Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Pesan Ansel


__ADS_3

Pagi hari semuanya di buat panik karena Karin yang tak berhenti mual mual. Semua keluarga sedang menunggu dokter yang masih memeriksa keadaan wanita itu. "Bagaimana dok?" Tanya Ansel begitu tak sabaran ingin tau bagaimana kondisi istrinya. "Nyonya baik baik saja Tuan. Selamat Nyonya Karina sedang hamil." Jawabnya sambil tersenyum. "Alhamdulillah. Isam mau punya adek." Ucap Abi begitu bersyukur diikuti yang lainnya.


Karin masih setia berbaring karena tubuhnya benar benar lemas. Semua makanan tidak ada yang bisa masuk. Hanya mencium saja Karin langsung mual. "La terus makan apa?" Tanya Kakek khawatir dengan keadaan cucunya. "Nggak mau apa apa kek." Jawab Karin sambil mengulas senyum di bibirnya yang pucat. "Hamil begini jangan kegiatan yang macam macam. Jangan mau kalau diajak suamimu ke kantor ya." Ansel hanya tersenyum mendengar ocehan pria paruh baya itu. Ia tak menentang. Untuk kedepannya Ia akan ke kantor sendiri tanpa mengajak istrinya seperti biasa.

__ADS_1


Ansel menemani istrinya di kamar. Pria itu punya waktu berdua karena Isam sedang bersama Om nya dan keluarga lain di bawah. "Masih mual?" Tanyanya sembari mengusap punggung Karina dengan lembut. "Masih." Jawab Sang Istri begitu lemah benar benar membuat Ia tak tega. Meskipun bukan Ia yang mengalami namun bagaimana pun keadaan sang Istri seakan ikut merasakan. Bukan hanya hari ini saja. Hari hari sebelumnya malah lebih parah. Namun Karina enggak untuk dipanggilkan dokter dan mengatakan hanya masuk angin biasa membuat Ansel hanya menuruti keinginan wanita itu. Jika bukan Kakek datang hari ini dan memaksa mungkin Karin akan tetap tidak mau untuk diperiksa.


Hangat yang Karin rasakan. Wanita itu nyaman dalam dekapan suaminya. Ia tak menyangka di usianya yang masih sangat muda akan diberikan kepercayaan lagi dengan hadirnya buah hati yang kedua. Pernikahan yang awalnya karena keterpaksaan berubah menjadi sebuah perjalanan hidup yang begitu manis. Suka duka Ia telah lalui bersama suaminya. Berbagai cobaan hingga perpisahan yang hampir saja terjadi justru malah menyatukan mereka. Karin tak pernah berhenti bersyukur. Kini suaminya banyak berubah. Ansel menjadi sosok suami dan Ayah yang baik meskipun sesekali juga berdebat dengan anak anaknya. Di balik sikapnya yang keras pria itu menyimpan kelembutan yang luar biasa. Emosinya tak seperti dulu. Daripada memaki dan menghancurkan barang pria itu kini memilih untuk diam dan pergi seperti apa yang di katakan istrinya. Sebuah keberuntungan Ansel mendapatkan Karin meskipun pada awalnya semua harus dipaksakan. Berkat wanita cantik itu Ia mengenal apa itu agama, cinta dan kehidupan positif yang membuatnya bahagia.

__ADS_1


Isam memasuki kamar orang tuanya. Bocah tampan itu menaiki ranjang pelan kemudian berbaring di samping Ibunya. "Sudah mandi sayang?" Tanya Karin. "Sudah sama Om Kafil." Jawabnya. "Mom. Isam mau punya adek ya?" Lanjutnya. "Iya. Nanti Isam dipanggil Mas. Isam suka punya adek?" Beberapa saat tampak berpikir Karin tersenyum melihat putranya mengangguk.


"Disini rupanya. Susu kamu belum habis dimarahin Kakek nanti." Ansel menghampiri ikut berbaring bersama anak istrinya. "Isam kenyang Daddy." Jawabnya sambil memeluk sang Ibu. "Memang makan apa kenyang?" Ansel mengusap kepala Isam dengan lembut. "Makan pie buatan Oma." Ansel mengangguk. "Kamu nanti kalau punya adik harus jaga adiknya ya. Jangan nakal. Jaga Mommy juga, jangan biarkan Mommy menangis atau terluka." Bocah tampan itu mengangguk mendengar nasihat sang Ayah. Karin tersenyum. Ia benar benar tersentuh melihat interaksi suami dan anaknya. "Daddy. Isam tidur disini ya." Pintanya. "Iya. Ayo tidur. Selamat malam." Jawab Ansel memeluk anak istrinya setelah mengecup mereka bergantian. "Selamat malam Daddy." Jawab Isam dan Karin.

__ADS_1


__ADS_2