
Ansel menarik tangan Karina kasar lalu menghempaskannya ke ranjang. Napas pria itu naik turun menahan amarah yang menggebu. Ia kalut dan cemburu karena istrinya kedapatan sedang bertukar pesan dengan seorang laki laki yang di akui Karin sebagai temannya saat kuliah. Ansel menulikan telinganya tak mau mendengar penjelasan sang istri. Walaupun hanya bertukar pesan biasa Ia tak mau Karin berhubungan dengan laki laki lain selain dirinya. Anggaplah Ansel terlalu posesif dan menakutkan. Namun rasa cintanya pada sang istri membuat pria itu kadang bertindak di luar batas. "Mulai sekarang tidak ada ponsel lagi. Jika ingin menghubungi seseorang harus lapor dulu." Ucapnya sembari menaikkan dagu Karin yang sudah menangis sesenggukan. "Kamu paham?" Tanya Ansel di jawab anggukan. "Bagus. Jangan menangis lagi." Ucap pria itu mengusap air mata Karina.
Bella baru pulang langsung menghampiri Ibunya yang sibuk di dapur. Ia diam diam memeluk Karin membuat wanita itu sedikit terkejut. "Hey sudah pulang." Ucap Karin sambil tersenyum. "Iya. Sedang masak apa Mom?" Tanya Bella meletakkan dagunya di pundak sang Ibu. "Udang asam manis, ayam kecap dan kentang balado. Bersih bersih dulu setelah itu makan." Bella tampak mengangguk. Ia tau karena gerakan kepala gadis itu yang masih menempel di pundaknya. Beberapa saat kemudian kecupan mendarat di pipi Karin sebelum putrinya melesat pergi.
__ADS_1
Ansel selesai bicara dengan Damian langsung menuju ruang makan karena istrinya sedang berada di sana. "Ayo makan." Ucap Karin merasakan pelukan suaminya yang begitu erat. "Hm. Masak apa hari ini?" Tanya pria itu sembari mengecup pipi sang istri. "Udang, ayam dan kentang." Jawab Karin. "Mau pakai apa?" Lanjutnya untuk menyiapkan makanan sang suami. "Aku pakai semuanya Mom." Sahut Bella yang baru datang. "Bukan kamu tapi Daddy." Ansel berdecak kesal kemudian segera duduk di kursinya.
"Ada apa Mom?" Tanya Ansel menggenggam tangan istrinya. Pria itu menelisik ekspresi Karina yang tampak ingin mengatakan sesuatu. "Boleh tidak jika menanam tanaman di lahan kosong yang ada di belakang?" Tanya Karin ragu ragu. "Boleh. Memangnya mau tanam apa hm?" Dengan masih menggenggam tangan sang istri Ia bertanya. "Mau tanam sayuran." Jawab Karin. "Kenapa tidak beli saja atau suruh orang tanam kalau Mom mau. Jadi kan tidak perlu capek capek." Ia memberikan saran. "Mau coba tanam sendiri." Jawab Karina sambil menunduk. "Hey jangan menunduk seperti itu. Iya boleh." Ucap Ansel sembari mengusap pipi istrinya. Bella menyadari ketidaknyamanan sang Ibu. Ia kasihan melihat Karin begitu tertekan karena sikap Daddy nya yang arogan dan keras. Apalagi jika sedang cemburu. Pria itu benar benar tak mampu mengontrol emosinya. Gadis baik yang telah kehilangan masa remaja dan kehidupannya yang begitu sempurna karena perbuatan Ansel dan Bella sangat menyayangkan hal itu terjadi pada Karina.
__ADS_1
Ansel mengantarkan istrinya untuk membeli keperluan untuk menanam sayur termasuk benin dan media tanam juga. Pria itu tadinya tidak memberikan izin memilih menyuruh orang untuk menyiapkan segala keperluan. Namun sebagai permintaan maaf karna sudah menyakiti istrinya tadi pagi maka Ia dengan berat hati memperbolehkan.
Sore hari Karin ditemani anak dan suaminya mulai menanam sayuran di halaman belakang. Beberapa pekerja juga turut hadir sesuai perintah tuannya untuk berjaga jaga jika Karin butuh sesuatu. "Sudah selesai." Ucap wanita itu. Ansel langsung mengelap wajah istrinya yang sedikit berkeringat. "Kapan akan tumbuh Mom?" Tanya Bella. "Tidak lama." Jawab Karin sambil tersenyum.
__ADS_1
Ansel masih mengenakan bathrobe menyerahkan handuk yang Ia pegang pada sang istri. "Duduklah." Ia menarik tangan Sang istri yang sedang mengeringkan rambutnya hingga wanita itu jatuh duduk di pangkuan. Tangan kekarnya menahan pinggang Karin lalu meletakkan kepala dengan nyaman di dada setelah mencium bibir mungil menggoda milik istrinya beberapa saat. Tak protes meskipun kesulitan Karin menerima semua tindakan suaminya. Selama menjadi istri Ia diam tak berani membantah atau menolak keinginan pria itu. Karin cukup sadar seperti apa perangai sang suami. Jika Ansel salah Ia akan menegur dengan lembut. Namun jika pria itu meninggikan suaranya Ia lebih memilih untuk diam.
Malam hari Karin mengantarkan minum di ruang kerja Ansel karna Pria itu yang meminta. "Terimakasih." Ucap Ansel memeluk pinggang Istrinya. Perlahan Ia berdiri lalu mencium bibir Karin dengan lembut dan begitu dalam. Tangannya sudah bergerak liar hingga kegiatannya terhenti karna ketukan pintu dari luar. Karin buru buru menjauh beberapa langkah dari suaminya. "Mom. Susah banget. Mom lagi sibuk nggak? Ajari Bella ya." Cerocos gadis itu sambil berjalan membuat Ansel berdecak kesal lalu duduk kembali di kursi kerjanya. "Iya. Mana yang susah?" Tanya Karina ikut duduk bergabung bersama putrinya. "Nomor 13. Bella sudah cari tapi tidak ketemu." Keluhnya sembari memperlihatkan buku catatannya. "Kamu salah rumus Bell." Ucap Karina kemudian menjelaskan. "Gara gara kamu Daddy kehilangan momen Bell." Gerutu Ansel lalu menyeruput kopinya.
__ADS_1