Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Manisnya Istriku


__ADS_3

"Kak ayo jalan." Ajak Kafil sambil menggendong keponakannya menghampiri Karin yang sedang mengobrol bersama Kakek dan Umi. "Kemana?" Tanya Wanita itu mengambil alih Isam untuk dipangku. "Kemana gitu. Kafil bosen." Jawabnya. "Ke pantai mau?" Tawar Karin langsung di respon anggukan cepat oleh adiknya. "Sama Kakek saja. Nanti biar Kakek yang kasih tau suami kamu." Ucapnya sembari berdiri menggendong cicitnya yang tampak tenang.


Kakek menggenggam tangan cucunya. Pria paruh baya itu memutuskan untuk menetap karena tak ingin berjauhan dari Karin. Meskipun tidak satu atap setidaknya Ia bisa melihat dan bercengkrama dengan cucu kesayangan setiap hari. "Kakek kenapa?" Tanya Karin. "Nggak papa. Kakek hanya senang saja bisa ada waktu dengan cucu Kakek." Jawabnya sambil tersenyum.


"Jangan dekat air. Mainnya jangan jauh jauh ya.


.." Karin memperingati Shiena yang turun duluan. "Iya Ma." Jawab gadis itu langsung melesat pergi. "Kamu nggak mau lihat lihat Dek?" Tanya Karin melihat Kafil tampak berjalan santai mengikutinya. "Nggak. Cuman cari angin saja." Karin mengangguk. Wanita itu kemudian duduk di bangku bersama Kakeknya. "Mau turun dia." Ucap Kakek melihat cicitnya tampak gelisah. "Iya sayang sebentar." Karin menurunkan putranya membiarkan bayi tampan itu berjalan diatas pasir. "Ayo sama Om." Kafil menjaga keponakannya sambil berjalan mengikuti langkah kecil Isam.

__ADS_1


"Ansel bagaimana?" Tanya Kakek menatap lurus ke depan. "Bagaimana gimana Kek?" Tanya Karin balik. "Apa dia masih menyakiti kamu?" Karin menggeleng pelan. "Lalu anak sambungmu yang tidak tahu diri itu?" Lanjutnya dengan nada kesal karena kejadian lalu yang dilakukan Bella hingga membuat Karin memutuskan untuk meninggalkan rumah. "Semuanya berjalan baik Kek." Jawabnya meyakinkan sang Kakek yang masih terlihat ragu.


Karin menghampiri lalu menggendong putranya sebelum sampai menyentuh air. "Tidak boleh Sayang nanti basah." Ucap wanita itu. "Air...." Ibu muda itu tampak tersenyum mendengar celotehan anaknya yang tidak begitu jelas. "Iya itu air. Sudah ya mainnya. Kita pulang sekarang." Ia bergegas membawa Isam menghampiri Kakeknya yang sedang menunggu.


Ansel sedang duduk mengobrol bersama mertuanya sembari menunggu istrinya pulang. "Assalamualaikum." Suara merdu seorang wanita terdengar memasuki ruangan membuat pria itu tersenyum. "Waalaikumsalam." Jawab Mereka. Ansel bergegas berdiri menghampiri sang istri. Ia memberikan ciuman lembut di kening wanita itu. "Dasar." Gerutu Kakek kemudian duduk di sofa.


Karin menghampiri suaminya yang sudah duduk menunggu di ruang makan. Wanita itu duduk setelah meletakan sepiring makanan yang sudah Ia siapkan. "Ayo dimakan." Ucapnya ketika melihat Ansel hanya diam saja. "Suapi." Manja pria itu memberikan sendoknya pada sang istri. "Iya." Jawab Karin bergegas menuruti keinginan suaminya.

__ADS_1


"Tadi di pantai ngapain aja?" Tanya Ansel sembari mengunyah makanan. "Lihat lihat aja. Bosen di rumah makannya Kafil ajak jalan." Jawab Karin membuat suaminya mengangguk. "Em... Yang Aku mau ngomong sesuatu deh." Ansel berkata dengan nada serius. "Ngomong apa?" Tanya Karin menyuapkan lagi makanan ke mulut suaminya. "Nggak jadi." Jawab Ansel membuat Karin menghela napas. "Gimana sih. Katanya mau ngomong sesuatu." Gerutu wanita itu. "Lain kali aja. Sudah dong jangan cemberut begitu." Ucap Ansel mencubit gemas pipi chubby istrinya.


Karin langsung memandikan putranya begitu sampai di rumah. "Iya sayang sebentar ini air angetnya baru siap." Ucap wanita itu melihat anaknya begitu tak sabaran untuk segera mandi. "Yang." Rengek Ansel memeluk istrinya dari belakang. "Temenin tidur yuk." Ajak pria itu manja. "Masih mandiin Isam ini loh. Daddy tidur sendiri sana." Jawab Karin. "Nggak mau. Temenin. Aku tunggu." Ansel tetap dalam posisi yang sama membuat istrinya kerepotan namun wanita itu membiarkan saja.


"Ayo dong Yang tidur. Pengen di peluk pengen di elus." Rengek Ansel begitu manja. "Daddy. Isam lagi nyusu ini. Tidur duluan nanti aku nyusul." Ucap Karin sambil menepuk bokong putranya. "Isam setelah ini harus tidur biar Daddy bisa sama Mom." Ansel yang lelah menunggu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang.


"Um...." Ansel menggeliat mengeratkan pelukannya pada sang istri. "Elus Mom." Ucap Pria itu dengan suara serak. "Kenapa kamu manjanya melebihi Isam sih." Karin menggerutu namun tetap melakukan apa yang diinginkan suaminya. "Manja sama istri masa tidak boleh." Jawab Ansel kembali membuka matanya. "Boleh." Karin beralih mengelus kepala suaminya. "Rambut kamu dah panjang lagi Dad." Ansel mengangguk. "Kamu suka panjang atau pendek?" Ia meminta pendapat. "Senyamannya Daddy gimana." Ucap wanita itu jelas jelas membuat sang suami melayang. Ansel begitu bahagia dan bersyukur karena Karin bukan tipikal wanita penuntut. Ia lebih mementingkan kenyamanannya dan tak banyak berkomentar. "Uh istriku ini sangat manis sekali." Ucapnya mengecup bibir Karin dengan lembut kemudian menduselkan wajahnya di dada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2