
Pintu ruangan Ansel terbuka. Sosok pria berjalan masuk kemudian berdiri tepat di depan meja kerja nya. "Apa yang kau dapat?" Suara baritonnya membuat Sang tangan kanan menghela napas. Tak ingin membuat Ansel menunggu lama Damian menjelaskan hasil penyelidikan yang telah Ia lakukan. Pria itu kemudian melangkahkan kaki mendekati meja sang Tuan. Ia menancapkan flashdisk di laptop Ansel setelah meminta izin lalu memutar video rekaman CCTV memperlihatkan dua resepsionis yang memperlakukan Nyonya Karina dengan tidak baik. Bahkan kedua wanita sialan itu membuang titipan yang diberikan oleh Karin untuk sang suami. "Bawa mereka padaku." Tegas Ansel langsung di angguki Damian. Ia mengepalkan tangannya menyalurkan amarah yang membara.
Dua orang di seret paksa memasuki sebuah ruangan. Sosok pria berdiri dari duduk menghampiri mereka dengan aura dingin yang begitu mendominasi membuat udara di ruangan terasa begitu sesak seketika. "Kalian membuat kesalahan fatal." Ucapnya dengan suara bariton yang membuat napas dua perempuan bernasib malang itu tercekat. "Kami minta maaf Tuan. Kami tidak tau jika itu istri Tuan." Ucapnya sambil duduk bertumpu dengan lutut. "Kau mengatai Istriku pembantu." Tak mendengarkan Ansel mencengkram rahang mereka kuat kuat. Tangan besar berlapis sarung hitam itu menekan lagi lebih keras hingga si korban menangis. Ia berdecih lalu melepaskannya dengan kasar sambil mendorong hingga kedua korbannya terjatuh. "Menjijikkan." Ucapnya sambil memberikan tamparan hebat. "Bawa mereka pergi. Damian akan mengurus sisanya." Dua pengawal setianya mengangguk segera menyeret dua perempuan dengan kondisi yang memprihatinkan itu. Ansel tak mendengarkan mereka yang terus meminta ampun. Hatinya sudah kalut. Wanita yang begitu Ia cintai di perlakukan tidak baik maka jangan salahkan jika Dia akan bertindak keras.
Tepat pukul 12 siang Ansel baru sampai di rumah. Pria itu bergegas masuk ke dalam mengabaikan semua pelayan yang menyambut kedatangannya. Dengan langkah lebar Ia menaiki tangga tak sabar ingin berjumpa dengan istri tercinta yang sedang berada di kamar.
__ADS_1
Karin bergegas mencium tangan suaminya saat pria itu tiba. Ansel tersenyum memberikan kecupan lembut di kening dan bibir sang istri. "Bajunya sudah siap. Mau mandi sekarang? Aku siapkan airnya." Ia menawari sembari membantu melepas jas dan dasi. Ansel menggeleng pelan kemudian dengan tiba tiba menggendong istrinya membuat wanita itu reflek mengalungkan lengan di leher suami.
"Tidak mandi?" Tanya Karin agak canggung dengan posisi duduk di pangkuan suaminya. "Nanti. Biarkan begini dulu. Mom yang mandikan." Jawab Ansel membuatnya membulatkan mata. Mau menolak takut dosa namun jika tidak Ia belum terbiasa. Tiba tiba saja Ia mengingat pesan uminya agar selalu berbakti pada suami. Wejangan itulah yang membuat Karin selalu berusaha melayani Sang suami dengan baik.
Ansel memeluk hangat sembari memberikan kecupan di pipi mulus sang istri yang sedang menyiapkan air di dalam bathup. "Airnya sudah siap." Ucap Karin membalikkan badan menghadap suami. Ansel mengangguk mempersilahkan Istrinya melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuh kekarnya. Ia tersenyum mengamati wajah Karin yang tampak gugup. Bahkan saat meloloskan penutup asetnya Wanita itu terlihat terkejut namun buru buru menetralkan ekspresinya.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan sekarang. Karin makan siang sembari menyuapi anak dan suaminya. Ayah dan anak itu sangat lahap karena setiap hari selalu ada menu baru yang di sajikan. "Namanya ini apa Mom?" Tanya Bella sambil mengunyah. "Ayam rica rica. Kita kan pernah masak bareng dulu." Jawab Karin. "Oh iya. Enak deh. Besok bikin lagi ya." Pintanya di respon anggukan. "Ngapain kamu suruh suruh Mom. Bikin sendiri sana." Kesal Ansel sembari menatap putrinya yang sedaritadi makan sambil berceloteh. "Kenapa? Nanti kalau Bella yang masak bisa lain rasanya." Jawab gadis itu sambil cemberut.
Sore hari Ansel mengerjapkan mata karena tak mendapati sang istri dalam dekapan. "Setengah empat." gumam pria itu setelah melihat jam dinding. Ia duduk sebentar bersandar di ranjang kemudian segera beranjak dari tempat tidurnya. Tanpa mencuci muka Ansel bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan sang istri.
Suara gelak tawa terdengar dari dapur. Ansel tau betul itu suara Bella yang pasti sedang bersama Karina. "Sedang buat apa hm?" Tanyanya sembari memeluk sang istri yang sibuk mengaduk sesuatu. "Brownies." Jawab Karin. "Tolong ambilin Daddy jus jeruk Bel." Perintahnya. "Kenapa nggak ambil sendiri." Gadis itu malas tak ingin beranjak. "Ambilin Bell. Disuruh orang tua begitu kamu." Ucap Ansel membuat putrinya langsung beranjak. "Mom hadap sini deh." Ia membalikkan tubuh Karina dengan tiba tiba membuat wanita itu sedikit terkejut. "Ada ap....." Belum sempat meneruskan ucapan Ia sudah di bungkam oleh suaminya yang sedang memanfaatkan situasi untuk merasakan ciuman candu dengan sang istri. "Manis." Ansel tersenyum mengusap salivanya yang membasahi bibir Karina.
__ADS_1
"Wow sangat enak." Ucap Bella makan brownies buatan Ibunya dengan semangat. "Pelan pelan nanti keselek." Tegur Karina sembari mengelap bibir putrinya yang belepotan. "Suapi juga Mom." Ansel yang baru kembali menerima telpon langsung duduk mepet dengan istrinya. Tak banyak bertanya Karin mulai menyuapi sesuai dengan keinginan pria itu. "Mom coba baca deh." Ucap Bella sambil memperlihatkan ponselnya. "Apa? Nggak kelihatan. Coba agak di besarkan." Bella dan Daddy nya mengernyitkan kening heran. "Masa nggak kelihatan. Ini dah besar loh Mom." Jawab gadis itu. Ansel menangkup wajah cantik Karin memperhatikan manik biru Sapphire milik istrinya. "Mata Mom bermasalah deh. Besok Daddy antar buat periksa." Ucapnya khawatir terjadi sesuatu pada sang istri.