Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Untuk Kamu


__ADS_3

"Kita sebenarnya mau kemana Dad?" Tanya Karin karena Ansel mengajaknya pergi tapi tidak dengan tujuan yang jelas. Lebih mengherankan lagi pria itu mengendarai mobil sendiri tanpa supir pribadi seperti biasa. "Sudah. Nanti Mom juga suka." Jawab Ansel sambil tersenyum. "Perhatikan jalan. Ini juga tangannya di lepas." Tegur Karin karena Ansel tak melepaskan genggaman tangan saat menyetir. "Jangan khawatir." Nada pria itu terdengar santai. "Daddy. Aku nggak mau terjadi sesuatu. Kita lagi sama Isam juga." Ansel mengangguk namun pria itu juga tidak melepaskan tangannya dari sang istri.


Mobil mewah yang di kendarai Ansel akhirnya berhenti di sebuah halaman rumah dua lantai dengan perkebunan yang mengelilingi sekitar. "Ini rumah siapa?" Tanya Karin. "Rumah kamu. Rumah kita. Dan perkebunan ini semuanya punya Kamu." Jawab Ansel mencium kening istrinya. "Apa?" Wanita itu terkejut kemudian menatap suaminya minta penjelasan. "Kamu suka berkebun kan? Jadi ini Aku lakukan untuk kamu agar kamu senang dan nyaman. Aku semakin tua dan ingin hidup tenang dengan kamu. Ketika bosan kita akan menginap disini. Pasti akan menyenangkan." Ucap Ansel. Ia tak akan pernah tau kapan ajal akan menjemput. Selagi masih hidup Ia akan membahagiakan dan menikmati masa masa itu dengan istri tercinta. "Terimakasih." Jawab Karina terharu dengan apa yang dilakukan suaminya.

__ADS_1


Ansel mengajak istrinya masuk ke dalam rumah untuk melihat lihat. Pria itu menjelaskan secara detail sambil menunjukkan satu per satu ruangan yang ada disana. "Kamu suka?" Tanyanya saat sudah berada di balkon kamar menikmati hamparan perkebunan luas dengan angin semilir yang menerpa. "Suka." Jawab Karin masih menggendong putranya yang sedang tidur. "Letakkan di ranjang saja. Kamu pasti capek. Maaf tidak bisa membantu. Mom tau sendiri kan kalau Isam tidak mau sama orang lain termasuk aku." Wanita itu mengangguk kemudian membawa putranya ke dalam dan diletakkan di ranjang dengan hati hati.


"Disini udaranya sejuk." Ucap Ansel masih duduk di balkon sambil memeluk istrinya. Ia punya waktu berdua dengan Karin karena Isam sedang tidur. Jika bocah kecil itu bangun sudah dipastikan Karin akan super sibuk. "Daddy beli tempat ini memang bentuknya sudah seperti ini ya?" Tanya Karin. "Belum Mom. Dulu ini masih tanah kosong. Aku belinya dari kenalan Jordan. Kebun ini juga baru. Tapi bibit tanamannya memang sudah besar besar. Rumah ini juga baru selesai seminggu yang lalu." Jawab Ansel menjelaskan.

__ADS_1


Sebelum pulang Ansel mengajak istrinya untuk jalan jalan sebentar di kebun. Ia senang karena melihat istrinya yang begitu bahagia. Wanita itu sedang berjalan dengan senyum sumringah sembari berceloteh mengajak anaknya mengobrol. "Itu namanya jeruk sayang. Tapi belum matang." Ucap Karin. "Mommy." Isam tersenyum ikut antusias seperti sang Ibu. "Kalian ini kompak sekali ya." Ansel memeluk istrinya. "Daddy." Celoteh bayi tampan itu tiba tiba membuat kedua orang tuanya terkejut. "Katakan lagi sayang. Panggil Daddy." Ansel menangkup wajah Isam. "Dad." Pria itu tertawa bahagia. "Akhirnya kamu panggil Daddy juga." Ucap Ansel menciumi pipi menggemaskan putranya.


Malam hari hujan turun begitu deras. Karin baru saja meletakkan putranya di box setelah benar benar tidur. "Mom." Ansel datang dengan tiba tiba memeluk Karin membuat wanita itu terkejut. "Kebiasaan deh suka banget ngagetin." Ucap Karin sambil menutup gorden kamar. "Pakai baju sana Dad. Dingin loh." Tutur Wanita itu berjalan kemudian duduk di tepian ranjang. "Gerah." Karin tentu saja heran dengan apa yang dikatakan suaminya. Jelas jelas hawa sudah dingin namun Ansel malah mengatakan gerah.

__ADS_1


"Aku mau tidur." Karin berbaring di ranjang menutup tubuhnya dengan selimut. "Kya Mommy nggak peka banget." Ansel menindih tubuh istrinya. "Dad kamu tuh berat tau." Kesal Karin merasakan badannya seperti di timpa beton. Tak menjawab Ansel malah mengungkung tubuh istrinya. Pria itu mencium bibir Karin dengan lembut kemudian turun ke bawah menyapu leher jenjang, ke telinga dan bergerak lembut ke bawah. "Ugh." Karin melenguh tangan suaminya bergerak nakal.


Ansel menggulingkan tubuh kekarnya yang berkeringat di samping Karin. "Terimakasih." Ucapnya menciumi wajah sang istri kemudian memeluk wanita yang masih polos tertutup selimut itu. "Mau mandi Dad." Keluh Karin tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket. "Nanti saja. Istirahat dulu." Jawab Ansel tak bergerak sedikitpun karena terlalu nyaman. "Dad." Panggil Karin. "Iya Sayang." Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Besok aku di rumah aja ya." Karin meminta izin untuk tidak menemani suaminya di kantor. "Baiklah."Jawab Ansel terpaksa menyetujui.

__ADS_1


__ADS_2