
Tiga hari sudah Ansel terpisah dari sang Istri. Pria itu terus saja bekerja agar bisa melupakan kesedihannya. Berangkat pagi dan pulang malam sudah menjadi rutinitas sehari hari. Bahkan pekerjaan yang biasa Ia limpahkan kepada Damian kini Ia kerjakan sendiri. "Tuan." Panggil Sekertarisnya mampu membuyarkan lamunan Ansel. "Sejak kapan kau disitu?" Tanyanya. "Cukup lama Tuan. Ini sudah waktunya makan siang." Jawabnya sembari mengingatkan. "Baiklah. Temani aku. Kita makan siang di restoran biasa." Damian hanya bisa mengangguk patuh. Pria itu segera meraih ponselnya di saku jas untuk menghubungi pihak restoran agar menyiapkan satu ruangan khusus.
__ADS_1
Dua orang pria sedang duduk bersama di ruangan mewah. Hidangan dengan harga fantastis juga telah memenuhi meja. "Makanlah." Ucap Ansel sembari meneguk air putih yang biasa menjadi temannya makan tak seperti dulu sebelum menikah Ia selalu menghadirkan wine di mejanya. Karin mampu mengubah hidup pria keras kepala dan kejam itu. Sedikit demi sedikit namun semuanya menjadi pasti. Mulai dari menjauhi yang haram hingga kini Ansel mulai gencar melakukan kewajiban sebagai seorang hamba.
__ADS_1
"Kenapa tidak makan?" Tanya Ansel melihat Damian hanya menatap makanannya. "Baik Tuan." Jawab Pria itu lalu mengambil sendok. "Damian. Apa kau akan memaafkan orang yang telah membuat seseorang yang sangat kau cintai menderita?" Ansel mengangkat pandangan untuk menatap sekertarisnya yang masih diam. "Tergantung bagaimana menyakitinya Tuan." Damian menyampaikan pendapatnya. Ia memang bekerja dengan orang yang kejam dan Ia akui jika sifatnya sebelas dua belas dengan bosnya. Namun Damian juga bertindak dengan logika. Ia tidak berlebihan. Ia akan membalas sesuai dengan apa yang dilakukan orang padanya. Tidak seperti Ansel yang melipatgandakan ganjaran jika ingin membalas sesuatu. "Kamu tentunya sudah tau apa yang dulu aku lakukan pada istriku. Jika itu menimpa putrimu yang begitu kau sayangi. Apa kau akan memaafkan aku?" Pertanyaan Ansel tak membuat Damian kelimpungan atau tak enak menjawab. Dengan tegas Ia mengatakan tidak. "Kenapa demikian Dam?" Ansel ingin tau alasannya. "Maaf jika saya lancang Tuan. Keluarga nyonya bukan keluarga biasa. Mereka begitu taat dan terpandang. Berzina atau melakukan sexx di luar nikah merupakan sebuah dosa dan aib besar bagi keluarga. Tentu mereka akan terpukul dengan hal tersebut. Tuan bisa bayangkan jika putri tercinta yang di jaga dengan sangat baik tiba tiba di perlakukan tidak senonoh. jangankan di sentuh, di pandang lawan jenis yang bukan saudara saja mereka selalu menjaga diri dan hal besar yang telah menimpa Nyonya merupakan musibah yang luar biasa. Keluarga tentu saja sakit namun disini korban yang paling menderita adalah Nyonya Karin sendiri. Dia menahan beban kesedihan keluarga dan musibah yang menimpanya. Ada banyak hal dan cita cita yang belum Ia kejar namun mau tak mau Ia harus menguburnya karna harus menjalani hidup baru sebagai seorang istri yang tentunya mempunyai tanggung jawab besar." Jelas Damian panjang lebar. "Maaf Tuan. Itu pendapat saya." Lanjutnya. "Tidak apa." Jawab Ansel menghela napas kemudian memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
Tepat tengah malam Ansel belum juga bisa tidur. Jika ada istrinya pria itu setelah isya saja sudah menyelami alam mimpi. Namun tiga hari sudah Ia tidur larut karena merasa gelisah. Ansel berjalan masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu dan gorden. Ia menjatuhkan tubuh kekarnya di atas ranjang sembari memeluk pakaian istrinya yang selalu menjadi teman tidur. Aroma Karin masih menempel dan membuatnya nyaman. "Oh aku sangat merindukanmu. Sangat. Pulanglah lebih cepat." Gumamnya sambil memejamkan mata.
__ADS_1