
Sudah tiga hari lamanya Karina menghilang. Keluarga, detektif dan polisi sudah mencari ke semua tempat namun belum juga membuahkan hasil. Umi menangis menggenggam erat surat yang di temukan oleh suaminya kemarin. Surat yang berada di depan pagar mengatakan jika Karina baik baik saja. Ia mengenali betul itu tulisan Putrinya dan tak mungkin salah. "Abi. Bawa Karin pulang Bi." Ucapnya sambil sesenggukan. "Iya Mi. Kita masih berusaha. Karin baik baik saja. Karin pasti pulang." Ia dan anak bungsunya mencoba menenangkan wanita yang tengah rapuh itu.
Di sebuah ruangan yang begitu mewah dengan dominasi warna putih sorang pria mengamati gadis cantik yang tengah tertidur pulas. Ia mengusap kepala gadis itu yang tertutup dengan jilbab yang di gunakan. "Umm..." Karina menggeliat. Ia buru buru mendudukkan diri saat tau Ansel sedang duduk di tepian ranjang tempatnya tidur. "Om Karin mau pulang. Tolong jangan begini. Pulangkan Karin." Ucapnya masih tetap sama. Namun kini tanpa air mata kerena Ia tau akan sia sia. "Tempatmu disini Baby." Jawab Ansel dengan tangan terulur untuk menyentuh wajah cantik di depannya namun seketika gadis itu mundur.
Makanan sudah memenuhi meja kamar tempat Karina berada. "Ayo makan." Ucap Ansel menyangga piring setelah mengambil nasi dan lauk pauknya. "Karin tidak lapar Om." Ucapnya. "Ayo makan. Siang tadi kamu tidak makan nanti sakit." Bujuknya dengan lembut namun Karin tetap menggeleng. "Karin. Makan atau aku akan paksa dengan caraku." Pria itu meletakkan piringnya kemudian menindih tubuh Karina. "Karin Makan. Jangan begini." Ucapnya sambil menangis. "Bagus. Seharusnya kamu jadi penurut. Aku tidak perlu membentakmu. Maaf." Ucap Ansel mulai menyuapi. "Karin bisa makan sendiri Om." Lirihnya namun pria itu tak peduli. "Karin tidak mau sayur Om." Ia melayangkan protes lagi. "Makan sayur. Ini baik untuk kesehatan." Ansel tetap memaksa.
__ADS_1
Selepas kepergian Ansel, Karin masih duduk dengan posisi yang sama. Tiap harinya gadis itu selalu mencari celah untuk keluar namun hasilnya nihil. Tak ada jalan sama sekali. Jendela kamar bahkan dipasang tralis besi dan pintu pun selalu di kunci. Ia begitu merindukan keluarganya. Namun perasaannya sedikit lega karena diperbolehkan Ansel untuk mengabari keluarga lewat surat singkat.
Beberapa saat merenungi nasib Karina memilih untuk membaca buku. Semua fasilitas di kamar ini lengkap. Pakaian, buku dan semuanya ada. Bahkan kulkas juga ada di dalamnya. Entah bagaimana Ansel bisa tau bahwa Ia gemar ngemil. Tapi Karin rasa Pria itu sudah melakukan banyak hal untuk mengulik kehidupan pribadinya sampai dalam.
Penjagaan ternyata begitu ketat. Karina tak menyangka ada puluhan pria berbadan kekar yang menjaga disini di setiap sudut. Mereka sangat segan pada Ansel. Terbukti saat pria itu lewat semuanya menundukkan kepala. Tak hanya di jaga banyak pengawal. Saat keluar dari gerbang Karin baru menyadari jika mansion yang Ia tinggali selama ini terletak di hutan belantara. Bagai sangkar emas. Kondisi seperti ini seakan membuatnya putus asa. Akan kabur pun sia sia. "Udara disini sangat sejuk kan?" Tanya Ansel untuk memecah keheningan. "Iya. Apa ini jauh dari jalan raya?" Tanya Karin. "Iya. Ini sangat jauh dari jalan raya. Hutan ini sangat berbahaya jadi sangat sulit untuk di jangkau orang. Jadi kamu jangan coba coba kabur Baby. Itu akan sia sia dan membuatmu terluka." Jelas Ansel panjang lebar.
__ADS_1
Lama berjalan keduanya telah sampai di sebuah jembatan kayu dengan sungai yang mengalir jernih di bawahnya. "Ada apa disana?" Tanya Karin menunjuk salah satu tempat yang membuatnya penasaran. "Jurang. Ada sungai besar di bawahnya." Jawab Ansel. "Aku merindukan keluargaku." Lirih gadis itu sambil menunduk. "Mereka baik baik saja Baby. Jangan khawatir. Aku akan memberi kabar mereka setiap hari jika kamu disini baik baik saja agar tidak cemas." Ia mencoba menenangkan. Karina menatap Ansel. "Aku janji." Ucapnya serius.
Hari mulai senja. Langit yang tadinya biru berubah menjadi jingga. Ansel buru buru mengajak Karina untuk pulang. "Om." Panggil Karin pelan. "Ya Baby. Ada apa?" Tanya pria itu senang karena ini pertama kali Karin memanggilnya selama ada disini. "Boleh tidak jika Karin keluar kamar. Lagipula Karin juga tidak bisa kabur kan. Karin bosan setiap hari harus di kamar dengan aktivitas yang sama. Setidaknya jika Om membiarkan Karin keluar, Karin bisa masak atau mengobrol dengan Bibi." Pinta gadis itu takut takut. "Akan aku pikirkan." Jawabnya tak mau gegabah.
Di sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, sosok pria datang mendekati ranjang. Ia duduk dengan perlahan agar tidak membangunkan sosok gadis yang tengah tidur disana. Telapak tangannya Ia arahkan ke depan hidung gadis itu hingga membuatnya tidur lebih lelap. Hanya beberapa detik setelah mendaratkan kecupan Ia berbaring sambil mendekap dengan erat. Mencium dalam dalam aroma yang begitu menenangkan. Tangan kekarnya mengusap lebut punggung gadis dalam dekapannya. "I Love You Baby." Ucap pria itu dengan mata yang semakin memberat membuatnya tak tahan. Ia ikut terlelap dan bangun saat waktunya tiba.
__ADS_1