
Karin menghampiri Kakek dan Adiknya yang sudah duduk di ruang makan. "Mau jalan jalan kemana lagi hari ini?" Tanya Pria paruh baya itu. "Di rumah saja Kek. Karin sudah bosan jalan jalan." Jawabnya sambil tersenyum. "Yakin kamu tidak mau beli oleh oleh untuk dibawa pulang?" Mendengar kata oleh oleh Karin tampak diam. Ia belum beli apa apa untuk anak anak, suami dan juga sepupu suaminya. "Ah iya. Nanti kita ke Mall kalau begitu." Jawabnya.
__ADS_1
Kakek menggandeng kedua tangan cucunya. Tiga orang itu sudah sampai di Mall ditemani beberapa orang untuk membawakan belanjaan. "Kafil mau beli apa?" Karin menawari. "Tidak berminat Kak. Kakak saja yang belanja." Jawabnya.
__ADS_1
"Kakek terima telpon sebentar." Ucap pria patuh baya itu menyuruh kedua cucunya duduk menunggu. "Kenapa kamu tidak menyukai suami Kakak?" Karin akhirnya menanyakan apa yang mengganjal di hatinya selama ini. Ia bukan tak tau. Namun Ia hanya memberikan Kafil waktu berharap adiknya akan menerima Ansel namun sampai sekarang nyatanya tidak ada perubahan. "Sudah jelas Kak. Tidak perlu Kafil jabarkan kakak pasti sudah tau." Jawabnya. Wajah tampan dan sikap adiknya itu memang sama seperti sang Kakek. Keras dan dingin terhadap orang lain tak seperti Abi yang ramah dan lembut. Karin hanya bisa menghela napas. Ia tak mau memaksakan karna itu akan percuma. Membiarkan Tuhan yang mengubah semua seiring dengan berjalannya waktu adalah hal yang terbaik. Ia tak mau jika dibilang membela suami daripada adik atau kakeknya sendiri. Hubungan harus selalu terjalin dengan baik karena sampai kapanpun mereka adalah keluarga sedarah.
__ADS_1
"Marahnya Kakek adalah hal yang wajar. Kakek tidak mau cucu kesayangan Kakek di sakiti oleh siapapun. Kakek juga tak menyangka jika pria sepertinya yang menikah denganmu. Silsilah keluarga sangat penting. Kakek tidak bicara tentang harta. Kakek menyukai seseorang dari perangainya. Orang tentu akan mewarisi sikap orang tua dan suamimu mewarisi sikap orang tuanya yang demikian. Kakek tak diam seperti yang kamu sangka sayang. Kakek selalu mencari informasi seperti apa laki laki yang mendampingi cucu tercinta ini. Suamimu itu kejam, ambisius dan pemaksa." Ucap Kakek sembari menggenggam tangan Karin. Tak mengelak semua yang dikatakan kakeknya memang benar. Ia mengalami sendiri. Mulai dari Ansel yang menerornya, menculiknya dan mengambil kesuciannya sudah menjelaskan tentang bagaimana pria itu.
__ADS_1