
"Selamat Bell." Ucap Karin saat melihat nilai hasil ujian nasional putrinya. "Terimakasih. Ini semua berkat Mom." Jawab gadis itu menangis haru sembari memeluk Ibunya. "Hm iya." Karin mengusap punggung putrinya dengan lembut. "Selamat." Ucap Ansel memeluk keduanya. "Terimakasih Dad." Bella membalas pelukan Daddynya.
Karin menghampiri anak dan suaminya yang masih duduk di ruang keluarga. "Sesuai janji Bell." Ucap wanita itu memberikan sebuah kotak kepada putrinya. "Mom. Bella hanya bercanda Mom." Jawabnya membuat Ansel berdecak. "Bercanda apanya orang tiap hari mengingatkan. Lagian dapat nilai 7,5 aja bangga." Sahut Ansel langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri. "Daddy kenapa sih. Kasih semangat begitu. Heran deh." Kesalnya. "Maaf." Ansel memeluk wanita itu.
Bella menatap Ibunya tak percaya. Ia begitu terkejut dengan isi kotak yang barusan dibuka. "Serius untuk Bella Mom?" tanyanya. "Iya." Jawab Karin sambil tersenyum. "Makasih." Bella langsung berhambur memeluk Ibunya. Ia sangat senang mendapatkan hadiah sepatu cantik impiannya. "Darimana Mom dapat? Kemarin aku cari nggak ada loh." Karin tersenyum. "Dari Umi." Jawabnya. Bella mengangguk. Ia tak heran lagi. Oma nya merupakan desainer yang terkenal jadi jika ingin mendapatkan apapun tentu saja mudah bagi wanita itu.
__ADS_1
Semuanya sedang menikmati nasi tumpeng buatan Karin untuk acara sukuran kecil kecilan. "Mau kuliah dimana Bell?" Tanya Jordan. "Di kampus dekat sekolah. Nanti Mom antar ya." Jawab gadis itu. "Berangkat sendiri. Orang sudah gede juga minta antar." Ansel menyela. "Biarin Dad. Daddy kok sewot." Kesal Bella karena apa apa jika bersama Ibunya Ia selalu dilarang. "Iya nanti diantar." Ucap Karin sembari menyuapi putranya makan. "Mom." Keluh Ansel. "Masalahnya apa sih tinggal anter aja kamu kok ribet banget." Lama diam Jordan akhirnya ikut campur juga. "Kamu nggak tau disana banyak mahasiswa. Gimana kalau istri aku di liatin para mata keranjang itu? Gimana kalau digodain?" Ansel menatap kesal sepupunya. "Bawa anak siapa yang mau godain. Jangan berlebihan." Jawab Jordan. "Eh jangan salah. Singgle atau istri orang. Punya anak atau enggak. Laki kalo udah suka ya suka ga peduli tentang itu semua. Kamu nggak lihat sekarang banyak perebut istri orang." Karin menghela napas. Wanita itu memilih membawa anaknya pergi daripada mendengar obrolan yang semakin kemana mana.
"Hey sayang. Kenapa pergi pergi sih." Ansel memeluk istrinya yang sedang berdiri di depan kaca sembari menggendong Isam. Wanita itu menatap keluar mengamati hujan yang turun cukup deras. "Nggak papa. Cuman pengen disini saja." Jawab Karin. "Kamu jadi antar Bella?" Tanya Ansel meletakkan dagunya di pundak sang istri. "Kalau kamu mengizinkan. Dia hanya minta hal kecil. Jika bisa kenapa tidak dituruti." Ansel menghela napas. "Baiklah. Nanti aku juga akan ikut." Ia memberikan izin namun tak membiarkan istrinya pergi tanpanya. "Iya." Jawab Karin.
"Mommy." Isam yang sedaritadi diam mulai merengek. "Kenapa sayang? Dingin?" Tanya Karin sambil memeluk putranya. Wanita itu kemudian duduk mengenakan kaos kaki untuk Isam. "Begini lebih hangat kan?" Ucap Ansel memeluk anak istrinya. "Tidur yuk. Anak kita dah ngantuk tuh." Lanjut Ansel.
__ADS_1
"Daddy. Aku boleh pakai uang buat sedekah di masjid?" Tanya Karin meminta izin pada suaminya. "Boleh dong Sayang. Itu uang kamu pakai apapun semau kamu jangan pakai izin segala." Jawab Ansel nyaman memeluk sang Istri. "Makasih." Ucap Karin sambil tersenyum. "Kamu menggoda aku ya?" Ansel mencubit gemas pipi Karin. "Menggoda apanya?" Wanita itu balik bertanya. "Senyum senyum imut begitu mau menggoda ya? Lihat anak kita sudah tidur. Aku pindahin ke kamar sebelah biar kita bisa...." Karin menutup mulut suaminya. "Tidur saja yuk. Sini aku peluk." Ucapnya memeluk Ansel kemudian segera memejamkan mata. "Dasar." Ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
Hy Readers....
Kayanya tinggal beberapa episode bakal tamat ya......
__ADS_1
Terimakasih sudah baca dan ikuti sampai sejauh ini....