Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Ansel Yang Arogan


__ADS_3

Ansel dan Karina mengantar Bella ke sekolah sekalian untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. "Yakin mau ikut?" Tanyanya sembari menggenggam tangan sang istri. "Iya." Jawab Karin. Ia tak mau suaminya lepas kendali saat di sana. Karin sudah hafal bagaimana ketika Ansel marah dan itu sangat menyeramkan.


Semua mata memandang kedatangan tiga orang yang baru turun dari mobil mewah. Mereka menfokuskan penglihatan pada sosok wanita cantik dengan pakaian syari nya. Hanya tau dari foto yang tersebar di media sosial, saat melihat langsung Karin begitu cantik mempesona. Ansel menggenggam tangan istrinya dengan erat. Pria itu melayangkan tatapan tajam kepada para remaja yang memperhatikan Karina penuh damba. "Mereka bosan hidup." Gerutunya mempercepat langkah agar cepat sampai di ruang BP.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan. Nyonya." Sapa seorang guru mempersilahkan mereka duduk. "Langung saja pada intinya. Saya sibuk dan tak punya banyak waktu." Ucap Ansel tak ingin basa basi. "Dad." Tegur Karin mencubit lengan suaminya yang begitu arogan dan tidak tau sopan santun. "Sakit Mom." Keluh pria itu. "Begini. Bella terlibat adu mulut dan akhirnya terjadi saling pukul dengan tiga murid dari kelas lain." Ansel mengangkat tangannya. "Saya sudah tau dan disini saya akan meluruskan. Mereka bertiga telah menghina istri saya dan Bella melakukan pembelaan. Mereka mengatakan jika istri saya matre karena mau menikah dengan saya. Apakah itu tidak menyakitkan? Tanpa menikah dengan saya pun istri saya sudah kaya. Dia keturunan perempuan satu satunya keluarga Shahab. Kalian tentunya tau." Jelas Ansel membuat mereka semua terkejut karena Mommy Bella ternyata anak konglomerat. Karin meremat tangan suaminya meminta pria itu berhenti namun Ansel tidak mau. "Dan kalian bertiga." Tunjuk Ansel pada tiga siswa yang berseteru dengan anaknya. "Jangan berani menghina istri saya. Atau jika tidak kalian bisa lihat sejauh mana Saya bertindak. Saya tidak akan segan meluluh lantahkan bisnis ilegal orang tua kalian." Ancam Ansel membuat mereka panik dan langsung minta maaf. Karin menghela napas melihat cara Suaminya menyelesaikan masalah selalu dengan mengancam.


Setelah menyelesaikan urusannya Ansel langsung pulang. Badannya masih lemas membuat Ia malas pergi ke kantor. "Daddy nggak ke kantor?" Tanya Karin berjalan memasuki rumah. "Masih malas. Biar Damian saja yang urus kantor." Jawab pria itu merangkul pinggang istrinya dengan mesra.

__ADS_1


Ansel memeluk istrinya yang sedang berbaring nyaman di ranjang menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Karin. "Kapan Daddy belajar agama? Selain untuk kebaikan Daddy sendiri juga untuk anak kita dan Bella." Ucap Karin. Ansel mengecup kening istrinya dengan lembut. "Ajari. Daddy mau belajar dari Mom. Mulai dari hal terkecil. Mom mau kan?" Karin mengangguk cepat merespon suaminya. "Tentu saja. Kita belajar sama sama." Jawab wanita itu sembari tersenyum. "Sejak kapan Daddy tidak beribadah?" Ansel mengingat ingat. "Memang tidak pernah. Papa dan Mama juga dulu orang yang tidak beragama. Di KTP mereka tertulis islam. Namun seingat ku mereka tidak pernah beribadah seperti muslim pada umumnya. Sama sepertiku. Karna tumbuh di lingkungan seperti itu jadi aku tidak mengenal agama secara pasti. Tuhan tidak ada dalam hati ini karna terlalu percaya dengan diri sendiri jadi tidak pernah berdoa." Jelas Ansel membuat Karin terkejut. Ia pikir suaminya itu hanya lupa bagaimana beribadah. Namun ternyata hal penting dalam hidup tidak pernah dilakukan pria itu. Bahkan Ansel tak percaya adanya tuhan. Sungguh suaminya telah tersesat terlampau jauh. Namun perlahan Ia akan membuatnya berubah. Ia akan memperkenalkan apa itu agama dan tuhan seiring berjalannya waktu.


Semenjak kehadiran Karin Bella bisa merasakan bagaimana keluarga sesungguhnya. Seperti saat ini Ia dan kedua orang tuanya sedang berkumpul di gasebo taman belakang menikmati angin sore yang bertiup segar. "Jadi hukumannya apa?" Tanya Karin. "Skorsing 3 hari. Enak kan Mom?" Tak sedih sama sekali Bella malah cekikikan. "Ketinggalan pelajaran. Lain kali kalau selesaikan masalah jangan pakai kekerasan. Tidak baik." Karin memberi nasihat. "Iya Mom. Lagian mereka yang cari ribut." Bella membela diri membuat Mommy nya menghela napas. Bella dan Ansel sikapnya memang sama. Karin berharap yang ada di kandungannya tidak demikian.

__ADS_1


__ADS_2