Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Dia Bukan Ibu Bella


__ADS_3

Karin sudah menyiapkan segala keperluan Ansel. Wanita itu kini sedang memandikan putranya sebelum pergi ke rumah sakit untuk Vaksin. "Pinternya anak Mom nggak nangis." Ucap wanita itu membasuh tubuh mungil Isam dengan air hangat. Walaupun baru beberapa minggu menjadi Ibu namun Karin sudah tampak terampil melakukan perannya. "Sayang Isam. Mandinya selesai." Ia membalut putranya dengan handuk lembut kemudian meletakkan di ranjang untuk melakukan langkah selanjutnya.


"Tolong jagain dulu Dad. Aku mau mandi." Ucap Karin merasakan pelukan suaminya. "Iya." Jawab Ansel mengecup pipi istrinya kemudian duduk di ranjang. "Kenapa kamu tampan sekali." Ia mencolek pipi putranya setelah Karina pergi. "Tapi wajah kamu mirip Mom bukan mirip Daddy." Lanjutnya. "Isam. Isam ketika besar nanti harus jadi anak yang baik dan sholeh. Jaga Mommy untuk Daddy ya. Mommy sangat berharga. Jangan biarkan Mommy terluka seperti apa yang dilakukan Daddy dulu. Mommy itu orang baik. Orang paling baik yang pernah Daddy kenal. Isam harus mencontohnya." Celoteh Ansel berpesan pada sang putra.


Karin telah siap. Wanita itu sudah tampil cantik dengan gamis abu abu menghampiri suami dan anaknya. "Ayo berangkat sekarang." Ucapnya menggendong Isam dengan hati hati. "Dia tenang ya. Nggak nangis sama sekali." Ansel berjalan mengimbangi langkah istrinya sembari menenteng tas yang berisi keperluan si buah hati.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan Karin sudah sampai di rumah sakit. Wanita itu bersama suaminya langsung menuju ke ruangan dokter karena sudah membuat janji sebelumnya. "Selamat sore dok." Ucap Karin saat memasuki ruangan. "Selamat sore. Silahkan duduk." Jawab dokter wanita paruh baya itu ramah.


Karin menenangkan anaknya yang menangis setelah melakukan Vaksin. "Cup sayang. Jangan nangis ya." Ucapnya sembari membisikkan sholawat sampai bayi tampan itu terdiam. "Pinter kamu langsung diam. Kalo sama Daddy aja nangisnya malah kencang." Protes Ansel sembari membantu istrinya masuk ke mobil.


"Kalian darimana?" Tanya Jordan baru turun dari mobil bertepatan dengan Karin dan Suaminya yang akan masuk ke dalam rumah. "Dari rumah sakit. Isam Vaksin." Jawab Ansel segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Ansel menyuruh istrinya beristirahat di kamar sementara Ia menunggu Bella yang sudah menjelang tengah malam belum pulang. Ia memang tak menjemput dan hanya memastikan Bella sampai di rumah dengan selamat karena beberapa orang suruhannya telah mengintai dari jauh.


Suara pintu utama terbuka. Seorang gadis masuk dengan langkah pelan sembari mengamati sekitar. "Dari mana kamu?" Tanya Ansel membuat Bella membeku di tempat. Gadis itu menghentikan langkahnya saat semua lampu menyala. "Nggak perlu kamu jawab Daddy sudah tau. Mau jadi anak kurang ajar kamu?" Bentak Ansel. Bella tampak mengepalkan tangannya. "Sudah cukup Dad." Gadis itu bernada tinggi menatap Sang Ayah. "Daddy. Bella sudah muak dengan semuanya. Urusi saja istri muda Daddy itu. Demi memperjuangkan dia Daddy sampai lupa diri dan tidak memikirkan anak Daddy. Bella malu Dad, teman teman Bella membicarakan keluarga kita karna Daddy menikahi gadis di bawah umur." Teriaknya. "Bella. Dapat pengaruh darimana kamu bicara seperti itu. Dia Ibumu." Ansel berkata sambil menahan emosi. "Dia bukan Ibu Bella. Dia hanya gadis licik yang berhasil memikat para pria. Bella nggak dapat pengaruh dari siapapun. Memang kenyataanya begitu. Sejak awal semuanya baik baik saja. Semenjak dia datang apalagi kakeknya yang selalu ikut campur itu semuanya berubah. Benar yang dikatakan orang tua itu. Daddy pisah aja. Daddy sampai lupa sama anak sendiri gara gara dia. Daddy berikan semuanya untuk Istri Daddy sementara aku dapat apa?"


Perdebatan Ansel dam anaknya berhenti saat seorang wanita dengan wajah sembab menggendong putranya yang tertidur pulas menghampiri keduanya. "Mom." Lirih Ansel menatap istrinya. "Bella. Kenapa kamu tidak bilang kalau kehadiranku disini tidak kamu harapkan? Kenapa kamu tidak bilang dari awal jadi aku bisa pergi secepat mungkin. Aku kira semuanya baik baik saja namun tidak disangka semua hanya sandiwara. Maaf jika selama disini banyak salah dan membuatmu tidak nyaman. Daddy. Semua yang kamu berikan aku kembalikan. Untuk Isam. Aku bisa menghidupinya sendiri. Permisi." Ucap Karin meletakkan beberapa Map di atas meja kemudian bergegas pergi.

__ADS_1


"Puas kamu?" Bentak Ansel. "Daddy memang memberikan semua harta pada Mommy mu tapi dia mengelola dengan baik memutuskan membagi dengan rata untuk kamu dan adik kamu kelak. Sebagai seorang Ibu dan istri dia selalu mengutamakan kamu dan Daddy. Asal kamu tau Bell bagaimana perjuangannya. Dia juga tertekan bahkan jauh lebih tertekan dari siapapun. Usianya masih sangat muda dan menghadapi kejadian yang luar biasa. Dia melakukan semuanya dengan penuh tanggung jawab meskipun belum siap. Demi membuat bersemangat untuk sekolah Ia selalu bangun subuh untuk menyiapkan sarapan dan segala keperluan. Kamu tau baju baju yang diberikan di hari ulangtahun mu kemarin. Dia menjahitnya sendiri dalam keadaan hamil hingga berhari hari tidur larut malam. Satu lagi yang perlu kamu tau. Orang yang sekarang tak ingin kau anggap sebagai Ibu itu telah mengabaikan kesehatan dan tubuh lelahnya untuk membantu kamu mengerjakan tugas. Beberapa kali Dia sakit Bell tapi terlihat baik baik saja karena tak ingin membuat semuanya khawatir. Jangan menyesal jika kamu kehilangannya. Ini kan yang kamu inginkan." Jelas Ansel meninggalkan putrinya yang masih berdiri di tempat.


__ADS_2