
Karin sudah bisa bernapas lega saat putra tercinta hari ini diperbolehkan untuk pulang setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Isam sudah baik baik saja. Bayi tampan itu bahkan sudah aktif menyusu seperti biasa. "Biar aku yang bawa." Ansel hendak membawakan keperluan putranya namun Karin dengan cepat menolak. Ia tau istrinya masih marah dan itu wajar saja. Ansel paham bagaimana perasaan Karin dan memilih untuk menerima.
Keluarga sudah pulang beberapa saat yang lalu. Hanya tersisa Ia, suami, Bella, Jordan dan Shiena di ruang keluarga. "Ngantuk ya." Karin menggendong Isam kemudian bergegas ke kamar setelah berpamitan.
__ADS_1
"Mama." Shie ikut berbaring pelan di samping Isam yang sudah tertidur pulas. "Apakah adek sudah sembuh?" Tanyanya. "Sudah alhamdulillah." Jawab Karin sambil tersenyum mengusap pipi Shie dengan lembut.
Ansel memasuki kamar. Pria itu berbaring di samping istri dan anaknya yang sudah tertidur pulas. "Maaf." Ucapnya pelan. Bulir bening menetes dari matanya. Dada Ansel terasa sesak mengingat kejadian kemarin. Hampir saja Ia membuat nyawa putranya terancam. Jika saja Ia lebih mengutamakan Isam daripada pekerjaan mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sekarang Ia harus menerima marahnya Sang Istri. Di abaikan dan di diami sampai hati wanita itu benar benar luluh dan memaafkannya.
__ADS_1
Ansel menghampiri lalu memeluk Istrinya yang sedang sibuk memakaikan baju Isam. "Maaf." Ucap Pria itu untuk yang kesekian kalinya. "Mom jangan diami aku begini. Aku salah aku minta maaf." Lanjutnya lagi karena tidak mendapat jawaban dari sang istri. Karin menggendong putranya lalu menghadap sang suami. "Kamu sayang nggak sih sama anakku?" Tanya Karin menatap suaminya. "Kenapa bertanya seperti itu. Tentu saja sayang. Isam anakku Mom." Jawab Ansel. "Kamu tau nggak rasanya kemarin aku hampir nggak bisa napas melihat Isam begitu. Karna kecerobohan kamu anak aku hampir meregang nyawa." Karin menangis lagi. "Maaf. Aku salah. Maaf sayang." Ansel memeluk istri dan putranya lagi.
"Kenapa berantakan begini?" Tanya Karin melihat paper bag yang memenuhi sofa dan meja. "Itu baju gamis dan lain lainnya buat kamu." Ucap Ansel memeluk istrinya. Ia membelikan apapun untuk Karin agar bisa mendapatkan maaf dari wanita itu. "Kenapa beli macam macam. Buang buang uang. Bajuku masih banyak. Yang baru juga belum terpakai. Daddy boros." Protes Karin karena suaminya berlebihan. "Nggak boros. Nyenengin istri kan nggak ada masalah." Jawab pria itu tersenyum mengecup bibir istrinya yang sedang cemberut. "Memang aku terlihat senang?" Tanya Karin. "Yang bikin kamu senang apa sih Mom?" Ansel bertanya balik. "Nggak ada." Jawab Karin kemudian duduk sambil memangku Isam. "Masa nggak ada. Di cium begini senang tidak?" Ansel mulai menciumi wajah istrinya sampai membuat wanita itu mengeluh. "Ih basah semua. Daddy bikin orang kesal saja." Karin memukul legan kekar Ansel yang memeluk pinggangnya.
__ADS_1
Karin sudah tertidur pulas. Ia tak menyadari jika suaminya memasuki kamar. Ansel melepaskan kaosnya hanya menyisakan celana pendek yang menjadi pakaiannya ketika tidur. "Aduh." Ucap Pria itu tak sengaja menyenggol dan menginjak kacamata sang istri hingga membuat benda berharga itu pecah. "Kenapa Dad?" Tanya Karin yang terbangun karena mendengar suara dari suaminya. Wanita itu bergegas duduk meraba nakas di sampingnya untuk mencari kacamata. "Mom." Ansel menggenggam tangan istrinya. "Kenapa? Kacamata aku tolong. Aku mau lihat Isam sebentar." Ucapnya. "Maaf. Kacamata kamu jatuh terus nggak sengaja aku injak jadi rusak." Jawab Ansel sembari memeluk sang Istri. "Ih Daddy ceroboh lagi." Karin benar benar tak habis pikir dengan suaminya itu. "Besok kita ke rumah sakit. Beli yang banyak biar bisa ganti ganti." Ucap Ansel. "Nggak perlu. Itu di ganti lensanya saja. Bingkainya kan masih bisa di pakai." Pemikiran Karin benar benar membuat suaminya terheran heran. Menurut Ansel istrinya itu sangat perhitungan dan pelit untuk diri sendiri. Wanita itu tidak pernah pergi ke salon atau mengoleksi barang barang mewah seperti yang lainnya padahal Ia memberikan kebebasan pada Karin untuk berfoya foya. "Haish Kamu itu memang." Ansel menindih tubuh sang istri membuat wanita itu kesal karena tak bisa pergi padahal Isam sedang menangis minta Asi.