
Karin sedang duduk berdua dengan Bella di kamar. Wanita itu menggenggam tangan putrinya hendak menyampaikan sesuatu. "Ada apa Mom?" Tanya Bella memeluk Ibunya penuh sayang. Karin mengusap punggung putrinya lalu menguraikan pelukan. Wanita itu kemudian menggenggam lagi tangan Bella yang sempat Ia lepaskan. "Bell. Bagaimana kalau Aku sudah tidak menjadi Mommy mu lagi." Ucap Karina menatap serius wajah putrinya. "Mom." Ia hendak menangis sekarang. Sudah nyaman dan bahagia seperti ini kenapa Karin berkata demikian. "Bel. Maaf sebelumnya. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah berusaha bersabar dan diam selama ini namun sepertinya berpisah adalah jalan terbaik." Dengan berat hati Ia menyampaikan. "Hubungan kita masih bisa seperti ini. Kamu jangan khawatir." Bella tak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis memeluk sang Ibu dengan erat. Sejujurnya Ia tidak bisa menerima hal ini. Namun jika membiarkan Karin terus seperti ini juga bukanlah hal baik. Demi kebaikan sang Ibu Ia akan mengalah dengan hatinya. Ia akan membiarkan Karin lepas dari jeratan Daddy nya dan berharap wanita itu akan bahagia setelahnya. "Mom janji akan selalu bersama Bella kan?" Tanyanya di jawab anggukan cepat.
Ansel menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan pakaian. Pria itu memeluk dari belakang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Ia begitu nyaman menikmati aroma wangi yang selalu membuatnya rindu, nyaman dan ingin terus bersama Karina. "Mau makan siang sekarang?" Tanya Karin menawari. "Nanti saja. Mandi dulu." Jawab Ansel membalikkan tubuh istrinya dengan cepat lalu mencium bibir mungil itu.
__ADS_1
Makan siang tampak senyap. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring untuk memecah keheningan. Ansel memperhatikan anak dan istrinya yang tampak sama sama diam tidak mengobrol seperti biasanya. Bella yang setiap hari tampak antusias dan berceloteh panjang lebar memuji masakan Ibunya saat ini bungkam menikmati makanannya. "Kamu kenapa Bell?" Tanya Ansel. "Nggak papa." Jawab Bella ketus tanpa menoleh. "Sopan kamu bicara sama orang tua begitu." Ansel mulai meninggikan nada bicaranya. Bella tak menjawab malah melenggang pergi membuat pria itu marah. "Bella." Ia hendak menyusul namun langsung di cegah oleh istrinya. Dengan penuh keberanian untuk melindungi Putrinya Karin menahan lengan pria itu. "Dia kurang ajar." Ucap Ansel. "Jangan di bentak. Biar aku yang bicara." Jawabnya sembari mengusap lengan Ansel berharap pria itu tenang.
Karin memeluk putrinya yang menangis. "Kenapa tidak sopan sama Daddy hm?" Tanyanya sembari mengusap air mata Bella. "Bella kesal dengan Daddy. Dia selalu kasar dan semena mena." Jawabnya sambil sesenggukan. "Tidak boleh seperti itu Bell. Daddy orang tua kamu dan kamu harus sopan. Ayo minta maaf." Mendengar penuturan Ibunya Ia dengan cepat menggelengkan kepala. "Bella tidak boleh begitu. Nanti dosa loh. Ayo minta maaf. Jangan buat Daddy kesal." Ia membantu anaknya berdiri lalu menggandeng tangannya.
__ADS_1
Karin bersama putrinya menghampiri Ansel yang sedang duduk sembari membaca berkas. "Dad." Panggil Bella. "Hm." Jawab Pria itu tak mengalihkan pandangannya. "Bella minta maaf." Ungkap putrinya membuat Ansel diam. Untuk pertama kalinya Bella minta maaf dan itu pasti dorongan dari Karina. Kerasnya hati dan sikap Bella full menurun darinya jadi sangat mengherankan jika Bella melakukan hal demikian. "Bella minta maaf." Ucapnya mengambil tangan Ansel lalu menciumnya. "Soal apa?" Tanya Ansel menetralkan ekspresinya. "Bella tidak sopan tadi." Jawabnya. "Jangan diulangi lagi." Ia berdiri kemudian memeluk putrinya yang tentu saja sangat jarang dilakukan. Sebagai seorang Ayah Ia akui tak pernah bersikap manis. Terlalu sibuk bekerja membuatnya tak terlalu memperdulikan putrinya. Bahkan Ansel sangat jarang berada di rumah tidak seperti sekarang setelah Ia menikah.
Karina menangis ketakutan saat Ansel dengan kasar menjamah tubuhnya. "Dad berhenti." Karin memohon dengan begitu lirih. "Jangan harap. Ini hukuman untukmu." Jawabnya tak memperdulikan keluhan sang istri. Pria itu sangat marah dan begitu bergairah dalam satu waktu bersamaan.
__ADS_1
Ansel meninggalkan istrinya yang masih menangis di bawah rintikan shower yang masih menyala deras. Ia bergegas mengeringkan tubuhnya kemudian pergi. "Abi. Karin menyerah." Lirihnya pelan.
Pukul 12 malam Bella masih terjaga. Gadis itu memberanikan diri memasuki kamar orang tuanya karena pintunya sedikit terbuka. "Mom." Ia terkejut melihat Karina tergeletak di lantai dengan kondisi yang mengenaskan. Ia berusaha menghubungi Daddy nya namun tidak ada jawaban. Tak membuang waktu Bella berlari ke bawah untuk memanggil orang agar Karin bisa segera dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1