
"Nen." Ucap Isam memeluk kaki Ibunya yang sedang duduk menemani Ansel di ruang gym. "Tadi sudah makan masa belum kenyang Nak." Sahut Pria itu masih fokus berlari di treadmill. "Haus ya." Karin buru buru memangku kemudian menyusui putranya. Bocah tampan itu tampak tenang sembari memainkan jemari sang Ibu. "Pintunya sudah kamu kunci kan Dad?" Tanya Karin memastikan karena takut tiba tiba ada orang masuk saat Ia masih menyusui. "Sudah. Tenang saja." Jawab Ansel menyudahi kegiatannya lalu ikut duduk bergabung bersama sang istri.
"Coba tangannya ini dilepas." Dengan Jahil Ansel memisahkan tangan mungil Isam yang sedang menggenggam jemari Ibunya membuat putranya merengek tak suka. "Kecil saja kamu posesif. Daddy tidak bisa membayangkan gimana kalau kamu dewasa nanti." Ucap Ansel mentoel pipi gembul bayi tampan itu. "Jangan digoda deh anaknya. Nanti nangis." Tegur Karin. "Hm.... Sekarang Mommy belain Isam terus." Ia memalingkan wajahnya pura pura ngambek. Karin cuek saja fokus pada anaknya membuat Ansel berdecak. "Mom." Panggil pria itu karena kesal diabaikan. "Iya." Jawab Karin membenahi pakaiannya. "Masa suami ngambek nggak di bujuk atau diapakan gitu." Keluhnya. "Oh ngambek?" Ucap Karin. "Ih gimana sih. Nggak peka banget." Ansel mulai merengek. Karin tak peduli pun beranjak meninggalkan suaminya sembari menggendong Isam yang sudah mulai mengantuk.
__ADS_1
"Minggu depan kamu ujian nasional kan Bell?" Tanya Karin sembari mengambilkan makan. "Iya Mom." Jawab gadis itu. "Belajar yang rajin." Ucap Karin sambil duduk kemudian menyantap makanannya setelah selesai berdoa. "Siap Mom. Kan kalau nilainya di atas rata rata Mom mau kasih hadiah ya kan...." Bella menggoda Ibunya. "Banyak mau." Sahut Ansel sewot membuat gadis itu diam.
Dua orang pria sedang duduk bersama di sebuah ruangan. "Tumben Shie nggak ikut. Kemana dia?" Ansel menanyakan keponakannya. "Masih ada les renang. Nanti juga kesini." Jawab Jordan. "Gimana rumah sama kebunnya? Karin suka?" Lanjut pria itu. "Suka. Suka banget malah. Terimakasih. Nanti aku kasih kamu bonus." Jawab Ansel puas dengan pekerjaan sepupunya. Semua yang mengurus memang Jordan karena Ia sendiri sangat sibuk. Mulai mencari tanah, membuat desain dan kontraktor semua dilakukan oleh sepupunya itu. "Nggak perlu. Aku ikhlas." Jawabnya. "Nggak usah gitu. Jangan menolak." Tegas Ansel membuat Jordan diam tak berani membantah.
__ADS_1
Karin duduk diam membiarkan Ansel memakaikannya jilbab. Dengan sabar Ia menunggu meskipun hampir satu jam lamanya namun belum selesai juga. "Daddy bisa nggak?" Tanyanya. "Sebentar lagi siap Mom." Jawab Pria itu memasang peniti di bawah dagu karin dengan hati hati kemudian menyilang sebagian kain yang masih menjulur hingga menutupi dada lalu memberi bros kecil untuk menyatukan dengan kain jilbab yang menutupi pundak sang istri. "Dah cantik sekali istriku." Ucap Ansel tersenyum melihat hasilnya. Kain besar itu telah menutupi aurat sang istri dengan sempurna. "Terimakasih." Karin mengapresiasi kerja sang suami. "Cium dulu dong." Ansel menggoda. Karin tersenyum lalu menuruti keinginan pria itu.
Sore hari Ansel menemani istrinya jalan jalan di taman meskipun Ia tak yakin jika Karin hanya ingin jalan jalan saja. "Dad beli martabak ya." Ucap wanita itu. "Tuh kan jajan sembarangan lagi." Tegur Ansel. "Katanya tadi mau jalan jalan. Kalau mau martabak suruh Bibi saja yang bikin. Aku nggak jamin makanan pinggir jalan begitu higienis." Lanjutnya. "Bersih Kok. Enak lagi. Boleh ya. Mupung sudah disini masa ga boleh beli." Karin mencoba untuk bernegosiasi. "Baiklah." Pasrah Ansel menuruti keinginan istrinya.
__ADS_1
Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Karin makan martabak dengan Shie sembari menjaga Isam dan menunggui Bella yang belajar untuk persiapan ujian. "Eh ya jangan dong sayang. Nanti pecah Daddy kamu rugi." Ucap Karin buru buru menghampiri Isam yang mendekati koleksi guci suaminya. Ansel tersenyum melihat tingkah sang Istri yang menurutnya sangat lucu. "Dad coba guci nya dipindahkan agak lebih tinggi biar Isam nggak bisa sentuh." Karin kembali lagi duduk sembari memangku putra tercinta. "Jual aja. Pasti untung." Jordan memberi saran membuat sepupunya melotot. Bagaimana bisa di jual Ia untuk mendapatkannya saja sangat susah. "Minta di tonjok?" Tanya Ansel kesal namun di tanggapi senyuman. "Mama. Besok Shie ambil raport. Mama yang ambil ya." Pinta gadis kecil itu. "Shie. Mama harus jagain Isam. Biar Papa yang ambil." Tegur Jordan tak ingin membuat Iparnya kerepotan. Karin menatap suaminya meminta izin. "Iya. Mama besok yang ambil." Jawab wanita itu sambil tersenyum saat mendapat izin dari Ansel. "Terimakasih." Bisik Karin. "Upahnya nanti di ranjang." Jawab Ansel sangat pelan sambil tersenyum menang.