
Karin sampai di rumah setelah dua hari menginap di rumah Abi. Wanita itu duduk sembari memangku putranya yang agak rewel karena tidak enak badan. "Isam pengen apa?" Tanya Bella ikut duduk setelah pergi sebentar meletakkan bawaan sang Ibu di dapur. "Lagi rewel. Badannya anget." Jawab Karin menepuk bolong bocah tampan itu agar segera tidur. "Sudah minum obat?" Bella ikut ikutan manja menyenderkan kepala di bahu sang Ibu. "Sudah setelah sarapan tadi."
Ansel menghampiri istri dan anaknya setelah berbincang sebentar dengan tukang kebun di rumah. Pria itu meminta agar lahan kosong di samping huniannya di tanami tamanan buah. "Kenapa nggak istirahat di kamar saja?" Tanyanya ikut duduk bergabung. "Nanti dulu. Masih mau disini." Jawab Karin. "Bell. Kamu jangan lupa minum vitamin loh. Cuaca sering berubah ubah. Jaga daya tahan tubuh." Lanjutnya. "OK Mom." Bella menganggukkan kepalanya mematuhi perintah sang Ibu.
__ADS_1
Karin berbaring menemani putranya tidur. Wanita itu baru saja memasangkan plester demam karena suhu tubuh putranya yang meningkat. "Kamu sakit?" Tanya Ansel memeluk istrinya. Pria itu sedari pagi menanyakan keadaan sang istri yang sedikit pucat. "Nggak. Hanya lemas saja." Jawab Karin. Ansel menenggelamkan kepala di ceruk leher istrinya dengan nyaman.
Siang hari hujan turun begitu deras. Karin sedan menyuapi putranya makan sembari menemani suami dan juga Bella. "Sudah habis. Minum obat ya." Ucap Karin membuka botol obat sirup penurun panas untuk putranya. "Memangnya nggak pahit?" Tanya Bella. "Nggak. Rasanya jeruk." Jawab Karin menyuapkan satu sendok pada Isam. "Hari ini nggak usah mandi dulu ya. Takut nanti nggak sembuh sembuh." Tutur Ansel diangguki Istrinya.
__ADS_1
"Hujannya belum berhenti juga." Gumam Kari berdiri di depan jendela kaca sembari menggendong putranya. Wanita itu selalu menggendong Isam karena putranya takut beberapa kali ada kilat dan guntur yang saling bersautan.
Setelah menutup gorden, Ansel bergegas menghampiri istrinya. Ia duduk sambil memeluk Karin dengan hangat. "Daddy." Panggil Karin dengan lembut. "Ada apa sayang?" Tanya Ansel mengecup pipi dan istirnya berkali kali. "Aku boleh minta sesuatu?" Kalimat yang keluar dari mulut Karin membuat suaminya heran. Setelah bertahun tahun bersama baru kali ini wanita itu meminta sesuatu. Setelah hanyut sejenak Ansel menganggukkan kepala. Ia menanyakan apa keinginan istrinya. Di luar ekspektasi. Ia kira Karin minta tas, sepatu atau apa ternyata ibu satu anak itu hanya meminta sepeda. "Ada apa minta sepeda hm?" Tanyanya. "Pengen aja. Sudah lama nggak dibolehin naik sepeda. Boleh ya Dad...." Pinta Karin. Demi kesenangan sang Istri Ansel menuruti. Ia sebenarnya takut akan dimarahi keluarga. Namun keinginan sederhana Karin membuatnya tak tega untuk menolak. Terlebih selama ini Karin telah menjadi istri yang baik dan patuh. Sedikit menentang keluarga bagi Ansel tak masalah. Lagipula jika Ia dimarahi tentu istrinya akan membela. "Terimakasih." Karin yang begitu senang langsung memeluk dan mencium suaminya membuat Ansel tersenyum.
__ADS_1
Baru saja beberapa jam meminta Karin dibuat terkejut dengan dua sepeda yang sudah berada di basemen. "Cepat sekali." Gumamnya. "Gimana? Kamu suka Yang?" Tanya Ansel sembari memeluk tubuh ramping istrinya. "Suka. Terimakasih." Jawab Karin. "Siapa yang beli? Cepat sekali." Lanjut wanita itu. "Aku suruh pak supir pesan terus langsung diantar." Karin mengangguk mendengar jawaban suaminya. Orang kaya apapun bisa dengan mudah di dapat. Hanya tinggal suruh langsung ada seperti apa yang dilakukan Ansel. Karin sadar kekuatan uang dan kekuasaan sangat besar di dunia.
Malam hari semuanya berkumpul bersama di ruang keluarga. Karin sibuk mengupas jeruk lalu menyuapkan pada anak anak dan suaminya. "Dad besok aku ke toko ya. Sudah seminggu nggak kesana." Ucapnya meminta izin. "Ya nanti sama aku." Jawab Ansel. "Isam. Isam kalau sembuh nanti harus tidur sendiri." Lanjut Pria itu menuturi putranya. "Mau sama Mommy. Isam kan masih kecil." Jawab bocah tampan itu sambil mengunyah. "Isam sudah besar. Kamarnya mau di tambah apa? Nanti Daddy atur." Karin menggelengkan kepala melihat suaminya begitu gencar berusaha agar Isam mau tidur sendiri. "Sudahlah Dad. Biarin tidur sama Mommy." Sahut Bella membuat sang Ayah berdecak.
__ADS_1