
Dua orang sedang duduk untuk sarapan. Salah satu dari keduanya hanya menatap makanan yang sudah tersaji sementara yang lain sibuk memainkan tabnya. Bella begitu tak berselera. Perubahan sikap sahabatnya yang begitu signifikan membuat perasaannya campur aduk. Ia sudah lama tak bertemu dengan Karina. Mereka hanya berkomunikasi lewat pesan chat dan suara saja. Karin selalu menolak dengan berbagai alasan ketika diajak bertemu. "Kamu kenapa?" Tanya Ansel sambil meletakkan cangkir kopinya setelah menyesap sedikit kopi dengan rasa pekat yang selalu tersaji di pagi hari. "Tidak." Jawab Bella singkat. "Karin?" Tanya Sang Daddy tepat sasaran namun tidak mendapat jawaban dari Bella. "Kenapa Karin tidak mau bertemu aku Dad? Kenapa kalau aku ajak main ke rumah dia nggak mau? Kenapa selalu menghindar?" Tanyanya bertubi tubi dan tentu saja Ansel tau penyebabnya. Karina takut padanya yang semakin nekat. "Dia sibuk. Banyak pesanan. Sudah, habiskan sarapanmu nanti telat." Jawabnya tak mau mengungkap kenyataan.
Selesai mengantar Bella ke sekolah Ansel langsung ke perusahaan. Pria itu berjalan tegap dengan wajah dinginnya melalui barisan karyawan yang sedang menyapa. Semua sudah terbiasa dengan perangai sang CEO yang memang demikian adanya. Tak bisa berbuat banyak Mereka yang sadar diri akan posisi hanya bisa mendumel dalam hati.
Ansel langsung duduk di kursi kebesarannya saat sudah sampai di ruangan. Pria itu mengangkat gagang telpon dan menekan satu nomor. "Suruh Damian ke ruanganku." Ucapnya tegas dalam satu kali tarikan napas.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu pintu ruangan Ansel terbuka. Sosok pria berbadan kekar dengan setelan jas lengkap berdiri di hadapannya. "Tuan memanggil saya?" Tanyanya di jawab anggukan. "Duduklah." Ucap Ansel. Damian mengangguk kemudian segera duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bagaimana?" Tanya Ansel setelah duduk di singgle sofa tak jauh dari tempat Damian berada. Tak bertele tele pria itu langsung menjelaskan apa yang di tanyakan bosnya karena Ia tau betul jika Ansel bukanlah orang yang suka basa basi. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Karina tidak ada pergerakan sama sekali. Gadis cantik yang telah menjadi incaran bosnya itu selalu berada di dalam rumah. "Sama sekali tidak keluar." Gumam Ansel. Ia sendiri juga memantau dari CCTV yang di pasang di tembok pagar kediaman Karina dan memang Gadis itu tidak keluar sama sekali seperti apa yang dikatakan Damian.
Bella tidak langsung pulang. Gadis itu menyuruh supirnya untuk mengantarkan ke rumah Karin. "Karin ada?" Tanyanya menghampiri salah satu asisten rumah tangga di rumah Karin yang hendak membuang sampah. "Mbak Karin di rumah sakit Non." Jawab Bibi. "Karin di rumah sakit? Kapan? Sakit Apa?" Tanya Bella bertubi tubi. Wanita paruh baya itu menjelaskan jika anak majikannya demam dari semalam dan panasnya semakin tinggi. Mau tak mau meskipun Karin menolak akhirnya dibawa ke rumah sakit subuh tadi.
__ADS_1
Ansel dan Bella sudah sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan tempat dimana Karin berada. "Biar Bella aja." Ucap gadis itu langsung mengetuk pintu dan membukanya ketika telah sampai. "Bella." Suara Umi Karin terdengar menyambut kedatangan gadis itu. "Oh sama Daddy nya." Lanjut Umi tersenyum. "Iya." Ansel masuk lebih dalam mengamati ruangan yang begitu luas. Manik mata pria itu tertuju pada sosok gadis yang terbaring lemah di ranjang.
"Mbak. Bella datang sama Daddy nya lo." Ucap Umi membuat Karin terkejut namun sebisa mungkin menetralkan ekspresinya. Gadis itu mengulas senyum di wajah pucat nya untuk menyambut kedatangan Mereka. "Kamu sakit apa Rin?" Ansel melontarkan pertanyaan duluan sambil meletakan buket bunga dan buah di atas nakas di susul dengan Bella yang entah meletakkan apa di tempat yang sama. "Demam Om." Jawab Karina. "Sekarang apa yang kamu rasain? Sakit sebelah mana?" Tanya Bella khawatir. "Sudah mendingan." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kalian sudah lama?" Abi Karin ikut duduk bergabung setelah kembali dari mengantar Kafil mengaji. "Lumayan." Jawab Ansel. "Aku bawa kukis kesukaan kamu Rin. Mau ya." Tawar Bella. Karina mengangguk setuju karena tak ingin mengecewakan sahabatnya. Ia merasa bersalah karena akhir akhir ini menghindar. Bukan Ia bermaksud menghindari Bella namun lebih tepat adalah menghindari Daddy sahabatnya itu.
__ADS_1
Sedaritadi Ansel menatapnya dengan intens. Manik mata tajam pria itu selalu menatap ke arahnya padahal sedang mengobrol bersama Abi dan Umi. Namun sebisa mungkin Karina bersikap biasa saja. "Enak kan?" Tanya Bella menyuapi sahabatnya. "Enak." Jawab Karin sambil tersenyum.
"Cepat sembuh ya." Ucap Bella sembari melepaskan pelukannya yang lama. "Terimakasih." Gadis itu mengangguk kemudian berpamitan pada orang tua Karin. "Cepat sembuh Baby. I Love you." Bisik Ansel mencium aroma yang begitu membuatnya candu lalu menyelipkan sesuatu pada tangan gadis itu. "Jangan takut. Kamu malah membuatku gemas Baby. Rasanya ingin cepat cepat memilikimu." Lanjutnya dengan suara sensual sambil terkekeh melihat ekspresi Karina. Ansel buru buru mundur sebelum ada yang curiga. Pria itu berpamitan pada orang tua Karin yang masih mengobrol dengan Bella.