Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Akan Perbaiki


__ADS_3

Ansel langsung bergegas pergi ke rumah mertuanya saat mendengar kabar jika Karina pulang. Pria itu berharap hari ini bisa bertemu sang istri karena beberapa hari saat di rumah sakit Karin sama sekali tidak mau bertemu dengan orang lain selain keluarga.


"Abi bagaimana keadaan istriku?" Tanya Ansel tergesa gesa menghampiri kedua mertuanya yang sedang berbincang di ruang tengah. "Duduklah." Pria itu menepuk sofa di sampingnya. Ansel tak banyak bertanya hanya menurut saja lalu duduk di samping sang mertua. "Apapun itu Abi berharap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada. Ini semua yang terbaik untuk kalian. Daripada kalian bersama hanya ada rasa sakit. Karin sudah mengambil keputusan. Tandatangani ini untuk menyelesaikan semuanya." Ucap Abi memberikan selembar kertas pada menantunya. Ansel tak bisa berkata apa apa. Tangannya pun tak bergerak mengambil surat cerai yang di sodorkan mertuanya itu. "Kami harus bicara." Jawabnya bergegas pergi menuju kamar sang istri.

__ADS_1


Ansel berkali kali mencoba membuka pintu kamar Karina namun tidak bisa. "Sayang. Tolong buka. Kita bicara sebentar." Ucap Pria itu mengetuk berkali kali namun tetap tidak ada jawaban. Ansel menghela napas. "Baiklah. Aku hanya ingin minta maaf. Berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Tidak bisa berjanji namun Aku akan melakukan yang terbaik. Maaf telah membuatmu sakit dan terluka karena tidak bisa mengendalikan emosi. Terlalu mencintai malah membuat kamu terluka seperti ini atas sikapku. Untuk surat perceraian itu Aku tidak akan menandatanganinya sampai kapanpun. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu. Cepatlah sembuh. Sekali lagi aku minta maaf. Aku pergi dan akan kembali lagi." Ucap Ansel melangkah menjauh dari pintu kamar istrinya setelah mengungkapkan semua.


Karina menangis bersandar di balik pintu mendengarkan semua yang dikatakan suaminya. Ia berdiri kemudian berjalan sampai di balkon kamarnya. Wanita itu menatap Ansel yang baru keluar dari rumah. Tatapan mereka bertemu beberapa saat namun Karin segera memalingkan wajah lalu masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Mbak gimana keadaannya?" Tanya Umi menggenggam tangan putrinya. "Jauh lebih baik Mi. Alhamdulillah." Jawab Karin. "Untuk surat perceraian itu suamimu tidak menyetujuinya. Dia tidak mau tandatangan." Abi menyampaikan. "Karin sudah tau Bi. Biar waktu yang menentukan." Sepasang suami istri itu mengangguk lalu memeluk putrinya untuk memberi support. Di usia yang masih sangat belia Karin di uji dengan hal seperti ini tentu saja bukanlah hal yang mudah. Semuanya adalah takdir dan mereka mencoba untuk ikhlas menerima semua itu.


Malam hari Bella makan sendiri tak seperti biasa makan bersama kedua orangtuanya. Tanpa kehadiran Karina semua terasa begitu hampa. Tidak ada teman bercanda, bercerita dan bermanja. Kebahagiaan yang baru saja Ia rasakan telah kandas. Ibunya kini telah pergi dan mustahil untuk kembali. Wanita itu takut, sakit dan lemah dalam satu waktu. "Mom." Lirih Bella begitu merindukan sosok yang menjadi sandarannya karena eberapa hari ini memang Ia tak bertemu Ibunya karna Umi bilang Karin masih butuh waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Ansel masih berada di apartemen dan enggan pulang. Pria itu sedang menenangkan pikirannya di temani beberapa botol minuman. Entah berapa gelas yang telah dihabiskan yang jelas tubuhnya terasa berat dan kepalanya pun pening. Ia kembali seperti dulu setelah berniat untuk berhenti karena sang istri. Alasannya untuk berubah telah pergi. Jadi semua akan seperti semula lagi. "Sayang." Lirih Ansel memanggil istrinya. "Jangan tinggalkan aku." Lanjut pria itu sembari menangis dalam diam. "Akh." Teriaknya menjambak rambut lalu menenggelamkan kepala di kedua lutut. Ansel tak kuasa lagi menahan suara tangisnya. Ia meraung seperti anak yang kehilangan sang Ibu. Sesekali teriakan dan makian yang dilayangkan pada diri sendiri memenuhi ruangan mewah yang sudah berantakan dengan aroma alkohol yang begitu menyengat.


__ADS_2