
Suasana di rumah tampak sepi karena para pekerja sedang pulang ke kampung halaman masing masing untuk menyambut lebaran. Ansel dan Jordan duduk berdua di ruang tengah. Anak anak sedang tidur siang sedangkan Karin berada di rumah Uminya sejak pagi. Ansel tidak menemani istrinya disana karena Kakek Karin mengusirnya pergi membuat pria itu pasrah dan kembali pulang. "Parah juga Kakek Karin." Ucap Jordan sambil menggelengkan kepala. "Tidak heran sih. Aku pun akan muak melihat wajahmu itu jika aku jadi dia." Lanjutnya menghempaskan Ansel yang sudah terbang kembali ke bumi saat di sangka kalimat pertama sepupunya itu berasa empati namun tidak taunya tetap menjatuhkan di akhir. "Sialan." Gerutu Ansel menatap nyalang pria di sebelahnya. Jordan menghela napas. Ia tak bisa memberikan saran apapun karena sudah tau semua yang dilakukan sepupunya itu berakhir sia sia. Dari awal pernikahan Karin memang tidak direstui. Kakek marah besar. Ia berusaha keras memisahkan cucunya dari Ansel tanpa Karin sadari. Jika bukan karna Karin sedang mengandung sekarang mungkin Pria itu akan tetap sama.
"Assalamualaikum." Suara merdu seorang wanita membuat dua orang pria langsung menghentikan obrolan. "Waalaikumsalam. Kenapa tidak telpon? Kan aku bisa jemput." Ansel langsung memeluk istrinya. "Saya pamit Mbak." Ucap Supir Karin setelah meletakkan beberapa barang. "Iya Pak. Terimakasih. Hati hati." Jawab wanita itu sembari tersenyum lembut. Pak Budi mengangguk kemudian bergegas pergi setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Karin itu apa?" Tanya Jordan melihat belanjaan iparnya. "Bahan buat bikin kue. Sebentar lagi lebaran. Aku mau bikin kue kering." Jawabnya. "Kenapa nggak beli aja. Kamu lagi hamil." Ansel merasa khawatir Istrinya kecapean. "Nggak papa. Nggak capek kok bikinnya." Karin berusaha meyakinkan membuat Ansel menghela napas kemudian terpaksa mengangguk menyetujui kemauan sang istri.
Karina sudah bersih bersih. Wanita itu kini sedang berbaring nyaman sambil di peluk suaminya. "Kalau kamu jadi pergi sama Kakek aku nggak bisa begini. Pasti nggak bisa tidur." Ansel berkeluh kesah sembari memejamkan matanya agar tidak menangis. "Hanya beberapa hari. Nanti cepat pulang." Jawab Karin menenangkan suaminya. "Bagiku beberapa hari itu sangat lama. Bagaimana kamu bisa tega begitu." Bulir bening menetes mengenai pelipis Karin saat Ansel membuka mata. "Kenapa tega meninggalkan aku." Sekarang Ia mulai terisak. Karin mendekap tubuh suaminya memberikan usapan lembut di kepala pria itu agar segera tenang. "Shut.... Jangan begini." Ucapnya. "Tidak akan lama. Hanya beberapa hari saja karna Kafil tidak libur panjang. Lagipula kita kan bisa video call atau telpon. Jangan sedih." Ia masih mengelus kepala suaminya hingga membuat Pria itu nyaman dan tertidur pulas.
__ADS_1
Shie menghampiri Ibunya sambil membawa kubis yang di ambil dari kulkas karna Karin tadi meminta. "Ini kan Ma?" Tanyanya. "Iya sayang. Terimakasih." Gadis itu mengangguk kemudian tersenyum karena senang karena panggilan lembut dan penuh sayang dari Mamanya.
Buka puasa sedang berlangsung di kediaman Ansel. "Mau lagi." Ucap semua orang berbarengan sambil menyodorkan mangkuknya membuat Karin tersenyum. Mereka saling lirik satu sama lain. "Aku duluan." Ucap Ansel. "Kenapa pada kompakan." Karina segera menyiapkan lagi untuk suaminya. "Hati hati masih panas." Ia meletakkan mangkuk yang sudah siap di depan Ansel kemudian beralih mengambilkan yang lain juga. "Bella katanya mau diet kok makan banyak lagi." Sindir Jordan. "Haish... Om ini. Bella sedang masa bertumbuh." Jawabnya sambil cemberut.
__ADS_1
"Alhamdulillah sampai rumah." Ucap Karin baru pulang tarawih bersama keluarga. Baru saja tiba hujan turun deras membasahi tanah yang sudah mengering. "Untung sudah sampai." Ucap Bella segera duduk. "Kalau di arab sana panas ya Mom?" Tanya gadis itu melihat Mommynya kembali dari dapur sambil membawa eskrim. "Panas. Kalau di dalam enggak. Kan ada AC." Jawabnya sambil menyuapkan eskrim ke Shie dan Bella bergantian. "Karin, Kamu pernah ke Dubai?" Tanya Jordan. "Sering untuk menemani Kakek bertemu dengan rekan bisnisnya. Tapi aku tidak suka disana." Ansel mengusap bibir istrinya. "Kenapa?" Tanya Pria itu. "Terlalu mewah dan berkilau." Bella tersenyum. "Orang arab disana ganteng nggak Mom?" Bukannya Bella namun Ansel yang sedang menunggu jawaban istrinya. "Biasa saja." Ansel tersenyum mendengar jawaban dari Karina yang sibuk makan eskrim. Ia tersenyum melihat Karin yang begitu menggemaskan. "Seperti Kakek buyut ya? Kan orang arab." Shiena ikut menyahut. "Kakek buyut berdarah campuran bukan orang arab asli. Kalau orang arab asli tidak begitu wajahnya." Jawabnya menjelaskan. "Tapi Kakek dan Kakek buyut lebih tampan dari Papa dan Paman." Tutur Shie membuat dua pria disana berdecak. "Oh. Mulai genit ya." Ucap Karin mencolek hidung putrinya.