Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Ga Boleh Cium


__ADS_3

Karin kembali lagi ke kamar setelah berhasil membangunkan Bella untuk sahur. "Bangun Dad. Daddy jadi ikut puasa tidak? Nanti keburu imsak loh. Ayo sahur." Ucapnya dengan lembut sembari menepuk pundak suaminya pelan. "Jam berapa?" Ansel tak bangun malah memeluk pinggang istrinya. "Setengah empat. Ayo. Bella sudah tunggu dibawah." Jawab Karina sambil membantu pria itu untuk bangun.


Ansel merangkul pinggang istrinya menghampiri Bella yang sudah menunggu di ruang makan. "Maaf lama. Daddy susah bangun." Ucap Karin bergegas menyiapkan makan. "Sudah Bella duga Mom." Jawabnya menyindir. Ansel tak memperdulikan putrinya memilih untuk menatap hidangan di atas meja. "Ini apa?" Tanya Pria itu sambil menunjuk dus berukuran sedang berwarna coklat. "Itu kurma dari Abi." Jawab Karin segera duduk. "Kurma bukannya untuk buka puasa ya Mom?" Tanya Bella. "Sahur juga disunnahkan makan kurma. Karena gula alami yang dikandung di dalamnya akan diubah menjadi energi yang sangat dibutuhkan ketika puasa." Ia meraih kotak di depannya kemudian memberikan anak dan suaminya masing masing tiga biji. "Manis." Ucap Ansel. "Beli dimana?" Lanjut pria itu ingin tahu. "Dari arab. Abi biasa dikirimi Kakek." Jawab Karin. Ansel hanya mengangguk. Selama menikah dengan istrinya Ia baru satu kali bertemu dengan Kakek Karina. Pria berperawakan blasteran itu nampak masih sangat bugar hingga menetap disana untuk mengurusi bisnis kurma dan lain lain yang luar biasa. Karin bukanlah dari keluarga sembarangan. Wanita itu keturunan orang kaya yang hartanya jauh diatas Ansel. Abi Karin anak tunggal sedangkan Uminya anak kedua namun Kakaknya telah meninggal menjadikan sepasang suami istri itu pewaris kekayaan keluarga yang berlimpah. Mendengar nama Kakek disebut oleh istrinya membuat pria itu sedikit takut. Pertemuan mereka bukanlah hal baik. Jika mertuanya sudah menerima lain halnya dengan Kakek Karin yang masih menentang hubungannya dan Ansel menjadi si tersangka yang paling dibenci karena telah menodai cucu kesayangan.

__ADS_1


Pagi hari Ansel terbangun dari tidurnya. Sehabis sholat subuh tadi memang Ia lanjut tidur karena masih benar benar mengantuk. "Morning Kiss sayang." Ucapnya memeluk Karin yang sedang membereskan tempat tidur. "Nggak boleh cium. Kan lagi puasa." Jawab Karin. "Kok begitu. Kita kan sudah halal." Ansel berdecak. "Iya. Tapi ciuman bisa mengundang syahwat. Nanti lain jadinya dan bisa membatalkan. Selain tahan lapar dan dahaga puasa itu juga menahan hawa napsu dari kemarahan, dan lain lain yang sudah dijelaskan kemarin." Karin mengingatkan kembali apa yang beberapa hari lalu Ia sampaikan. "Tau gitu nggak puasa." Keluh Ansel. "Heh. Kalau Daddy nggak puasa tapi yang mau dicium puasa ya sama saja. Puasa itu wajib bagi setiap muslim. Daddy katanya mau berubah." Ansel mengangguk. "Kalau berhubungan suami istri boleh?" Tanyanya. "Boleh. Tapi malam hari dan sebelum sahur harus sudah mandi wajib untuk mensucikan diri." Jelas Karin. "Malam ini ya... Aku mau jenguk Baby." Ia mengusap perut istrinya lembut. "Hampir tiap hari di jenguk. Lama lama anak kita bosen sama Daddy. Sudah jam 7. Aku mau belanja. Takut kesiangan. Daddy mandi gih. Bajunya sudah siap." Karin melepaskan lengan suaminya. "Belanja sama Aku. Tunggu sebentar. Aku mandi cepat." Tak ingin ditinggal Ia secepat kilat masuk ke kamar mandi.


Ansel sudah berganti baju hendak menemani istrinya berbelanja. Pria itu berjalan mendekati Karin lalu berjongkok untuk memasangkan sepatu kets sang istri. "Kita belanjanya di pasar Dad. Daddy jangan kaget ya." Ucap Karin karena Ia tau kalau suaminya itu pasti tidak pernah datang ke pasar tradisional. "Kenapa nggak di swalayan?" Tanyanya cemberut. "Ada sesuatu yang tidak bisa didapatkan di swalayan." Jawab Karina sambil tersenyum.

__ADS_1


Ansel terus merangkul pinggang istrinya agar wanita itu tak berdekatan dengan orang lain. Jujur saja sedaritadi Ia sudah tidak nyaman dan merasa mual. Namun demi istri tercinta Ia menahan diri untuk tidak protes. "Masih lama Yang?" Tanyanya. "Beli singkong sebentar setelah itu langsung pulang." Jawab Karin berusaha secepat mungkin karena kasihan melihat suaminya yang tampak pucat.


Sampai di rumah Karin menemani suaminya istirahat. "Masih mual?" Tanyanya mengusap kepala Ansel dengan lembut. "Sudah baikan." Jawab Pria itu merasa nyaman sekarang. "Yasudah aku ke dapur dulu ya." Hendak beranjak namun Ansel mencekal tangannya membuat Karin mau tak mau harus duduk kembali. "Temani disini." Rengek pria itu manja.

__ADS_1


Ansel bersama anak istrinya menunggu waktu berbuka sambil bersantai di ruang keluarga. "Pasti kamu lapar ya di dalam. Mom maksa buat puasa sih." Ucap Bella mengusap lembut perut Ibunya yang sedang membaca ayat ayat suci al quran dengan suara lirih. "Masih lama ya Yang?" Tanya Ansel lemas. "Sepuluh menit lagi." Jawab Karin menutup kemudian mencium al quran kecilnya sebelum di letakkan diatas meja.


Puasa pertama Ansel begitu berkesan indah dengan kehadiran istrinya. Lewat Karin Ia tau apa itu agama dan juga tuhan. Momen seperti ini sangat membahagiakan. Ansel jadi tau bagaimana rasanya kehangatan sebuah keluarga. "Kolaknya enak." Ucap pria itu makan dengan lahap. "Mom kalau pergi belanja lagi ajak ya." Ucap Bella. "Nggak. Mom nggak akan kesana lagi. Nggak boleh. Kalau memang mau beli apa apa suruh Bibi saja kesana." Sahut Ansel. "Memangnya kenapa?" Tanya Bella. "Daddy muntah muntah karena nggak cocok sama pasar tradisional." Jawab Karin sambil tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2