
"Mommy." Bella memeluk Ibunya lalu memberikan ciuman beberapa kali. "Ayo sarapan." Gadis itu mengangguk kemudian segera duduk. "Daddy belum mandi?" Tanya Bella melihat Daddy nya masih mengenakan jubah tidur. "Belum." Jawab Ansel sembari makan sandwich yang telah di siapkan istrinya. "Jalan jalan yuk Mom." Ajak Bella. "Kemana?" Tanya Karina sembari menyuapkan makanan ke mulut putrinya. "Mall. Daddy nggak usah ikut. Ini urusan cewek." Jawab gadis itu. "Mana bisa begitu." Ansel tidak terima. "Daddy ngalah. Tiap hari Mom Daddy bawa ke kantor. Sekarang giliran Bella. Pokoknya kita perginya berdua. Titik." Tegasnya.
"Jadi pergi?" Tanya Ansel sembari memeluk istrinya. "Jadi." Jawab Karina berbalik menghadap suaminya membuat pelukan Ansel terlepas. Wanita itu kemudian mencium punggung tangan sang suami untuk berpamitan. "Jangan lama lama, jangan lihat atau berinteraksi dengan laki laki lain." Pesan Ansel sembari mengecupi seluruh wajah istrinya. "Dan pakai agar Daddy tau dimana Mom berada." Lanjutnya memakaikan jam tangan agar tenang.
Bella dan Ibunya sudah membeli beberapa keperluan. "Ayo pulang. Nanti kelamaan Daddy marah." Ucap Karin setelah cukup lama berkeliling. "Pengen burger." Rengek Bella. "Bawa pulang saja ya." Gadis itu mengangguk pasrah meski masih ingin berlama lama menghabiskan waktu dengan Ibunya. Ia paham betul Daddy nya yang posesif parah itu tak akan membiarkan istrinya berlama lama di luar. Bahkan pria itu juga menyita ponsel Karina karena cemburu.
__ADS_1
Malam hari Karin masih dibantu beberapa orang untuk bersiap menemani suaminya menghadiri suatu acara. "Nyonya sangat cantik." Ucap seorang wanita yang di tugaskan Ansel untuk mendandani istrinya. "Terimakasih. Apa tidak terlalu tebal?" Tanya Karina yang tidak biasa memakai make up. "Tidak Nyonya. Ini sudah paling tipis." Jawab mereka sembari tersenyum.
Ansel dan Bella menatap kagum wanita di depannya. Meskipun setiap harinya Karina cantik. Namun kali ini wanita itu sangat sangat cantik dengan make up natural dan pakaian elegan. "Wow. Mom luar biasa." Ucap Bella di tanggapi senyuman. "Ayo berangkat." Karina mengajak suaminya untuk segera bergegas. "Ah iya." Jawab pria itu segera berdiri dari duduk.
Ansel merangkul pinggang istrinya posesif. Dengan wajah datar dan mata tajamnya Ia memperhatikan orang orang yang tengah menatap istrinya penuh damba. Namanya tidak asing lagi terlebih di dunia bisnis. Pria itu masuk dalam jajaran orang orang berpengaruh dan menduduki posisi puncak. Harta, kekuasaan dan sikapnya yang tidak bersahabat menjadi sebuah identitas yang melekat erat untuk mendeskripsikan seorang Ansel. Namun sosok wanita cantik yang datang bersamanya menjadi sebuah tanda tanya. Yang mereka ketahui Ansel adalah seorang duda dengan satu putri. Namun wanita yang pria itu bawa bukan tampak seperti putrinya. Wajah keduanya tidak mirip sama sekali. Ansel cenderung berwajah jutek dengan darah campuran lokal dan eropa. Sedangkan si wanita dengan paras timur tengah, lokal dan eropa. Jikalau pun putrinya dia juga tidak akan bersikap sedemikian mesranya dengan merangkul pinggang hingga melayangkan kecupan di kening beberapa kali.
__ADS_1
Ansel bergabung dengan kedua mertuanya yang juga turut hadir. Pembicaraan mereka menjadi sebuah jawaban jika pria itu ternyata adalah menantu keluarga Shahab. Kedudukan mereka bisa dibilang sejajar. Yang membedakan hanya jika keluarga Karin orang yang sabar, taat dan ramah berbanding terbalik dengan sikap menantunya yang demikian. Usia Karina yang masih belia menjadi tanda tanya besar kenapa pernikahan mereka bisa terjadi. Belum lagi tentang bagaimana keluarga agamis itu bisa menerima Ansel menjadi anggota juga merupakan sebuah teka teki. Apakah ada unsur pemaksaan dari Ansel atau pernikahan bisnis? Namun dugaan kedua rasanya tidak tepat karena semua orang juga tau bagaimana perangai keluarga Shahab yang mulia.
"Kita pulang Umi, Abi." Ucap Karin berpamitan. "Hati hati." Jawab keduanya memeluk putri tercinta sembari mencium dengan sayang. "Iya. Ini tolong kasihkan ke Kafil ya." Ia memberikan paper bag pada sang Ibu. "Iya nanti Umi berikan. Kalian hati hati." Ansel mengangguk kemudian segera menggandeng tangan istrinya menuju mobil yang sudah menunggu.
Karina masuk duluan meninggalkan suaminya yang masih menerima telpon dari seseorang. Wanita itu bersih bersih sebentar kemudian menghampiri Bella yang sepertinya masih nonton TV di ruang keluarga.
__ADS_1
"Belum tidur? Tanya Karin ikut duduk bergabung di sofa. "Masih nunggu Mom pulang." Jawab Bella sambil tersenyum. "Mau es teh." Ia menawari putrinya. "Dingin Mom. Memang Mom nggak dingin apa?" Karina menggeleng melanjutkan minumnya. "Malam malam kok minum es sih Mom. Nanti pilek loh." Ucap Ansel duduk merangkul istrinya. "Sudah ah, jangan minum lagi. Pilek nanti." Ia mengambil gelas yang di pegang istrinya. "Masih banyak. Sedikit lagi." Karin masih ingin minum. "Satu teguk." Putus Ansel memberikan gelasnya kembali pada sang istri. Karina mengangguk kemudian minum lagi sampai sisa setengah. "Woh.... Nakal ya. Tadi katanya sedikit. Ini habis banyak." Ansel mencolek pipi istrinya yang menggembung karena rongga mulut wanita itu penuh. "Satu teguk." Jawab Karin setelah menelannya membuat Bella tertawa.