
Pagi hari Ansel sudah sampai di rumah. "Dimana Bella?" Tanya pria itu pada salah satu pelayan yang membukakan pintu untuknya. "Masih tidur Tuan." Jawab mereka kompak. "Siapkan sarapan. Saya akan membangunkannya." Perintah Ansel langsung di laksanakan dengan segera. Mereka cukup tau Tuannya bukan tipe orang yang suka menunggu oleh karena itu menyegerakan diri untuk menuruti apa yang di inginkan Ansel adalah jalan terbaik untuk menghindari masalah.
Bella masih duduk di ranjangnya. Gadis itu kemudian beranjak saat melihat sosok pria yang memasuki kamar kamarnya. "Daddy. Bella kira Daddy akan tiba sore." Ucap gadis itu sembari memeluk Daddy nya. "Tidak. Daddy tiba pagi. Segeralah mandi. Ayo sarapan." Ucapnya datar seperti biasa sembari mengecup kepala putrinya. "Dad. Bell rindu Karina." Tiba tiba saja Ia terisak mengingat sahabatnya itu. "Setiap hari Uminya selalu menerima surat jika Karin baik baik saja namun Bella tetap saja cemas." Lanjutnya sambil sesenggukan. Tidak ada yang bisa Ansel lakukan selain mengusap punggung punggung Bella untuk menenangkan. "Sudah. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Daddy juga masih berusaha mencari. Bergegaslah mandi, Daddy tunggu untuk sarapan." Bella mengangguk sambil melepaskan pelukan lalu berjalan gontai ke kemar mandi.
Dua orang sedang duduk bersama. Sedaritadi tidak ada yang bergerak untuk melakukan sesuatu. Ansel maupun Bella sama sama hanya menatap hidangan yang tersaji dengan malas. Bahkan Pria itu hanya menyeruput kopinya sekali. Rasanya entah kenapa begitu hambar dan Ia tak mau mengulangi lagi. "Makan Bell." Ucap Ansel untuk memecah keheningan yang terjadi hampir seperempat jam lamanya. "Bella tidak lapar Dad." Jawabnya sambil menghela napas. "Setidaknya minum susu." Tak menjawab Ia hanya mengangguk segera meneguk susu hangatnya hingga tersisa setengah. "Kamu sering ke rumah Karina?" Tanya Ansel. "Iya. Bella hanya bisa ikut menenangkan Uminya yang terus bersedih."
__ADS_1
Ansel dan Bella tiba di rumah Karina. Seperti hari pertama gadis itu menghilang, suasana rumah begitu ramai dengan hilir mudik polisi dan orang orang yang sedang melaporkan semua hasil kerja mereka. Namun sepertinya tidak satupun yang memberikan hasil. Setitik keterangan pun tidak bisa di dapatkan. Bukankan Ansel orang yang paling pandai menyembunyikan? Ia juga sadar suatu saat pasti akan ketahuan dan entah apa yang akan dilakukan Abi Karina jika bajingan yang sudah menculik Putri tercinta adalah temannya sendiri. Ansel adalah dalang dibalik semuanya. Oleh karena itulah Ia pura pura membantu agar kedoknya tidak terbongkar. Jikalau pun akan terbongkar Pria itu akan membuat alibi yang sudah disiapkannya dengan matang.
"Ansel." Ucap Abi Karin. "Bagaimana perkembangannya?" Tanya Ansel setelah duduk. "Tidak ada hasil sama sekali. Kami masih berusaha mencarinya. Semoga kami cepat bertemu." Jawab Pria itu sendu. Tubuhnya lebih kurus dan pucat kentara jelas jika Ia benar benar kehilangan. "Mari bicara. Tapi jangan disini." Abi Karina mengangguk kemudian mengajak temannya itu untuk pergi ke ruang kerja.
Sampai di rumah Ansel dan Bella langsung masuk ke kamar masing masing. Pria itu duduk bersandar di headboard ranjang sembari sibuk dengan laptopnya. Ia sedang mengamati kesibukan Karina lewat rekaman CCTV. Senyuman terbit di bibirnya melihat sang pujaan hati sedang sibuk memasak di dapur dengan beberapa pelayan.
__ADS_1
"Berikan pada calon istriku." Tegas Ansel saat terhubung dengan pesan suara. "Hy Baby. Kamu sedang apa?" Tanya Pria itu berubah menjadi lembut. "Sedang memasak." Jawab Karina. "Masak apa? Aku rindu masakanmu." Beberapa saat tidak ada jawaban, Ia melihat Karin meletakkan ponselnya kemudian mencuci tangan. "Sedang goreng ayam tapi sudah selesai. Sudah dulu ya Om. Karin mau makan." Pamitnya. "Iya. Makan yang banyak. Jangan sampai sakit." Jawab Ansel dengan nada memerintah.
Pukul 1 malam tepat di saat pergantian penjaga seorang gadis mengendap endap keluar dari kamarnya. Ia begitu pelan sambil celingukan mengamati sekitar. Beberapa hari diberi kebebasan membuatnya menghafal setiap detail. Kakinya melangkah menuju dapur dan keluar lewat pintu yang menghubungkan ke halaman belakang. Karina menyusuri samping rumah. Merapatkan tubuh rampingnya ke tembok dan sesekali bersembunyi saat beberapa orang sedang berlalu lalang.
"Banyak CCTV." Gumam Karin. Gadis itu berjalan lagi kemudian mematikan arus listrik di rumah menjadikan suasana seketika gelap. Ia menaiki pohon hingga sampai di pagar. "Bismillah." Ucapnya meraih batang pohon di luar pagar kemudian berayun dengan susah payah lalu turun. Hembusan napas lega kabut dari mulutnya. Tak mau berlama lama, Ia mulai berlari menjauh dari area tempatnya di penjara. "Selamat tinggal. Apapun yang terjadi aku harus kabur dari orang itu." Gumam Karina.
__ADS_1