
Siang yang agak mendung terlihat sepasang suami istri sedang duduk berdua di gazebo belakang rumah. "Gerah ya. Apa mau hujan." Ucap Karin mengibaskan telapak tangannya. "Masuk yuk. Di dalam adem ada Ac nya." Ajak Ansel. "Bosen Dad." Jawab Karin enggan beranjak. "Disini gerah ah. Bentar lagi kayanya juga mau hujan. Ayo masuk." Ia membantu istrinya berdiri kemudian mengajak wanita itu untuk segera masuk ke dalam.
Sampai di kamar Ansel langsung membantu istrinya melepas jilbab. Ia kemudian membaringkan Karin dengan hati hati di atas ranjang. "Sudah nyaman?" Tanyanya memastikan. "Sudah." Jawab Wanita hamil itu. "Mau sesuatu?" Ansel menawari langsung di tanggapi gelengan oleh sang istri. "Yasudah ayo tidur siang." Ia ikut naik ke atas ranjang kemudian memeluk istrinya. Ansel memang tidak bekerja dan melimpahkan semuanya pada Damian. Menjelang kelahiran anaknya Ia akan menjadi suami siaga dan selalu menemani istrinya kapanpun.
"Masih belum terasa apa apa?" Tanya Ansel mengusap perut istrinya barangkali wanita itu merasa tidak enak di perut seperti apa yang dikatakan dokter. "Belum." Jawab Karin yang sudah memejamkan mata karena rasa kantuk yang menyerang. "Hm cepat sekali tidurnya." Gumam Ansel mencolek pipi chubby istrinya. Jari pria itu kemudian turun di bibir lembab karin dan mengusapnya dengan lebut. "Tidak menyangka sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ibu." Lirihnya ikut memejamkan mata.
Sore hari hujan baru reda. Semuanya berkumpul di teras belakang mengobrol santai sambil menikmati buah. "Asem." Keluh Shiena memakan duku yang dikupaskan Mamanya. "Masih mau lagi?" Tanya Karin langsung di jawab gelengan cepat. "Dad. Bella kok belum pulang ya. Biasanya jam segini sudah di rumah." Karin sedaritadi khawatir namun baru diungkapkan pada suaminya. "Di telpon aja. Paling di rumah temannya." Ucap Jordan memberi saran. "Sudah berkali kali dihubungi tapi nggak bisa. Coba cari di rumah temannya dong Dad. Perasaan aku kok tiba tiba nggak enak." Ansel memeluk istrinya untuk menenangkan wanita itu. "Biar aku suruh orang untuk cari. Lagian aku juga nggak tau dimana rumah temannya." Jawab Ansel kemudian meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Gimana? Sudah ada kabar?" Tanya Karin melihat suaminya baru menerima telpon. "Sudah. Kamu di rumah saja ya. Biar aku sama Jordan yang keluar." Ucap Ansel terlihat terburu buru. "Bella nggak papa kan?" Ia tambah khawatir karena gelagat suaminya yang tidak biasa. "Nggak papa. Aku berangkat dulu." Jawab pria itu bergegas pergi setelah mengecup lembut kening sang istri.
Angin malam bertiup cukup kencang. Ansel dan Jordan bergegas turun saat mobil yang mereka tumpangi telah berhenti di depan sebuah club malam. "Kamu yakin Bella disini?" Tanya Jordan mengimbangi langkah sepupunya. "Ya. Aku yakin." Jawab Ansel sedikit berlari masuk ke dalam.
Suara musik menggema memenuhi ruangan Ansel mengamati sekitar. Mata pria itu langsung tertuju pada beberapa remaja yang masih mengenakan seragam tampak duduk di pojok. Keadaan yang belum terlalu ramai mempermudah langkah pria itu terlebih lagi dengan beberapa orang pengawal yang dibawanya untuk menghindarkan diri dari beberapa wanita liar.
Di sepanjang perjalanan hingga sekarang sudah sampai di rumah Ansel hanya diam. "Daddy dengarkan penjelasan Bella. Bella tidak ikut ikutan. Bella diajak dan dipaksa minum tadi." Jelas gadis itu. "Kenapa kamu mau diajak ke tempat seperti itu? Bagaimana kalau Mommy mu tau ha? Kamu tidak memikirkan perasaanya yang cemas menunggu kamu bolak balik keluar masuk untuk melihat kamu pulang atau belum." Bentak Ansel. "Daddy jangan beritahu Mom." Gadis itu sudah tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Karin saat tau jika Ia mendatangi tempat seperti itu dan minum minuman yang haram dan terlarang. "Diam kamu Bell. Keterlaluan kamu. Daddy memang pemabuk tapi Daddy juga tidak mengajari kamu hal hal seperti itu. Seburuk buruknya orang tua pasti ingin anaknya baik. Benar benar mengecewakan." Ansel menekankan kata katanya membuat Bella tak bisa berucap apapun. Memang benar pria itu sering marah. Namun marahnya kali ini beda. Tatapan Ansel tampak begitu kecewa dan sakit hati.
__ADS_1
"Paman." Shiena berteriak menghampiri Ansel. "Ada apa Shie?" Tanyanya. "Perut Mama sakit." Jawab gadis itu membuat Ansel buru buru menghampiri istrinya.
"Mom." Bella menangis menunggui Ibunya yang berbaring di brankar ruang persalinan. "Kamu darimana saja Bell? Badan kamu bau rokok dan alkohol." Tanyanya pelan sambil berdoa dalam hati. "Bella....." Belum selesai menjawab dokter datang menyuruh semuanya untuk keluar dari ruangan kecuali Ansel dan Umi Karin yang memang akan menemani wanita itu.
Ansel tak tega melihat istrinya yang sedang berjuang. Bulir keringat membasahi tubuh Karin. Wanita itu tampak sangat kelelahan. Dengan instruksi dari dokter bayi mungil berhasil di keluarkan. Suara tangis terdengar membuat mereka semua merasa lega dan mengucapkan syukur tanpa henti. "Terimakasih sayang." Ucap Ansel mencium istrinya penuh cinta.
Boy or girl?
__ADS_1