Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Hukuman Dari Kakek


__ADS_3

Karin sedang memandikan putranya. Wanita itu akan mengajak Isam ke pesantren karena ada acara perayaan maulid nabi disana. "Sudah selesai." Ucap wanita itu mengangkat tubuh putranya sembari membalut dengan handuk lembut yang sudah Ia siapkan sebelumnya.


Isam tampak tersenyum. Bayi tampan itu selalu ceria dan jarang menangis. "Jadi pergi?" Tanya Ansel memeluk istrinya. "Jadi. Kamu ikut tidak?" Karin balik bertanya sembari memakaikan baju untuk putra tercinta. "Ikut." Jawab Ansel meletakkan dagunya di pundak sang istri. "Kok belum mandi? Buruan mandi aku siapkan bajunya." Tutur Karin. "Sebentar lagi." Ansel enggan beranjak. Pria itu kemudian duduk di ranjang dekat putranya. "Isam. Tolong lepaskan tangan Mom." Ucapnya sambil mengambil jemari mungil Isam yang sedang menggenggam jari Karin. "Biarin kenapa sih? Kamu tuh buruan mandi." Karin menggendong Isam kemudian pergi untuk menyiapkan baju Ansel.


"Lama banget." Ucap Kakek melihat Ansel yang baru datang. "Maaf Kek." Jawab Pria itu lalu duduk di dekat istrinya yang sedang menggendong Isam. "Sini biar aku gendong." Ansel hendak meraih anaknya namun seketika bayi tampan itu merengek. "Tuh kan. Sama bapaknya sendiri aja takut." Sindir Kakek. "Dah nggak usah bikin cicit aku nangis kamu. Ayo berangkat. Dandan udah kaya cewek lama banget." Lanjutnya menggerutu sambil berjalan. "Kakek kalau mengomel begitu ya?" Tanya Ansel berbisik. "Biasanya pakai bahasa arab." Jawab Karin sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Keluarga Shahab sudah sampai di pesantren. Mereka di sambut ramah oleh semua orang baik para santri maupun pengurus pondok. "Mau kemana kamu Ansel?" Tanya Kakek mencengkram tangan pria itu. "Mau ikut Istri kek." Jawabnya. "Istri kamu itu perempuan. Tempatnya terpisah sama laki laki. Jangan aneh aneh kamu. Ayo." Ia menarik tangan Ansel untuk diajak bergabung dengan yang lain.


"Tampan sekali." Ucap para santriwati yang sedang bersama Karina. "Terimakasih Kakak." Ucap Karin menggerakkan tangan Isam. "Pipinya kenapa merah begini Kak?" Tanya Mereka. "Kena matahari kemarin diajak jalan jalan Daddy nya. Ayo masuk kayanya udah mau dimulai." Ajak Karina di angguki mereka semua.


Ansel duduk bersama yang lain di posisi paling belakang tidak bergabung bersama mertuanya. Ini sengaja Ia lakukan agar bisa berbalas pesan dengan sang istri. Namun pada kenyataannya berapa kali pun Ansel mengirim pesan Ia tak mendapat jawaban dari wanita itu. Ia mengamati sekitar untuk melihat dimana Karina duduk. "Itu dia." Gumamnya melihat sang istri berdiri kemudian berjalan menuju pintu aula.

__ADS_1


Ansel mengikuti istrinya lalu ikut duduk di gasebo taman di bawah pohon trembesi yang rindang. "Kenapa ngikut kesini sih Dad? Daddy balik sana." Ucap Karin. "Nanti kamu diculik orang." Jawab Ansel sembari mengusap punggung wanita itu. "Nggak ada yang berani culik aku kecuali kamu." Jawabnya ketus. "Hm. Bernada ketus sama suami itu tidak boleh." Ansel mengingatkan. "Maaf. Menculik gadis yang bukan muhrim juga ga boleh." Ucap Karin. "Dimaafkan. Tapi cium dulu. Itu kan dulu sekarang sudah halal." Jawab Ansel membuat istrinya menatap pria itu tak percaya. "Jangan aneh aneh." Karin memalingkan wajahnya. "Yaudah aku aja." Tanpa aba aba Ia langsung mencium pipi istrinya dengan cepat dan berkali kali.


"Maaf Kek." Ucap Ansel setelah sampai di rumah. "Maaf maaf. Bikin malu." Kesal pria paruh baya itu karena Ansel meninggalkan acara padahal baru berlangsung beberapa menit saja. "Ngapain kamu keluar?" Tanya Kakek sambil berkacak pinggang. "Isam rewel kek." Jawabnya membuat pria paruh baya itu mendengus sebal. "Kan yang jagain Isam Mommy nya. Lagian Isam ada kamu juga nggak bakalan tenang." Ansel kehabisan kata kata. Apa yang diucapkan Kakek memang benar. Putranya itu hanya bisa tenang bersama sang istri. "Kamu memang harus di disiplinkan jadi menantu. Salin surah al mulk sore selepas ashar nanti harus sudah siap." Tegas Kakek. "Kek. Membaca saja aku belum lancar apalagi menulis." Keluhnya meminta keringanan. "Mau di tambah?" Ancam pria itu dan seketika Ansel menggeleng cepat.


Karin menghampiri suaminya lalu meletakkan minum dan kurma di meja. "Bantuin Mom." Ucap Ansel memeluk pinggang Istrinya. Karin tersenyum melihat tulisan suaminya yang begitu berantakan. "Kerjakan sendiri. Sebisanya saja yang penting jujur. Ayo semangat." Ansel mengangguk kemudian tersenyum. "Cium dulu biar semangat." Ucapnya langsung diangguki Karina.

__ADS_1


Ansel telah menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu menghampiri Kakek dan Abi yang sedang mengobrol. "Telat 15 menit apa apaan kamu." Kakek merebut kertas yang di bawa cucu menantunya membuat Abi tersenyum atas tingkah dua orang itu. "Tulisan jelek begini bisa bisanya kamu memperistri cucuku. Coba saja suruh baca mertuamu itu juga tidak bisa." Ucap Kakek mengomentari lalu memberikan kertas yang dibawa pada putranya. "Namanya juga belajar Yah." Ucap Abi sambil menggeleng pelan dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Ayahnya.


__ADS_2