
Ansel masih memeluk istrinya. Mereka baru saja bermaaf maafan di hari raya. Begitu membahagiakan. Ini pengalaman pertama bagi pria itu dan terasa sangat indah berkat kehadiran sang istri. "Ayo ke rumah Abi. Kakek sudah menelpon terus." Ucap Karin. "Iya ayo." Jawab Ansel mengecup kening wanita cantik itu kemudian segera berdiri.
"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah diikuti suami, ipar dan anak anaknya. "Waalaikumsalam." Jawab semua orang berhambur memeluk wanitanya. "Kakek lama nunggu kamu." Keluh pria paruh baya itu membuat cucunya tertawa kecil.
__ADS_1
Setelah selesai acara sungkeman sebagai tradisi keluarga di hari raya mereka mengobrol santai. Ansel duduk bersama sepupunya karena sang Istri sudah bersama Kakek dan Ia tak mau mengusik. "Besok kita berangkat ya." Ucap pria paruh baya itu sambil mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Mama mau kemana?" Tanya Shiena. "Mau ke arab." Jawab Kakek Karin. "Kok mendadak Yah. Bukannya Ayah bilang tiga hari lagi." Protes Abi mewakili isi hati Ansel. "Nggak. Ayah nggak mau lama lama nanti kurang waktu disana karna Kafil harus segera masuk sekolah." Abi pun diam tak berani menjawab karena tak mau jika hubungannya dengan sang ayah yang baru membaik rusak lagi.
Karin sedang berada di kamarnya bersama anak anak. "Mom kenapa nggak bilang kalau mau pergi jauh tanpa kita." Ucap Bella yang sedang tiduran memeluk Ibunya. "Lupa. Lagipula hanya sebentar. Cuman beberapa hari nggak lama lama kok." Jawab Wanita itu. "Mama nggak bisa ya kalau nggak pergi." Kini Shiena yang mengeluh. "Nggak bisa. Kakek buyut kalau sudah mau sesuatu nggak mungkin dibantah." Jawabnya.
__ADS_1
Abi duduk di sebelah Kakek setelah semuanya membubarkan diri. "Yah." Panggilnya. "Hm." Jawab pria paruh baya itu singkat. "Ayah jangan bersikap begitu sama Ansel. Bagaimanapun Ansel sudah menjadi suami Karina Yah." Ucap Abi dengan hati hati. "Apa maksudmu?" Tanya Kakek menatap putranya tidak suka. "Yah. Ayah jangan bersikap begitu. Kasian Ansel merasa tertekan dan takut." Jawabnya. Kakek kecewa dengan ucapan anaknya yang terkesan membela si menantu kurang ajar yang telah menyakiti, menodai dan membuat cucu kesayangannya ketakutan. "Kamu membela seorang penjahat? Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan cucuku saat di culik dan dilecehkan olehnya. Oh.... Jangan jangan kamu juga terlibat karena tidak memberitahu Ayah kala itu. Bela terus menantu kesayanganmu itu hingga kamu terus membantah Ayah. Semua gara gara dia dan pernikahan bodoh yang kamu restui. Ayah bukan kamu yang mudah luluh dan mudah lupa dengan kesalahan yang di perbuat orang. Apalagi ini menyangkut cucuku. Harusnya dia mendapat yang lebih baik" Tegas Kakek kemudian pergi meninggalkan Abi.
Ansel nyaman tidur sambil dipeluk istrinya. Pria itu baru saja tenang beberapa saat lalu. "Kalau di sana matanya dijaga. Jangan lirik pria lain." Ucap Ansel memberikan peringatan. Meski suaranya serak namun ketegasan dalam setiap kata sangat terdengar jelas. "Jangan tersenyum dan jangan perlihatkan wajah cantikmu. Aku tidak mau milikku di lihat orang lain." Lanjutnya sembari menatap dalam dalam sang istri karena belum mendapat jawaban. "Iya." Jawab Karina tau apa yang diinginkan suaminya.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu. Karin beranjak dari ranjang pelan agar tidak membangunkan suaminya yang sudah tertidur pulas. Wanita itu melangkahkan kaki keluar kamar dengan hati hati.
"Mom." Panggil Bella saat Ibunya memasuki kamar. "Enggak tidur siang?" Tanya Karin yang kini sudah duduk di tepian ranjang putrinya. "Nggak bisa tidur. Ayo temenin." Jawab gadis itu mengajak Ibunya untuk berbaring. "Berapa hari Mom di arab?" Karin mengangkat kedua bahunya. "Tidak tau. Tidak lama kok. Soalnya Kafil harus sekolah." Jawabnya membuat Bella menghela napas.
__ADS_1