Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bicara Dengan Abi


__ADS_3

Bella menghampiri Ibunya yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Ia khawatir dengan keadaan Karina karena semenjak kemarin Ia tak boleh menemui dan wanita itu pun tak keluar kamar sama sekali. "Mom." Ia memeluk dengan hangat. "Hey. Sudah bangun." Ucap Karin tanpa menoleh sama sekali membuat Bella curiga. Ia melepaskan pelukan kemudian membalikkan tubuh Ibunya. "Mom." Bella meminta penjelasan karena luka di bibir dan memar dikening wanita itu. Ia memeriksa tangan karin tampak lecet dan pergelangan tangannya juga terluka. "Daddy lakukan ini lagi?" Tanyanya melayangkan tatapan tajam. "Bukan. Ini...." Karin tak bisa menjelaskan apapun. "Sudah. Bella nggak bisa diam saja." Ucapnya hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Karina. "Jangan. Ini masalah kami." Karin memeluk putrinya. "Mom. Daddy nggak bisa dibiarkan." Jawab Bella sembari meneteskan air matanya. "Sudah. Sekarang sudah baik baik saja." Ucap Karin tak ingin Bella dibentak karena ikut campur seperti kemarin.


Karin kembali ke kamar untuk membantu suaminya bersiap. Wanita itu menghampiri Ansel kemudian segera memakaikan dasinya. "Hari ini ikut ke kantor." Ucapnya sembari mengusap lembut pipi chubby sang istri. "Boleh di rumah saja Dad. Sekarang sedikit lelah." Karin memberanikan diri meminta izin karena badannya sedikit lemas. "Disana kamu bisa istirahat." Jawab Ansel tak mau istrinya tinggal. Jika sudah seperti ini Karin hanya bisa menuruti keinginan suaminya. Nada bicara Ansel sudah tidak melunak lagi menjadi sinyal untuknya agar tidak membantah.

__ADS_1


Ansel sedang mengobati luka di tangan sang istri saat dalam perjalanan menuju kantor. "Masih sakit?" Tanyanya beralih mengoleskan salep di kening. "Lumayan." Jawab Karin. "Maaf. Lain kali jangan membuatku marah dan hilang kendali. Aku tidak mau menyakitimu." Ucapnya sembari menangkup wajah cantik sang istri.


"Abi." Gumam Karin saat melihat Ayahnya sedang berbincang dengan beberapa orang. Ia buru buru memakai masker untuk menutupi luka agar pria itu tak bertanya macam macam. "****." Umpat Ansel dalam hati karena lupa hari ini ada meeting dengan mertua dan beberapa rekan bisnisnya yang lain.

__ADS_1


Karin sedang menunggu di ruangan suaminya sembari membaca al quran untuk mengatasi hatinya yang kini sedang tidak baik baik saja. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipi mulus wanita itu. "Ya Allah berikan hamba kesabaran lebih." Lirihnya begitu dalam. Ia tak ingin menyerah namun semua terasa begitu berat. Ingin berkeluh kesah dengan keluarga juga Ia tak mau membuat mereka khawatir. Hidup dalam sebuah belenggu memang sangat menyakitkan. Ia tak bisa bergerak dan mengungkapkan apa yang dirasakan dengan bebas. Satu hal yang bisa Ia lakukan hanya memendam dan terus bersabar berharap keadaan akan membaik seiring dengan berjalannya waktu.


Abi menghampiri Karina di ruangan menantunya. "Ansel. Karin Abi bawa sebentar ya. Mau ke cafe." Ia meminta izin. "Iya Bi." Jawab Pria itu sembari tersenyum. Karin segera berpamitan kemudian bergegas pergi mengimbangi langkah Ayahnya.

__ADS_1


"Mbak jangan bohongi Abi." Ucap Pria itu serius sembari menatap putrinya saat mereka telah duduk berdua di salah satu ruangan VIP di cafe. "Bohong apa Bi?" Tanya Karin. Tak menjawab Abi membuka masker putrinya dengan tiba tiba membuat Karina menunduk. "Ini kenapa Mbak?" Abi menangkup wajah Karin memperhatikan beberapa luka di bibir dan kening wanita itu. "Tidak apa Bi." Jawabnya berusaha menahan air mata. "Ini luka di tangan juga kenapa? Mbak sekarang jujur sama Abi. Umi sudah ceritakan semuanya jadi Mbak jangan mengelak." Karin akhirnya menangis. Ia tak bisa lagi membendung air matanya. Sembari sesenggukan Ia mulai mengeluarkan semua isi hatinya pada sang Ayah. "Tidak bisa dibiarkan." Ucap Abi sembari mengepalkan tangan menahan amarah. Ia tak terima putrinya yang begitu Ia jaga disakiti seperti ini. Seharusnya Ansel bisa memperlakukan Karin dengan baik. Setidaknya itu cara yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahannya yang lalu. Namun tidak, Pria itu malah berlaku kasar dan bertindak semena mana. "Abi harus mengurus sesuatu. Abi tidak tahan Mbak seperti ini." Ucapnya. "Jangan Bi. Karin mohon. Karin akan menyelesaikannya sendiri." Ia menggenggam tangan Abinya tak membiarkan pria itu pergi. "Berpisahlah dengannya jika Mbak berkeinginan demikian. Jangan di tahan. Abi akan bantu. Kebahagiaan Mbak yang utama." Ia memeluk putrinya untuk memberi kekuatan.


__ADS_2