
Karina membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas. "Bangun Bell. Sudah jam 6 loh." Ucap Wanita itu berjalan mendekati ranjang setelah membuka gorden kamar. "Bangun yuk." Ia mengusap kepala lalu mengecup kening Bella dengan lembut. Gadis itu langsung duduk memeluk sang ibu dengan erat kemudian mengecup pipinya beberapa kali. "Mandi gih. Bau iler." Ucap Karina sambil tertawa kecil.
Ansel tersenyum melihat istrinya yang begitu serius saat mengikat dasi. "Kenapa seserius itu hm." Ucapnya sembari mencium bibir wanita di depannya yang begitu menggoda. Karin tersenyum mengambil jam tangan kemudian memakaikan pada suaminya. Sebagai sentuhan terakhir Ia memakaikan jas lalu menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuh suaminya. "Terimakasih." Ucap Ansel memeluk istrinya dengan erat.
Tiga orang sudah duduk di ruang makan untuk sarapan bersama. "Kamu baik baik saja?" Tanya Karin sambil meletakkan piring yang sudah terisi makanan di depan anaknya. Ia khawatir karena wajah Bella yang sedikit pucat. "Nggak papa Mom. Cuman sedikit pusing." Jawab Gadis itu sambil tersenyum. "Kalau pusing nggak usah masuk." Sahut Ansel langsung di tolak putrinya. Hari ini ada ulangan harian oleh karena itu Bella harus masuk. "Mom ambilkan obat dulu. Kamu minum ya. Nggak bikin ngantuk kok." Ucap Karin bergegas pergi.
Ansel sudah sampai di rumah mertua bersama istrinya. "Nggak mampir dulu?" Tanya Umi. "Mau langsung ke kantor Mi." Jawab Pria itu sopan. "Kalau gitu Ansel berangkat dulu Mi." Ucapnya berpamitan. "Iya hati hati." Ia mengangguk kemudian segera masuk ke mobil setelah mencium kening sang istri.
__ADS_1
"Gimana jadi istri?" Tanya Umi yang sudah duduk bersama putrinya. "Umi gimana?" Bukannya menjawab Karin malah balik bertanya. "Mbak kok malah tanya balik." Umi mencubit gemas hidung mancung Karina membuat wanita itu tertawa. "Ya ada suka dukanya. Umi pasti juga begitu. Apalagi Umi tau kan suami Karin seperti apa." Jawabnya. Umi mengangguk paham kemudian memeluk putrinya dengan hangat. "Allah maha membolak balikkan hati seseorang. Suamimu nanti juga akan berubah. Hanya perlu sabar dan ikhlas menjalani. Semua akan baik baik saja." Ia memberikan nasihat.
Sepulang dari kantor Ansel mampir ke rumah mertuanya untuk menjemput Karin sekalian makan siang disana. Pria itu baru saja selesai mandi dan berganti baju menghampiri istrinya yang masih duduk menunggu. "Maaf lama." Ucapnya sembari membantu sang istri berdiri. Karin menggeleng sambil tersenyum. Wanita itu mengajak suaminya bergegas menghampiri keluarga yang sudah menunggu di ruang makan.
Karina makan sepiring berdua sembari menyuapi adiknya. "Maklum ya. Kalau sama kakaknya memang manja begitu." Ansel mengangguk menanggapi mertuanya. "Iya Bi." Jawabnya sambil tersenyum. "Kamu dapat undangan peresmian dari Astrama?" Tanya Pria dua anak itu. "Iya. Abi juga dapat kan?" Ansel bertanya kembali dan di tanggapi anggukan oleh mertuanya.
"Mom." Lirih Bella membuat petugas UKS terkejut melihat Mommy Bella yang begitu cantik dan sangat muda. "Iya. Ayo pulang." Jawab Karin membantu gadis itu berdiri. "Bisa jalan nggak?" Tanyanya memastikan. "Bisa Mom." Jawab Bella. "Terimakasih ya sudah jagain Bella." Ucap Karina. "Sama sama." Jawab mereka sambil tersenyum.
__ADS_1
Ansel sambil membawa tas mengikuti anak dan istrinya yang sudah masuk duluan ke mobil. "Badan kamu panas begini." Ucap Karin sembari menempelkan telapak tangannya di kening Bella. "Nanti mampir ke apotik ya Pak." Lanjut Wanita itu. "Baik Nyonya." Jawab supir segera melajukan mobilnya. "Tadi sudah makan?" Tanya Ansel. "Belum." Jawab Bella sambil memejamkan mata.
Sampai di rumah Karin langsung mengecek suhu tubuh putrinya kemudian memasangkan plester demam di dahi gadis itu. "Minum dulu obatnya." Ucap Wanita itu sembari membantu. Hati Ansel menghangat melihat Karina yang begitu perhatian pada putrinya. Ia beruntung mendapatkan Karin yang menurutnya cantik luar dalam.
Malam hari Karin menemani Bella. Keadaan gadis itu sudah membaik dan panasnya juga sudah turun. "Makasih Mom." Ucapnya sembari memeluk Karina dengan erat. "Mommy mu tidak bisa bernapas nanti." Tegur Ansel yang baru datang. "Maaf." Bella tertawa kecil sembari melepas pelukan. "Terimakasih berkat Mom Bell bisa tau gimana rasanya punya Ibu. Terimakasih sudah menjadi Ibu yang terbaik dan memperlakukan Bella seperti anak kandung Mom sendiri. Bella sayang Mom melebihi apapun." Ia memeluk lagi namun tidak seerat tadi. Ansel tersenyum kemudian ikut bergabung memeluk keduanya. Baru kali ini Ayah dan anak itu merasakan kehangatan keluarga. Jika dulu lebih sibuk dengan urusan masing masing namun kini semenjak ada Karina mereka lebih meluangkan waktu untuk bersama.
Ansel terbangun mendengar suara isakan isakan kecil dan lengannya yang basah. "Mom." Ia menepuk pipi Karin yang sedang tidur sambil menangis. "Mom." Panggilnya lagi membuat Istrinya tersadar. "Mimpi buruk lagi?" Tanya Ansel sembari memeluk istrinya setelah memberi minum. Karin mengangguk masih menenangkan dirinya. "Dan mimpi buruk itu kamu saat menggauliku dan menculikku. Setiap hari aku selalu memimpikan kejadian menakutkan itu." Batin Karina.
__ADS_1