
Ansel menggenggam tangan istrinya. Perdebatan mereka baru selesai beberapa saat yang lalu dan kini keduanya sama sama diam untuk menenangkan hati masing masing. Ansel tak mau terjadi sesuatu pada sang istri oleh karena itu Ia memaksa Karina untuk melahirkan secara caesar saja. Lagipula umur yang masih terlalu muda juga sangat beresiko dan Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi. "Caesar saja ya." Bujuknya lagi. "Dad. Dokter bilang ada kemungkinan berhasil meskipun itu hanya 30 persen. Tapi aku yakin aku bisa. Sudah kodratnya sebagai wanita untuk melahirkan dan itu ibadah. Jadi Daddy jangan khawatir. Doakan saja." Ansel tampak menghela napas pasrah tak menjawab lagi dan memilih untuk diam.
Jordan menghampiri sepupunya yang sedang duduk sendiri dan tampak begitu murung. "Kenapa?" Tanya pria itu. "Istriku mau lahiran normal." Ansel menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. "Bujuk supaya mau operasi saja." Jordan memberi saran. "Jangankan Aku. Kakeknya saja tidak bisa." Ia tampak menghela napas merasa putus asa. "Jika begitu kamu hanya bisa berdoa saja." Ucap Jordan sembari menepuk bahu sepupunya.
Ansel menghampiri Istrinya yang sedang nonton bersama anak anak. "Nggak tidur siang?" Tanya pria itu ikut duduk. "Sebentar lagi." Jawab Karin masih fokus pada TV besar di depan. "Tidur dulu yuk." Ansel membantu istrinya berdiri. "Mama mau tidur?" Tanya Shiena. "Iya." Ansel yang menjawab. "Mom. Nanti sore ya." Bella mengingatkan di jawab anggukan oleh Ibunya.
__ADS_1
Karin sudah berbaring nyaman di ranjang sambil di peluk sang suami. "Nanti sore mau apa sama Bella?" Tanya Ansel. "Mau jalan jalan sebentar." Jawabnya. "Hamil begini jangan banyak jalan jalan dong. Capek nanti." Tegur Ansel khawatir dengan istrinya. "Sebentar saja." Karin mulai memejamkan mata saat rasa kantuk mulai menyerang.
Ansel mengusap punggung istrinya yang sudah tertidur pulas. Perasaanya begitu campur aduk antara senang dan khawatir ketika istrinya akan melakukan persalinan nanti. Karin masih terlalu dini untuk melahirkan. Dokter juga bilang demikian dan menyarankan untuk operasi saja. Namun Istrinya tetap bersikeras untuk melahirkan secara normal membuat Ia kepikiran. "Semua akan baik baik saja. Itu yang kamu katakan padaku tapi aku tetap saja tidak bisa tenang." Gumam Ansel sambil menghela napas.
Karin nyaman menikmati pemandangan di depannya sambil duduk di peluk Ansel. "Ngantuk ya?" Tanya Sang suami. "Enggak. Cuman enak aja anginnya." Jawab Karin. "Daddy. Apa Om jordan itu tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya?" Lanjut Karin menanyakan tentang sepupu suaminya. "Pernah. Jarang dan hanya sebentar." Ansel mengecup kepala istrinya dengan lembut. "Lalu di rumah orang tuanya bersama siapa?" Karin masih ingin tahu. "Sama Kakaknya Jordan. Dia sudah berkeluarga dan punya anak cewek dua. Makannya Mama Jordan bersikeras ingin cucu laki laki tapi Shiena ternyata perempuan jadi tidak diterima oleh keluarga. Demi mempertahankan Shie bahkan Jordan rela untuk keluar dari rumah. Sudah di paksa menikah dan punya anak eh saat lahirnya perempuan malah dicampakkan karena tidak sesuai keinginan. Shie yang malang. Tidak diterima keluarga bahkan juga Ibunya." Ansel menghela napas mengamati dua orang yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Mama mau eskrim." Ucap Shie ketika sampai di depan sang Ibu. "Ayo beli disana." Karin berdiri kemudian menggandeng tangan gadis kecil itu menuju minimarket yang tak jauh dari tempatnya duduk. "Pelan pelan jalannya." Tegur Ansel mengimbangi langkah wanita hamil itu.
Setelah makan malam semuanya berkumpul di ruang keluarga. Ansel mengobrol dengan Jordan sementara Karin fokus membaca buku sambil sesekali menjawab pertanyaan anak anak yang sedang belajar. "Mom ini gimana susah banget." Bella ikut duduk di sofa setelah beberapa saat baru bertanya. "Baca Bell. Tanya mulu." Sahut Ansel dengan nada kesal. Bella tak menanggapi Daddynya kemudian menggeser duduk lebih dekat dengan Karina. "Nggak gini caranya Bell." Jawab wanita itu setelah beberapa saat melihat pekerjaan anaknya. "Kalau di jumlah tabel kanan kiri harus sama. Ini dari awal pasti ada yang salah." Ia meneliti lagi. "Nah ada dua nominal yang belum kamu masukkan. Ini taro sini sama sini terus jumlah lagi." Jelasnya sambil melingkari bagian yang salah dengan pensil. "Oh iya iya. Thanks Mom." Ucapnya lalu kembali duduk di bawah setelah mengecup pipi Ibunya.
"Memang otaknya tidak menurun dariku." Gumam Ansel yang sudah pindah duduk di samping istrinya. "Bodoh dia." Lanjut pria itu pelan. "Daddy kalau bicara sembarangan." Karin bereaksi tak terima anaknya dihina. "Memang benar." Jawab Ansel. "Hati hati mulutnya. Ucapan adalah doa. Bicara yang baik baik saja." Tegurnya pelan.
__ADS_1