Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bulan Madu?


__ADS_3

Karin menghela napas. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya lalu kembali ke kamar untuk membantu suaminya bersiap namun pria itu masih tertidur lelap. Begitu nyaman dan tenang di balik selimut tebal. "Daddy bangun. Ini sudah jam 7 loh." Ucap Wanita itu sembari menepuk lengan kekar suaminya. "Um..." Ansel menggeliat memeluk pinggang ramping istrinya yang sedang duduk di tepian ranjang. "Daddy ke kantor nggak. Ini sudah jam 7 loh." Dengan lembut Karin mengusap kepala suaminya. Ansel lalu duduk. Ia memeluk istrinya dengan erat. "Temani." Ucapnya serak. "Aku mau rumah Umi." Jawab Karin. "Iya nanti setelah ke kantor langsung ke rumah Umi."


Ansel merangkul pinggang istrinya yang sedang berjalan memasuki ruang makan sambil menggandeng tangan Isam. "Bella berangkat dulu." Ucap gadis itu berlari menghampiri kedua orang tuanya yang baru datang sambil membawa roti dan kotak bekal yang sudah disiapkan sang Ibu. "Hati hati." Pesan Karin saat putrinya itu mengecup pipinya singkat kemudian melesat pergi dengan langkah cepat.

__ADS_1


Karin segera menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya yang sudah duduk manis menunggu. Keduanya sama oh salah, ketiganya sama ditambah Shiena atau Kafil juga. Mereka manja dan apa apa minta dilayani Karin. "Ayo segera makan." Ucap wanita itu meletakkan piring yang telah berisi makanan di depan Ansel dan Isam. "Isam kapan sekolahnya? Seusia dia sudah pada sekolah loh Mom. Mommy nggak mendaftarkan dia?" Tanya Ansel sembari menyantap hidangan lezat buatan istri yang selalu menjadi penyemangat nya di pagi hari. "Usia Isam masih terlalu dini Dad. Biarkan dia di rumah dulu main. Setelah usianya cukup aku akan sekolahkan." Jelas Karin membuat Ansel pasrah dan menyerahkan segala keputusan pada istrinya.


"Rambut Isam dah panjang." Ucap Karin menyugar rambut tebal kecoklatan putranya ke belakang. "Cukur sendiri aja nggak perlu ke barber shop." Jawab Ansel masih kesal dengan kejadian dulu saat mengantar putranya memotong rambut wanita itu malah di goda para pria tak tau malu. Ansel tentu saja tak bertindak lunak. Pria itu marah marah dan hampir menghancurkan tepat itu dan tentu Karin ngambek pada suaminya yang tak bisa menahan emosi. "Memang Daddy bisa?" Tanya Karin. "Tidak juga, tapi boleh lah di coba." Jawab pria itu.

__ADS_1


Ansel baru bisa menikmati waktu berdua bersama sang istri ketika Isam sudah tertidur pulas. "Sayang." Panggil pria itu lembut. "Hm." Jawab Karin menatap lurus ke depan menikmati pemandangan dari balkon kamar. "Masa di panggil suaminya begitu." Protes Ansel mengecup pipi Istrinya. "Iya Dad ada apa?" Karin membenarkan. "Bulan madu yuk.... Berdua." Kata Ansel menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Bulan madu?" Karin mempertanyakan lagi sambil menatap suaminya keheranan. "Iya. Bulan madu. Dari nikah sampai sekarang kita belum pernah pergi berdua." Ucap Ansel membuat istrinya menghela napas. Bulan madu bukanlah hal yang ada di dalam pikiran Karin. Tidak bulan madu saja Ansel selalu minta jatah tiap hari lalu apa bedanya jika tujuan tetap sama itu itu juga. "Isam mau dikemanakan jika pergi berdua?" Tanya Wanita itu setelah beberapa saat berpikir. "Di titipin ke Umi pasti seneng Umi." Jawab Ansel memeluk perut istrinya menenggelamkan wajahnya sambil mengendus. "Isam mana mau. Kamu tau sendiri kan dia bagaimana." Ucap Karin membuat suaminya berdecak. Ia hanya ingin waktu berdua namun ada saja. Belum punya anak Ia disibukkan dengan masalah keluarga dan Bella. Ketika kini sudah punya anak waktunya tersita dengan putra manjanya. Ansel bingung harus bagaimana. Ia sudah menyarankan baby sitter namun Karin menolak. Wanita itu berkata ingin merawat dan menyaksikan tumbuh kembang buah hatinya sendiri tanpa campur tangan orang lain.


Tak buang buang waktu Karin mulai memangkas rambut putranya. Wanita itu melakukan dengan sangat hati hati namun juga cepat. "Merem sayang." Ucapnya ketika hendak memotong rambut bagian depan. Isam memejamkan mata. Bocah itu tampak sangat lucu dan imut dengan semburat merah muda di pipi yang dimiliki persis seperti punya Ibunya.

__ADS_1


"Wah nggak nyangka. Lain kali kalau mau rapikan rambut ke kamu saja ya." Ucap Jordan membuat pemilik wanita itu melotot. "Apa kamu bilang?" Kesal Ansel mencengkram kuat lengan sepupunya. "Haha bercanda. Mana berani." Jordan tertawa sembari menahan rasa sakit mengusap lengannya yang memerah karena bekas cengkraman Ansel.


"Tampannya adikku." Ucap Bella mengusap kepala Isam membuat bocah itu kesal. "Jangan di ganggu." Tegur Ansel tak mau putranya menangis nanti Karin juga yang repot. "Ma. Shie mau eskrim." Gadis itu memeluk Ibunya. "Jangan peluk Mommy." Isam memperingati. "Biarin." Jawab Shiena enggan melepaskan. "Ayo ayo ambil eskrim." Karin menggandeng tangan Shie mengajak gadis itu untuk kembali ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2