
"Sakit?" Tanya Ansel mengusap wajah istrinya yang terlihat pucat. "Agak pusing sedikit." Jawab Karin sambil menyusui anaknya. Wanita itu kemudian meletakkan Isam yang sudah tertidur pulas di dalam box. Baru saja berjalan beberapa langkah pandangan Karin menggelap. Wanita itu tak sadarkan diri namun untung saja Ansel dengan sigap menahannya sebelum sampai di lantai. "Mom." Paniknya menepuk pipi sang istri beberapa kali.
Ansel mondar mandir menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Karina. "Bagaimana?" Tanya Pria itu tak sabaran. "Hanya kelelahan Tuan. Nyonya baik baik saja." Jawabnya. "Istirahat dan makan yang cukup. Perbanyak minum air agar tidak dehidrasi. Ini resep vitaminnya." Lanjutnya lalu memberi Ansel secarik kertas.
Sudah dua jam lamanya Karin belum juga sadar. Ansel dengan setia menemani wanita itu tak beranjak sedetikpun. Ia juga tak memberitahu mertua karna takut akan dimarahi Kakek karena tidak bisa menjaga cucu kesayangannya dengan baik. "Maaf." Ucap Ansel memeluk Karin. Harusnya dia lebih peka jika istrinya kelelahan tanpa harus pingsan dulu seperti ini.
__ADS_1
"Um...." Karin menggeliat. Wanita itu mengerjapkan mata hingga terbuka sempurna. "Mom. Ada yang sakit?" Tanya Ansel buru buru. "Pusing." Jawab Karin lemah. "Mau minum Mom?" Tanya Bella di tanggapi anggukan. Ansel membantu istrinya duduk kemudian memberikan minum. "Isam mana?" Ia menanyakan keberadaan putranya. "Masih tidur. Kamu istirahat dulu saja. Kata dokter kamu kecapean dan butuh banyak istirahat." Karin mengangguk patuh kemudian menyenderkan punggungnya di headboard ranjang.
Ansel sedang menyuapi istrinya. "Isam bangun." Ucap Karin buru buru menggendong putranya kemudian kembali duduk untuk meneruskan makannya. "Turunkan saja biar dia jalan jalan." Tutur Ansel. "Ga mau tuh kayanya." Jawab Karin karena Isam anteng duduk di pangkuannya. "Manja banget." Ansel mencubit gemas pipi bayi tampan yang masih terlihat mengantuk itu.
Mereka telah sampai di toko mochi yang cukup terkenal setelah mampir dulu untuk sholat isya di masjid. Ansel mengikuti anak dan istrinya yang sedang sibuk memilih. "Sama Daddy dulu yuk." Ajak Ansel karna kasihan Karin harus capek menggendong Isam terus. Bayi tampan itu merengek ketika di sentuh oleh Ayahnya. "Sudah jangan di paksa. Nangis nanti." Tegur Karin.
__ADS_1
"Iya sayang setelah ini pulang. Tunggu Daddy bayar dulu." Isam mulai rewel membuat Karin sedikit kerepotan. "Mau minum susu?" Tanya Bella memberikan dot yang dibawanya. "Nggak mau kayanya. Emang lagi rewel aja. Aku keluar dulu." Karin berjalan duluan ke parkiran untuk menenangkan Isam.
Karin sedang makan mochi disuapi suami sembari meneliti pekerjaan anaknya. "Kenapa dari 45 soal yang benar cuman 11 Bell? Kamu kerjakan sungguh sungguh tidak?" Ucap Wanita itu. "Bella kerjakan beneran kok Mom." Jawabnya. "Kalau di kerjakan beneran kenapa begini. Mengerjakan sejarah itu kuncinya membaca Bel. Kalau kamu malas baca ya susah." Karin meletakkan kembali soal soal yang Ia buat di atas meja. "Dasar. Maunya cepat selesai ya begitu." Ansel ikutan dongkol dengan kelakuan putrinya. "Jangan main main Bell. Kamu akan menghadapi ujian nasional juga. Gunakan kesempatan ini sebaik baiknya." Tutur Karin di angguki Bella. "Kalau Bella dapat nilai diatas KKM Mom kasih hadiah apa?" Ansel berdecak mendengar apa yang dikatakan anaknya. "Hadiah mulu. Sana belajar jangan rokok, minum sama kelayapan ga jelas. Bikin malu orang tua. Seusia kamu Daddy nggak begitu walaupun nggak dapat perhatian keluarga." Ucap Ansel membuat Bella menunduk. Gadis itu merasa bersalah sekaligus malu. "Daddy sudah berusaha menjadi orang tua yang baik. Selama ini Daddy membesarkan kamu sendiri. Daddy kerja dari pagi sampai malam untuk kamu. Dan sekarang saat sudah punya keluarga lengkap seperti yang lain kamu malah menuduh dan berprasangka buruk pada Istri Daddy. Sekarang kamu baru sadar kan yang benar yang mana. Orang lain atau wanita yang sekarang ada di depan kamu?" Ansel pergi dengan wajah kesal setelah mengatakan semua itu.
Karin menghampiri suaminya yang berdiri di balkon kamar. Wanita itu memeluk Ansel yang sedang berdiri menatap kosong ke arah depan. "Hm. Begini sangat nyaman." Ucapnya berbalik kemudian memeluk Karin dengan hangat. "Jangan terlalu menekan Bella." Tutur Karin. "Dia pantas mendapatkannya. Walaupun dulu aku punya Ibu tapi tidak merasakan kasih sayangnya karena sibuk dengan bisnis tapi aku juga tidak seperti Bella." Jawab Ansel sambil menghela napas. "Aku hanya punya kamu. Seseorang yang paling aku percaya. Usiaku akan semakin menua jadi aku minta jangan pernah tinggalkan Mom." Pintanya.
__ADS_1