
Bella sudah siap di meja makan namun Daddy nya belum ada disana. Tidak seperti biasanya yang sudah duduk di kursi sebelum Ia datang. "Bi. Dimana Daddy?" Tanyanya pada salah seorang pelayan yang mengantarkan susu hangat. "Tuan pergi dengan Tuan Damian subuh tadi. Bibi lupa kasih tau Nona." Jawabnya. "Pergi kemana?" Wanita paruh baya menggeleng tanda Ia tidak tau kemudian segera undur diri.
"Brak..." Suara keras benda menghantam dinding terdengar bertubi tubi. Seorang Pria dengan wajah merah padam menyalurkan emosinya yang memuncak. Gadisnya kabur entah kemana dan para pengawalnya baru tau. "Bodoh. Cepat cari sampai dapat. Jika tidak, akan aku habisi nyawa kalian." Bentaknya penuh amarah sambil mencengkram kemeja salah satu pengawal dan menghempaskannya dengan kasar. "Baik Tuan." Jawab Mereka segera bergegas sebelum Bosnya tambah marah.
Ansel menatap Damian yang masih berdiri di depannya. "Kenapa orang orang mu kacau sekali. Hanya menjaga seorang gadis saja tidak becus." Ucap Pria itu dengan napas yang memburu. "Maaf Tuan. Saya akan ikut mencari Nona." Jawabnya sambil menunduk.
Dua orang pria sedang menyusuri hutan. Ansel turut serta mencari bersama Damian. Ia tak bisa hanya berpangku tangan menyerahkan semua pada para pengawalnya. "Pasti dia kedinginan." Lirih pria itu sembari terus berjalan. Ia marah, namun rasa khawatirnya lebih mendominasi. Hawa di hutan begitu dingin di pagi hari saat matahari terbit seperti ini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Karina dari semalam. Gadis itu pasti tidak baik baik saja sekarang.
Di sisi lain sosok gadis tengah berjalan semakin menjauh dari area hutan. Ia berhenti sejenak di dekat sungai untuk merehatkan kakinya yang terasa pegal. "Ya Allah tolong hamba." Ucapnya sambil meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian Ia terisak. Sama sekali tak di sangka pengalaman hidup yang Ia alami akan jadi seperti ini.
__ADS_1
Cukup lama menenangkan diri Karin berdiri lagi. Ia mendekati aliran sungai lalu mengambil air dengan daun. "Bismillah." Ucap gadis itu lalu meminum air yang begitu bening dan segar. Rasa dahaga seketika hilang membuat tubuhnya lebih bertenaga.
Siang hari cahaya matahari tak terlalu bisa menerobos lebatnya hutan. Namun Karin tau ini waktunya untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah mensucikan diri Ia memakai kembali Jilbabnya dan mulai sholat dengan alas beberapa lembar daun daun besar yang Ia petik dari sekitar.
Karin memegangi perutnya yang lapar. Dari semalam Ia memang tidak makan apapun. Manik matanya menelisik sekitar mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut. Meskipun Ia tak pernah ke hutan tapi setidaknya Ia tau dari membaca buku. Allah benar benar menolongnya berkali kali. Ia sangat bersyukur ada pohon murbei yang berbuah lebat tak jauh dari tempatnya berdiri.
Beberapa saat makan suara gonggongan anjing membuat Karina waspada. Suaranya yang begitu keras menandakan jaraknya yang dekat. Ia cepat cepat melahap buah murbei yang ada di tangannya kemudian bergegas pergi menjauh.
Anjing pelacak berlari ke satu tujuan. "Semakin dekat." Ucap Damian segera mengikuti kedua hewan itu pergi. "Tuan. Nona disini." Teriaknya membuat Ansel bergegas menghampiri sumber suara. Napas Pria itu seketika tercekat melihat keadaan Karin yang memprihatinkan. Tak mau buang buang waktu. Rasa cemas menuntunnya untuk segera mengangkat tubuh ramping Gadis itu untuk dibawa pulang.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Ansel tak sabaran kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Karin. "Nona demam dan juga kelaparan. Lukanya sudah saya obati. Hanya perlu makan dan istirahat keadaannya akan pulih." Jawab Wanita itu sambil memberikan obat.
Ansel mengusap wajah pucat Karina dengan lembut. Ia menelusuri setiap lekuk pahatan indah di di depannya dengan jemari telunjuk. Hatinya seperti di tikam ribuan belati melihat kondisi Karin yang begitu lemah dan pucat. "Jangan seperti ini lagi aku mohon." Lirihnya menggenggam tangan gadis itu dan mengecupnya beberapa kali.
"Baby." Panggil Ansel panik karena tidak mendapati Karina ada di ranjang. Namun seketika pria itu tenang melihat gadisnya sholat di ruang ganti. Perlahan Ia menutup pintu membiarkan Karin melaksanakan Ibadahnya dan memilih untuk menunggu di sofa.
"Ayo makan." Ucap Ansel mulai menyuapi Karina. Karin hanya bisa menurut saja karena perutnya benar benar lapar. "Sudah aku bilang jika pelarian akan sia sia dan membuatmu terluka. Jangan diulangi lagi. Kamu dengar?" Tanyanya hanya di respon dengan anggukan. "Jawablah dengan suaramu. Dari semalam aku tidak mendengarnya." Pinta pria itu menekankan setiap kata katanya. "Dengar." Jawab Karina pelan.
"Tuan." Ucap Pelayan di dapur terkejut melihat kedatangan majikannya. "Ada yang perlu kami siapkan?" Lanjutnya bertanya. "Tidak. Pergilah. Aku akan buat sendiri." Jawabnya. Tak banyak bertanya mereka segera bergegas pergi. Ansel akan membuat coklat panas dan roti panggang selai kacang sesuai keinginan Karina. Sebenarnya pria itu bisa saja menyuruh orang. Namun berhubung Karin yang meminta sendiri maka dia akan membuatnya.
__ADS_1
Ansel menghampiri Karina yang sedang duduk di sofa. "Sesuai keinginan kamu?" Tanyanya. Karin menutup al quran kecilnya lalu meletakkan di atas meja. "Terimakasih." Ucap gadis itu meraih cangkir dan meminum coklat panasnya pelan pelan. Ia kemudian mulai makan roti panggang selai kacang yang terlihat begitu menggiurkan. "Om buat sendiri?" Ansel mengangguk cepat. "Iya. Apa tidak enak?" Ia balik bertanya. "Enak." Jawab Karin jujur.
Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Sosok pria perlahan naik ke atas ranjang. Ia mendekap tubuh ramping gadis pujaannya yang sedang tidur begitu dalam. "Jangan pergi lagi. Jangan terluka lagi." Lirihnya mengecup benda kenyal menggoda yang tepat berada di depan wajahnya dengan lembut. Tangan pria itu terulur mengusap pelan bibir lembab Karin dengan ibu jari untuk menghilangkan saliva nya yang tertinggal. Seperti malam malam sebelumnya Ia akan pergi ke kamar mandi. Mengeluarkan sesuatu yang menyiksa karena sebuah ciuman yang tak terbalaskan. Hasrat yang terlanjur bangkit harus di redam sendiri karena tak mendapat pelampiasan.