan?" Tanya Isam membantu gadis kecil itu untu berdiri.


"Biar Mommy saja sayang. Mas Isam duduk sini." Ucap Karin memangku putranya.


"Mom." Satu kata keluar dari mulut Safa membuat karin tersenyum.


"Coba ucapkan lagi sayang."


"Mom.." Safa mengulangi lagi.


"Adek sudah bisa bicara." Isam memeluk adik perempuannya.


Sore hari Ansel baru selesai bersiap langsung menggendong putrinya untuk diajak bergabung bersama Bella yang menunggu di bawah.


"Mom."


"Hah.. Safa sudah bisa bicara?" Tanya Bella.


"Sudah." Jawab Isam.


"Wah... Sebentar lagi bisa jalan." Ansel menciumi perut bayi cantik itu hingga membuatnya tertawa.


"Maaf lama. Tadi masih cari peniti. Ayo berangkat." Ajaknya namun semua masih diam mengamati Karin yang begitu cantik.


"Kenapa bengong? Ayo berangkat."


"Iya. Mommy ku ini cantik sekali." Ucap Bella mencium pipi Ibunya.


"Ayo Mas Isam." Karin menggendong putranya.


"Cantik begini masih lajang atau sudah punya suami sih?" Ansel menggoda.


"Sudah punya suami dong."


"Siapa suaminya?"


"Pria galak yang di samping aku." Jawab Karin sambil tertawa kecil.


"Nakal ya. Minta di hukum." Ansel yang gemas langsung mencium bibir sang istri tak memperdulikan orang orang yang sedang memperhatikan.


"Ansel, Karin. Akhirnya kalian datang." Ucap Mama Jordan memeluk Karin dan suaminya bergantian.

__ADS_1


"Bella. Opa merindukanmu." Papa Jordan memberikan pelukan pada gadis yang sedang berdiri di samping Ayahnya itu.


"Opa bisa saja. Kita sering ketemu."Jawab Bella sambil tertawa kecil.


Semuanya duduk bersama di ruang keluarga tempat mereka merayakan Anniversary pernikahan Papa dan Mama Jordan. Tidak mengundang banyak tamu karena memang mereka hanya merayakan dengan keluarga saja.


"Terimakasih kadonya Karin. Kamu memang paling tau kesukaan Tante." Ucapnya saat membuka kado dari Istri keponakan.


"Sama sama Tante. Syukurlah jika sesuai dengan selera Tante." Jawab Karin yang sedang duduk mengobrol dengan Kakak Jordan.


"Kulit kamu selalu kenyal dan lembab begini. Perawatan di mana?" Tanya Jennie.


"Nggak perawatan sama sekali. Awas singkirkan tanganmu dari istriku." Ansel yang merasa risih dengan sepupunya itu mengajak Karin untuk pindah duduk.


"Cih... Dasar posesif." Gerutu Jennie.


Karin celingukan karena sedaritadi tidak melihat Shiena.


"Dad. Shie dimana?" Tanyanya pada sang suami.


"Nggak tau. Tadi sama kita."


"Jordan, Shie mana?" Tanya Ansel melihat sepupunya berjalan menghampiri.


"Ini juga lagi di cari."


Jordan melangkah cepat menghampiri Shie yang sedang menangis bersama Mamanya. Gadis malang yang tak dianggap itu sudah dalam keadaan basah kuyup dan menggigil.


"Apa yang Mama lakukan?" Tanya Jordan bernada tinggi.


"Anak kamu yang nakal."


"Mama keterlaluan."


"Shie. Ayo sama Mama." Karin langsung menggendong Shie untuk dibawa pergi.


Saat setelah sampai di rumah Karin langsung memandikan Shie dan menggantikan pakaiannya. Ia juga memberi minuman hangat untuk membuat Shie rileks.


"Apa yang Oma lakukan Shie. Katakan pada Papa." Ucap Jordan memaksa.


"Jangan di paksa bicara Om. Biar tenang dulu."


Beberapa menit berlalu. Karin sudah memastikan anak anak tidur kembali lagi menghampiri Shiena yang masih terjaga bersama Ansel dan Jordan.


"Shie. Sekarang cerita sama Mama apa yang sebenarnya terjadi." Ucap wanita itu dengan lembut sembari memberikan pelukan hangat.


"Shie tidak tau Ma. Tiba tiba Oma menyiram Shie dengan es." Jawabnya sambil sesenggukan.

__ADS_1


"Kata Oma Shie pembawa sial." Lanjutnya.


"Mama benar benar keterlaluan." Jordan mengepalkan tangannya tak habis pikir dengan sikap sang Ibu yang tidak punya hati nurani.


__ADS_2