Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Akikah Isam


__ADS_3

Suasana rumah Abi begitu ramai. Orang orang sedang sibuk menyiapkan acara akikah yang akan dilaksanakan sehabis magrib. Karin hanya duduk ditemani Umi sembari menggendong anaknya yang begitu tenang. Ia dilarang untuk melakukan apapun. Bahkan membantu mengerjakan pekerjaan ringan saja tidak boleh.


"Ayo makan dulu." Ucap Umi bersiap ingin menyuapi putrinya. "Karin masih kenyang Mi." Jawabnya. "Makan dulu. Mbak kan lagi menyusui. Kalau sampai kelaparan kan kasihan Isam." Wanita itu memaksa. "Beneran masih kenyang Mi." Karin menggeleng pelan. "Makan buah dong Mbak. Suami Mbak bilang tadi Mbak cuman makan sedikit waktu mau kesini." Tak menolak lagi Ia mulai membuka mulut menerima suapan Ibunya. "Suami Mbak pulang jam berapa?" Tanya Umi. "Barengan sama anak anak mungkin. Kalau nggak ya pas makan siang." Jawab Karin sambil mengunyah.


Tepat tengah hari Ansel sudah pulang. Pria itu langsung menuju rumah mertuanya bersama anak anak. Begitu sampai Ia langsung menuju ke kamar setelah berbincang sebentar dengan mertuanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Ucap Ansel memasuki kamar. "Waalaikumsalam." Jawab Karin yang sedang duduk mengamati putranya yang tidur. Wanita itu kemudian berdiri lalu mencium tangan suaminya. Ansel tersenyum. Ia memberikan ciuman lembut di seluruh wajah cantik Karin. "Dia bangun." Ucapnya melihat Isam membuka mata.


Ansel menemani istrinya yang sedang menyusui Isam. "Makan dulu Dad. Atau paling nggak kamu bersih bersih dulu." Tegur Karin karena suaminya tidak cuci tangan maupun ganti baju. "Nanti setelah Isam tidur aku ganti baju." Jawabnya sambil merebahkan tubuh dengan nyaman di ranjang.


Karin menghampiri Kedua anaknya yang berada di kamar tamu. Tak seperti di rumah sendiri disini keduanya jarang keluar karna canggung dengan keluarga dan Karin paham tentang itu. "Kalian nggak makan?" Tanyanya sambil meletakkan nampan di atas nakas. "Nanti kita ambil sendiri Mom. Mom nggak perlu repot repot." Jawab Bella tidak enak hati. "Nggak Papa. Makan dulu ya." Karin bergegas pergi ke kamar lagi untuk mengantarkan makan suaminya.

__ADS_1


Ansel makan dengan lahap di suapi Karin. Sedaritadi Ia benar benar lapar namun di tahan karena tidak berani pergi ke bawah karena ada Kakek. Tatapan pria paruh baya itu benar benar membuatnya tertekan dan sebisa mungkin Ia menghindar. "Sudah habis. Mau lagi?" Karin menawari barangkali suaminya masih lapar. "Cukup. Sudah kenyang. Terimakasih." Jawab Pria itu tersenyum manis menatap istrinya.


Setelah sholat magrib rangkaian acara akikah di mulai. Suasana begitu ramai karena keluarga mengundang banyak orang yang rata rata di dominasi dengan teman Kakek dan Abi. Binar kebahagiaan tampak dari wajah keluarga. Mereka begitu bersyukur dengan hadirnya anggota baru yang akan menjadi tuan muda dari dua keluarga besar ternama.


Karin dan Ansel duduk bersama mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh kyai yang merupakan pengurus dari pondok pesantren milik Abi. Doa doa baik di curahkan untuk Isam. Ansel mendengarkannya dan meng amini dengan sungguh sungguh. Ia berharap juga anaknya tak hanya berparas seperti ibunya namun sikap juga. "Sini biar aku gendong." Ucap Ansel Kasihan melihat istrinya sedaritadi menggendong Isam. Karin mengangguk lalu memberikan bayi mungil itu dengan hati hati untuk digendong sang Ayah.

__ADS_1


Pukul 9 malam semuanya baru selesai. Ansel, Karin dan anak anak akan menginap di rumah Abi kemudian baru akan pulang besok. Semuanya sudah kembali ke kamar masing masing untuk istirahat hanya menyisakan beberapa orang yang masih mengobrol di ruang tengah. "Tidak menyangka orang itu yang menikah dengan cucumu." Ucap Seorang pria seumuran paruh baya. "Aku sendiri juga tidak menyangka. Jika tau dari awal maka aku tidak akan mengizinkan." Jawab Kakek sambil menghela napas.


__ADS_2