
"Kakak." Kafil yang baru pulang langsung berhambur memeluk Karina. "Salamnya mana hm?" Tanya wanita itu sembari mengusap kepala adiknya penuh sayang. "Assalamualaikum." Ucap Kafil mendongak menatap wajah cantik Karin. "Waalaikumsalam." Jawabnya sambil tersenyum. "Bersih bersih dulu setelah itu makan." Kafil mengangguk cepat segera melaksanakan perintah Kakaknya.
Semuanya makan siang bersama termasuk Ansel yang baru pulang dari kantor langsung bergabung tanpa berganti baju terlebih dahulu karena sudah lapar. Semenjak Karin hamil Ia memang selalu mengantarkan di rumah mertuanya karena tak mau istrinya kelelahan ketika Ia ajak menemani di kantor. "Nanti kuenya dibawa ya." Umi mengingatkan. "Iya Mi." Jawab Karin. "Ansel. Kamu ikut ke Bandung?" Tanya Abi. "Enggak Bi. Istri lagi hamil nggak tega buat ninggalin. Nanti biar Damian saja yang gantikan." Abi mengangguk. "Kalau kamu pergi nggak papa. Soalnya itu kan penting. Karin sama Bella biar sama Umi." Ansel menolak dengan sopan. Bukannya Ia tak percaya dengan mertuanya. Namun perasaannya akan lega jika selalu berada di sisi sang istri. Apalagi hubungan mereka baru membaik. Ia akan memanfaatkan momen bersama istrinya untuk membuat wanita itu yakin bahwa Ia bersungguh sungguh untuk berubah.
__ADS_1
Karin dan suami telah berpamitan pada kedua orang tuanya. Kini wanita itu masih di peluk Kafil yang enggan untuk berpisah. "Besok kakak kesini lagi. Biarkan kakak pulang. Capek dia." Tegur Abi khawatir putrinya kelelahan karena terlalu lama berdiri. "Mau dibawakan apa hm?" Tanya Karin. "Tidak. Kakak datang saja sudah cukup." Jawab remaja itu cepat. "Yasudah. Kakak pulang dulu besok kesini lagi." Ia mencium kening adiknya kemudian segera masuk ke mobil.
Ansel selalu menggenggam tangan istrinya di sepanjang perjalanan pulang sembari meletakkan kepala dengan nyaman di pundak sang istri. "Daddy sakit?" Tanya Karin merasakan kening suaminya yang sedikit panas. "Entah. Agak nggak enak badannya." Jawab Ansel memejamkan mata. "Mampir di apotik ya pak." Ucap Karin pada supirnya. "Buat apa Mom?" Tanya Ansel. "Beli obat sebentar." Jawabnya. "Nggak usah ah. Nanti suruh orang saja." Karin menggeleng. "Sekalian lewat. Depan ada apotik. Mampir Pak." Jika sudah begini Ansel hanya bisa pasrah. "Baik Nyonya." Jawab pria yang berusia lima tahun lebih tua dari suaminya itu.
__ADS_1
"Minum obatnya dulu." Ucap Karin memberikan paracetamol dan air putih. "Dipake tidur saja." Ansel mengangguk. Ia menarik tangan istrinya minta untuk ditemani tidur. Dengan nyaman Ia memeluk tubuh ramping sang istri untuk menghangatkan badannya yang masih terasa dingin padahal sudah menggunakan selimut tebal.
"Mom." Bella yang baru pulang langsung berhamburan memeluk Ibunya. "Sudah pulang. Ganti baju dulu Mom ambilin kue di dapur." Ucap Karin. "Bella bisa ambil sendiri. Mom istirahat saja." Jawab gadis itu tak ingin membuat Ibunya yang sedang hamil kelelahan. "Nggak papa." Bella mengangguk. "Daddy sudah pulang?" Tanyanya sebelum pergi. "Sudah. Sedang tidur. Tidak enak badan."
__ADS_1
Karin masuk ke kamar putrinya. "Mom bikin sendiri?" Tanya Bella sembari membantu Ibunya membawa nampan. "Sama Umi tadi." Jawab Karin ikut duduk di tepian ranjang. "Mom." Bella menggenggam tangan Karina hendak menyampaikan sesuatu. "Ada apa? Kamu ada masalah?" Tanya Karin mengusap lengan Bella dengan lembut. "Mom jangan marah ya." Ucap gadis itu kemudian memberikan sebuah amplop pada Karina. Tak banyak bertanya Karin segera membuka. "Kamu panggilan orang tua? Memang salah apa?" Tanya Karin melipat kembali kertas yang sempat Ia baca. "Bella berantem sama teman. Bukan Bella yang memulai. Meraka duluan yang hina Mom katanya Mom mau nikah sama Daddy karena matre." Ungkapnya sambil menunduk. Dada Karin tiba tiba nyeri mendengar apa yang dikatakan putrinya. Ia korban disini namun malah difitnah. Semuanya seakan dia yang menggoda padahal mereka tidak tau cerita yang sebenarnya bisa menyimpulkan dengan pemikiran mereka masing masing. Tidak mengherankan, semuanya sudah tau jika dalam pernikahan itu Ansel menjadikan semua hartanya sebagai mahar. Bahkan bisnis bisnis Ansel juga sengaja diubah namanya dengan nama sang istri hingga menggiring opini jika Karin menikah untuk harta.
Ansel menghampiri istrinya yang sedang duduk di balkon kamar. Ia tiduran sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri dengan nyaman. "Sudah turun panasnya." Ucap Karin saat menempelkan telapak tangannya di dahi Ansel. "Sedang memikirkan apa?" Tanya Pria itu. "Bella dapat surat panggilan karna bertengkar dengan temannya." Jawab Karin memberikan amplop pada suaminya. "Kenapa bertengkar?" Karin mengehela napas kemudian menceritakan semuanya. "Sudah jangan dipikirkan. Aku akan selesaikan masalah ini." Ia bangun kemudian memeluk istrinya. Memang semuanya tak mudah bagi Karin dan Ansel paham akan semua itu. "Kalian yang mengusik istriku akan berakhir tidak baik." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1