Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Abrisam


__ADS_3

Karin sudah diperbolehkan pulang setelah satu hari berada di rumah sakit. Wanita itu tampak bahagia menggendong bayi tampan yang diberi nama Abrisam Manaf Morino Shahab sesuai dengan keinginan kakek untuk memberikan nama belakang warisan keluarga dan nama Morino yang merupakan nama belakang Ansel sebagai Daddynya. Agar tidak ada saling mengganjal dalam hati dan agar Karin juga tidak dibilang berat sebelah maka wanita itu memutuskan untuk menggunakan dua nama keluarga untuk anaknya. Meskipun Kakek awalnya tidak terima nama besarnya di sandingkan dengan nama belakang Ansel. Namun pria patuh baya itu akhirnya bisa mengerti saat sudah bicara dari hati ke hati bersama cucunya.


"Anak Daddy bangun ya." Ucap Ansel melihat putranya membuka mata. "Mommy masih mandi. Tunggu sebentar ya. Jangan rewel jangan nangis." Lanjutnya sembari mengusap pipi bayi mungil itu dengan lembut.

__ADS_1


Bella menghampiri Daddy nya yang sedang berceloteh dengan sang adik. "Dia sangat tampan." Ucap gadis itu memperhatikan Baby Isam yang begitu mirip dengan Ibunya. "Mommy mana Dad?" Tanyanya sedikit canggung karena semenjak kemarin Ia tak diajak bicara oleh Ansel. "Mandi." Jawab pria itu singkat. Bella mengangguk tak bertanya lagi. Ia paham Daddynya masih marah dan kesal dengan apa yang dilakukannya kemarin. Bella hanya merasa tertantang karena Ia selalu di ejek anak bodoh dan minim pergaulan. Hanya untuk membuktikan bahwa Ia adalah seorang yang bebas sampai sampai nasihat yang Ibunya berikan dilanggar. Bella merutuki kebodohannya sendiri telah masuk ke dalam pergaulan bebas. Semua kebahagiaan sudah lengkap dengan hadirnya Karin dalam keluarga. Ia hanya mencari sebuah pengakuan jika Ia sudah tumbuh dewasa namun dengan cara yang salah.


"Bangun ya sayang." Ucap Karin bergegas menyusui putranya. Bayi itu tidak rewel sama sekali menunggu sampai Ibunya selesai mandi. "Shie mana Bell?" Tanyanya. "Di bawah sama yang lain Mom." Jawab gadis itu. "Kenapa kalian dari kemarin saling diam? Ada masalah?" Ansel berdiri. "Tanya saja pada putrimu." Jawabnya. "Bell." Karin meminta penjelasan. "Nanti Bella bicara Mom. Ini bukan saat yang tepat." Tak mau membuat suasana makin tidak nyaman Karin hanya bisa mengangguk. Wanita itu memberikan waktu agar semuanya membaik dan anak serta suaminya mau berbagi cerita.

__ADS_1


"Kenapa kalau aku datang selalu tidur." Gumam Kafil yang sedang melihat keponakannya. "Habis minum Asi jadi ngantuk. Kamu nggak ngaji Dek?" Tanya Karina sembari mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Libur lah Kak. Masa Kakak melahirkan disuruh ngaji juga." Jawabnya. "Kakek sudah sudah suruh berangkat tapi nggak mau." Sahut pria paruh baya itu. "Nanti akikah nya di rumah ya. Biar Abi sama Umi yang siapkan semuanya." Karin mengangguk pasrah menuruti keinginan kedua orang tuanya. "Yang sederhana saja." Kakek menggeleng cepat. "Mana bisa begitu. Kakek akan mengundang banyak tamu. Jadi acaranya harus besar." Ucapnya tidak terima. "Ih Kakek. Jangan berlebihan." Karin tidak setuju. "Biarlah. Untuk cicit kakek tidak boleh sembarangan." Jika sudah begini tidak ada yang bisa membantah. Semuanya diam pasrah hanya mengikuti kemauan pria paruh baya itu.


"Mama." Shie menghampiri Karin yang sedang mengobrol dengan kedua orang tua Jordan. "Iya. Sudah makan belum?" Tanya wanita itu penuh perhatian. "Sudah." Seakan tak peduli sepasang suami istri itu bahkan tidak menyapa cucunya sama sekali membuat Karin buru buru mengajak Shie untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Suasana kamar mewah itu tampak kembali sepi. Karin sedang beristirahat di samping bayi tampannya yang sudah tertidur pulas. "Lelah ya." Ucap Ansel menghampiri istrinya. Ia mengecup kening wanita itu dengan lembut kemudian ikut berbaring sambil memeluk Karina dari belakang. "Nenek dan Kakek Shie memang seperti itu ya?" Tanya Karin. "Iya. Kamu tau sendiri kan sekarang." Jawab Ansel sembari mengusap lengan istrinya. "Karena itu juga Jordan tidak membawa Shie ke rumah. Percuma saja disana juga tidak dianggap." Lanjutnya.


"Sayang." Panggil Ansel dengan lembut. "Iya." Jawab Karin masih fokus mengamati putranya. "Cukup Isam saja ya. Jangan ada lagi." Ansel tak tega melihat istrinya kesakitan berencana untuk tidak menambah momongan lagi. Baginya sudah cukup sekali ini saja Karin terbebani dengan kehamilan dan sakit karna melahirkan. "Kenapa begitu?" Ia ingin tau dibalik alasan suaminya yang berkata demikian dan tiba tiba. "Hanya tidak ingin melihat kamu kesakitan. Aku baru tau perjuangan seorang wanita itu sangat luar biasa." Jawab Ansel karena memang dulu saat istrinya melahirkan Bella Ia tak menemani. "Memang sudah kodratnya begitu. Sakit sebentar. Tapi ketika sudah melihat bayi mungil tampan seperti ini rasa sakitnya seketika hilang." Jawab Karin tersenyum. Ia tak menyangka sudah menjadi seorang Ibu dari putra kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2