Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kau Milikku


__ADS_3

"Mbak. Mbak jadi ikut Umi ke butik kan?" Tanya wanita itu sembari duduk setelah mengambilkan sarapan untuk anak anak dan suaminya. "Maaf Umi. Karin sedang banyak pesanan. Tidak jadi ya..." Jawabnya sambil tersenyum. "Siangnya nanti juga mau antar adek ke toko buku." Lanjutnya. "Kalian selalu menghabiskan waktu tanpa Umi ya." Abi terkekeh melihat istrinya memasang wajah cemberut. "Setelah kamu tinggalin Umi sekolah dan sekarang pulang pulang sama Kafil terus." Karina gelagapan. "Sudah Mi. Kemarin juga kalian sudah keluar bersama. Ganti adeknya dong." Ucap Abi. "Baiklah. Jangan pulang sore sore." Wanita itu mengulas senyum. "Baik Umi." Jawab kakak beradik itu kompak.


Karina mengantarkan adiknya sampai ke mobil karena karena Umi dan Abi sudah berangkat duluan. "Kakak janji nanti kita keluar ya." Ucapnya mengingatkan. "Iya. Pulang nanti kita langsung ke mall sesuai keinginan kamu." Jawab gadis cantik itu sambil tersenyum. "Kafil berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucapnya bergegas masuk ke mobil setelah mencium punggung tangan dan pipi sang kakak.


Baru saja hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah Karin berhenti karena ponselnya berdering. "Assalamualaikum Bi." Jawab gadis itu saat panggilan sudah terhubung. "Waalaikumsalam sayang. Bisa tolong antarkan berkas Abi yang ketinggalan di ruang kerja?" Tanyanya. "Bisa Abi. Berkas yang mana? Karin carikan." Ucapnya sambil berjalan. "Ada di meja kerja Abi Mbak. Ada tiga Map coklat itu tolong di antarkan ke kantor Abi ya soalnya sekertaris Abi sedang ada urusan." Karina mengangguk. "Iya Abi. Karin pergi sekarang. Assalamualaikum." Ia sedikit berlari menaiki tangga karena tak mau Abi nya menunggu lama.

__ADS_1


Dua puluh menit menempuh perjalanan Karina telah sampai di perusahaan Abi nya. Gadis itu berjalan sambil tersenyum menanggapi sapaan para karyawan dengan ramah. Ia langsung menaiki lift sambil menunduk menyapa tanpa melihat seorang pria yang kebetulan juga ada di dalam. "Karina Sayang." Suara bariton itu membuat Karin terkejut. "Sedang ingin bertemu Abi Mu?" Tanyanya. "Iya Om." Jawab Karin masih menunduk. "Sama. Kita akan kesana bersama." Ucap Ansel sembari menghirup aroma tubuh gadis di depannya yang begitu khas dan menenangkan.


"Assalamualaikum Abi." Ucap Karin masuk duluan diikuti Ansel yang berjalan di belakang. "Waalaikumsalam Sayang. Makasih ya." Ia menerima map itu dan memberikan pelukan pada putrinya. "Kalian datang bisa barengan." Ucap Abi Karin melihat Ansel. "Abi kenal Daddy Bella?" Tanyanya. "Kenal. Kami ada kerja sama beberapa bulan kedepan. Ayo duduk dulu." Ansel mengangguk mengikuti Ayah dan anak itu untuk duduk di sofa.


Siang harinya sesuai yang dijanjikan, Karin menemani adiknya ke Mall untuk membeli buku. Gadis itu membiarkan Kafil memilih karena dirinya juga sibuk memilih novel. "Kafil beli ini ya kak." Ucapnya meminta izin. "Iya boleh. Yang mana lagi?" Tanya gadis itu. "Sudah banyak." Jawabnya sambil terkekeh menunjuk keranjang yang sudah setengah penuh. "Kirain belum milih." Karina tertawa kecil kemudian tersenyum. "Ayo kita bayar. Setelah itu makan eskrim." Lanjutnya sembari menggandeng tangan Kafil untuk diajak bergegas.

__ADS_1


Karina makan eskrim sambil menyuapi adiknya. "Abi sama Umi pulang jam berapa Kak?" Tanya Kafil. "Katanya jam 3 karena mau mampir dulu ke rumah teman." Jawab Karin. "Kakak ke toilet dulu ya." Remaja itu mengangguk menanggapi sang Kakak. "Hati hati dan jangan lama lama." Pesannya sebelum Karin pergi.


Suasana toilet mall tampak sepi. Semenjak Karina masuk sampai saat kini gadis itu sedang mencuci tangan Ia tak menjumpai seorang pun. "Kenapa sepi sekali." Gumamnya. Beberapa saat kemudian Ia merasakan sebuah pelukan yang begitu erat dari belakang. Sepasang tangan kekar melingkar sempurna di tubuhnya mampu menenggelamkan dalam dada bidang seorang pria yang sedang memeluknya. "Sayang." Suara lembut itu membuat Karin tersentak. Ia kenal betul itu adalah suara orang yang di temui di kantor Abi nya tadi. "Om. Apa yang Om lakukan." Ia memberontak. Namun sayangnya tenaga Karin tak bisa mengimbangi Ansel yang berbadan kekar dan berpostur tinggi. "Aku akan terus mengganggumu seperti ini bahkan lebih parah sampai kamu mau menerimaku." Ucap pria itu sambil tersenyum dan diketahui Karin dari pantulan cermin di depannya. "Om jangan begini." Karin menahan air matanya merasakan deru napas Ansel yang tepat berada di dekat telinganya. "Kamu tau sayang. Setiap hari aku hanya memikirkanmu. Bahkan aku selalu berfantasi liar denganmu untuk menuntaskan sesuatu. Aku sangat tersiksa. Tidakkah kau tau bahwa aku sangat mencintaimu." Nadanya meninggi kemudian melemah di akhir. "Om membuatku takut." Tak tahan lagi Karina menumpahkan air mata dengan tubuh yang masih di dekap erat oleh Daddy sahabatnya. "Kamu yang memaksaku sayang." Jawab Ansel dengan suara melembut.


"Kakak menangis?" Tanya Kafil panik melihat hidung dan mata Karina yang memerah. "Tidak. Hanya kelilipan. Jangan bilang ke Abi atau Umi." Jawab Gadis itu lalu buru buru mengajak adiknya untuk pulang. "Kau milikku." Ucap seseorang yang tengah memperhatikan gerak gerik seorang gadis dengan mata elangnya yang tajam.

__ADS_1


__ADS_2