
Ansel berlari memeluk istrinya. Karena terlalu rindu Ia bahkan tak memperdulikan orang orang di sekelilingnya. "Ekhm. Istrimu sedang hamil. Kau membuatnya sesak." Tegur Kakek mengingatkan. Ansel mengangguk segera melepaskan pelukan kemudian memberikan ciuman lembut di beberapa titik wajah sang istri.
Selesai mampir dari rumah Abi, Karin langsung pulang. "Mau boba Dad." Ucapnya pada Ansel yang sedaritadi memeluk. "Pengen boba ya." Jawab Pria itu sembari mengusap lembut perut sang istri. "Iya." Karin mengangguk semangat. "Kalau susu bagaimana? Aku sudah bawakan." Bukannya apa apa Ia hanya khawatir jika Karin makan sembarangan. "Mau boba." Tak berubah Ansel hanya bisa pasrah menuruti keinginan istrinya.
Karin duduk menunggu suaminya yang masih memesan. "Masih disiapkan." Ucap Ansel ikut duduk. "Kenapa wajahnya pucat. Sakit ya?" Tanyanya khawatir sembari mengusap pipi sang istri. "Agak mual tadi di pesawat cium bau makanannya Kafil." Jawabnya sambil tersenyum. "Makan ini dulu biar enakan." Ansel membukakan permen lalu menyuapkan pada istrinya. "Apa dia rewel saat disana??" Tanyanya mengusap perut Karin dengan lembut. "Tidak rewel kok." Ansel menatap istrinya dengan wajah kecewa. "Aku kira rewel karena merindukan Daddynya." Keluh Pria itu.
__ADS_1
"Mommy." Bella berlari menghampiri Ibunya yang baru memasuki rumah. "Heh. Tidak boleh peluk." Ucap Ansel melindungi tubuh sang istri. "Paman. Shie mau peluk." Keluh gadis kecil yang datang bersama Bella. "Tidak boleh." Jawab Ansel. "Sini peluk." Karin melepaskan pelukan suami kemudian memeluk kedua putrinya. "Kita kangen." Ucap Bella dan Shie sambil menangis.
Tak mau istrinya kelelahan Ansel langsung mengajak Karin untuk istirahat. Bukan di kamar namun di ruang keluarga sesuai dengan keinginan wanita itu. "Bagus. Makasih Mom." Ucap Bella yang baru saja membuka oleh oleh dari Ibunya. "Makasih Ma." Shie langsung memeluk wanita hamil itu. "Makasih Ma." Ucap Jordan juga membuat Ansel melotot tak terima. Ia menatap sepupunya itu tajam lalu mengambil bantal sofa dan melemparkan kasar ke arah Jordan membuat Pria itu tertawa. "Kurang ajar Kamu." Kesalnya. "Bercanda. Mukanya jangan tegang begitu. Makin jelek." Jawab Jordan malah meledek.
Karin mengeringkan rambut suaminya yang baru selesai mandi. "Jangan begini dong Dad. Susah malah nggak selesai selesai." Protes wanita itu karena Ansel memeluk perutnya membuat Ia kerepotan. "Nggak mau. Nyaman begini." Jawab Ansel tak mengubah posisinya. "Jalan jalan yuk Dad." Ajak Karina membuat pria itu mendongak menatap wajah cantik sang istri. Ansel benar benar heran. Apa istrinya itu tidak merasa lelah setelah perjalanan jauh dan hanya istirahat sebentar dan sekarang mengajak untuk jalan jalan. "Kemana?" Tanyanya. "Ke Mall. Buku aku sudah kebaca semua. Bosan kalau mengulang. Mau beli yang baru." Jawab Karina. "Tidak lelah apa?" Tanyanya di jawab gelengan.
__ADS_1
Ansel menuruti keinginan istrinya. Kini Ia sudah berada di Mall bersama anak anak yang juga mengantarkan Karin untuk membeli buku. "Mau cari buku apa Mom?" Tanya Bella mengikuti langkah Ibunya yang sedang melihat lihat benda yang sama sekali tidak Ia minati. "Apa saja. Novel kebanyakan. Cari cerita fiksi yang bagus." Jawabnya sambil membaca singkat kemudian memasukkan buku buku yang dinilai menarik ke dalam keranjang yang dibawa suaminya.
"Beneran nggak mau Bel?" Tanya Karin langsung makan nasi padangnya sambil menyuapi Shiena. "Mom aja." Jawab gadis itu tak berminat memilih menyantap makanan buatan Karin bersama Daddy dan Omnya.
Ansel baru keluar dari kamar mandi. Pria itu langsung naik ke atas ranjang memeluk Karina yang sudah tidur dengan nyaman setelah mengecupi wajah wanita cantik itu tanpa terlewat. "Um." Karin menggeliat. "Shut.... Tidur lagi." Ucap Ansel mengusap lengan istrinya.
__ADS_1