Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bella Harus Tau


__ADS_3

Semua orang sudah duduk bersama ruang kerja Kafil. Mereka memutuskan untuk bicara disana karena tak ingin mengganggu pasien yang lain ketika terjadi sesuatu.


"Katakan Om." Ucap Ansel sembari menahan emosinya.


"Bella anak Om." Ucap Pandu membuat semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Wajah Ansel dan Pandu memang mirip hingga mereka tak menaruh curiga sama sekali kepada Bella yang memang mirip Ansel dan Pandu sekaligus.


"Om jangan bercanda."


"Papa tidak bercanda Kak. Jika kakak perlu bukti coba lihat ini." Jordan yang sedaritadi diam melemparkan map di depan sepupunya.


"Sejak kapan? Sejak kapan kalian menyembunyikan semua ini?" Ansel tak lagi bisa menahan emosinya menggebrak meja sekuat tenaga.


"Aku mengetahuinya tiga tahun lalu. Aku pernah melakukan kesalahan dengan Mama Bella yang merupakan mantan pacar anakku sendiri. Kesalahan satu malam yang membuat semuanya kacau. Waktu itu aku sedang mabuk di club dan Mama Bella ada di sana dan setelah itu.." Pandu tak melanjutkan ceritanya.


"Kamu juga tau ini semua Jordan?" Tanya Ansel pada sepupunya.


"Ya. Belum lama." Jawab Pria itu.


"Oh aku tak habis pikir. Aku membesarkan anak orang dan ketika Om tau Om tidak langsung bilang. Astaga aku bisa gila. Semua kesalahan Om perbuat aku yang menanggungnya. Kejadian macam apa ini?" Bentak Ansel mengungkapkan kekesalannya. Ia tak habis pikir di tipu oleh Mama Bella. Wanita yang mengatakan jika Bella itu anaknya. Ansel yang tak menaruh curiga hanya menerima saja. Namun sekarang telah berbeda. Fakta yang begitu mencengangkan terungkap dan Pandu juga ikut mendalangi semua kejadian ini.


"Sebenarnya ada apa?" Mama Jordan yang baru masuk merebut kertas yang dibawa keponakannya. Wanita itu diam di tempat hingga beberapa saat kemudian tak sadarkan diri.


"Ini semua salah Papa." Ucap Jordan menggendong Mamanya agar segera mendapat pertolongan.

__ADS_1


"Mom." Lirih Bella menggenggam tangan sang Ibu.


"Bagaimana keadaan kamu Bel?" Tanya Karin meneteskan air mata. Semua ujian ini begitu berat. Bella tertimpa musibah dan Ansel saat ini juga sedang tidak baik baik saja. Semua datang bersamaan. Namun demikianlah jika Bella tidak mengalami ini mungkin kebenaran akan di timbun lebih lama.


Karin mengimbangi langkah lebar suaminya. Pria itu meminta untuk pulang tak ingin berlama lama berada disini. "Daddy mau kemana?" Tanya Karin mencekal tangan pria itu hingga berhenti.


"Pulang." Jawab Ansel tak menatap sang istri.


"Bella disini sakit Dad. Dia baru sadar. Apa Daddy tidak mau melihatnya?"


"Di bukan anakku. Ayo pulang." Ansel menarik tangan istrinya untuk segera bergegas.


"Opa. Daddy sama Mommy Bella mana?" Tanya gadis itu saat Pandu memasuki ruangan rawat inap.


"Apa keadaan kamu sudah membaik?" Tanyanya.


"Sudah mendingan. Hanya sakit dan pusing di beberapa bagian."


"Mau makan?" Pandu menawari.


"Tadi sudah makan sama Mom." Jawab Bella.


"Mommy." Isam memeluk Karin begitu melihat Ibunya pulang.

__ADS_1


"Mas Isam sudah makan?" Tanyanya.


"Sudah Mom. Sama Oma dan adek tadi." Jawab bocah tampan itu.


"Ansel mana?" Tanya Umi tidak melihat keberadaan menantunya.


"Masih di depan ngomong sama Kakek."


"Yasudah. Mbak bersih bersih dulu ya. Umi mau ke dapur." Karin mengangguk segera bergegas sembari menggandeng tangan Isam.


Ansel masuk ke dalam kamar. Ia duduk sembari menyenderkan punggungnya dengan nyaman. Semuanya terasa begitu rumit. Ia tak menyangka jika hal seperti ini terjadi padanya. Hati dan pikirannya sedang bingung tentang langkah apa yang harus diambil kedepannya nanti.


Karin menghampiri suaminya setelah memastikan anak anak sudah terlelap.


"Diminum dulu biar tenang." Ucap Karin menyangga cangkir berisi teh untuk suaminya. Ansel mengangguk. Pria itu meminum beberapa teguk.


"Terimakasih." Ucapnya mengecup kening Karina penuh sayang. Ia kemudian menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri dengan nyaman.


"Tentang Bella. Cepat atau lambat dia harus tau bahwa Aku bukan Ayahnya. Dia harus ikut dengan Om." Ansel membuka pembahasan tentang putrinya.


"Bagaimana kalau Tante tidak menerima Bella?" Tanya Karin mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. Melihat respon Tante suaminya tadi, Ia tak yakin jika Bella akan diterima dengan mudah.


"Entahlah. Biar waktu yang menjawab semuanya. Hari ini benar benar melelahkan." Ansel menenggelamkan kepalanya di perut rata sang istri.

__ADS_1


__ADS_2