Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bentuk Tanggung Jawab


__ADS_3

"Morning Mom, Dad." Suara seorang gadis terdengar memasuki ruang makan menghentikan Ansel yang sedang berbicara. "Morning Bell." Jawab Karin sembari meletakkan sarapan yang sudah siap di depan suaminya. "Thank you Mom." Ucap pria itu sembari tersenyum. "Kamu mau pakai apa Bell?" Tanya Karina menawari karena tidak hanya ada satu menu yang tersaji di meja. "Pancake saja Mom." Jawab Bella sembari mengecup pipi Ibunya beberapa kali lalu duduk. "Bisa basah pipi Mom kalau kamu begitu." Sindir Ansel. "Apa Daddy sedang iri atau cemburu?" Tanyanya sinis. "Ck...Kenapa harus cemburu padamu." Ansel berdecak kemudian segera melanjutkan sarapannya.


Cuaca hari ini begitu cerah. Seperti biasa, Karin menemani suaminya untuk ke kantor. Wanita itu memandang ke luar jendela mobil memperhatikan kendaraan lain yang sedang berlalu lalang. Ia memikirkan tentang rumah tangga yang kini tengah di jalaninya. Memang semua berjalan normal. Namun di hati kecil Ia selalu bertanya tanya apakah ada cinta untuk sang suami? Sebagai seorang istri sudah menjadi kewajiban Karin untuk mencintai pasangan sahnya. Kini hal itu sedang berproses dan Ia juga sedang berusaha tapi belum juga membuahkan hasil. Perhatian, kasih sayang dan semua yang Ia lakukan adalah bentuk dari tanggung jawab. Akankah selamanya akan begini? Ia menanyai diri sendiri. Selama ini Ia tak bisa membohongi diri sendiri jika rumah tangganya terasa hambar. Sampai kapan Ia akan bertahan? Semuanya terjadi begitu saja dan tiba tiba. Karin tak tau kedepannya bagaimana. Namun Ia selalu berdoa agar semuanya baik baik saja.


"Kenapa melamun hm?" Tanya Ansel sembari mengeratkan rangkulannya pada sang istri. "Tidak melamun. Hanya melihat jalanan saja." Jawab Karin mengubah posisi menghadap depan. "Ada yang Mom pikirkan?" Ia ingin tau apa yang sedang di mengusik istrinya. "Tidak ada." Jawab wanita itu sambil tersenyum untuk meyakinkan sang suami.

__ADS_1


Ansel dan istrinya sudah sampai di ruangan. Pria itu mengantarkan Karina ke kamar pribadi untuk istirahat karena Ia akan menemui Damian. "Daddy tinggal sebentar." Ansel mengecup kening istrinya dengan lembut kemudian bergegas pergi.


Damian membuka pintu ruangan bosnya. Pria berperawakan tegap itu langsung menghampiri Ansel yang sedang duduk santai di sofa. "Duduklah." Mendengar perintah dari atasan Ia langsung melaksanakan tanpa banyak bicara. "Ada apa Dam?" Tanya Ansel dengan nada yang bersahabat. Semenjak menikah pria itu lebih soft. Namun saat sedang ada masalah dengan istrinya Ansel lebih menakutkan dua kali lipat. Oleh karena itu Damian selalu berdoa agar hubungan bosnya dengan sang istri selalu harmonis dan baik baik saja. "Ada undangan Tuan." Jawanya sembari memberikan amplop hitam dengan ukiran tinta emas yang begitu elegan. "Astrama? Terdengar asing." Gumam Ansel membaca sekilas. "Memang Tuan. Ini perusahaan baru yang sedang berkembang pesat dan membuka cabang di sini. Oleh karena itu Tuan di undang untuk turut hadir dalam peresmiannya." Jelas Damian.


Sore hari Ansel baru bangun. Pria itu sudah tertidur semenjak pulang kerja tadi. Bahkan tak sempat mandi. Ia hanya mencuci muka dan ganti baju lalu langsung tidur bersama istrinya. Dan seperti biasa Karin sudah tidak ada. Entah wanita itu pergi kemana. Selama menjadi suami, Ansel tak pernah sekalipun memergoki Karin bangun. Selalu saja Ia bangun lama setelah Karin menghilang atau memang wanita itu yang bangun terlalu cepat. Harap harap dapat memandangi wajah karina yang masih pulas di pagi hari. Ia sama sekali tak pernah mendapati momen itu terjadi.

__ADS_1


Ansel menghampiri Istrinya yang sedang duduk di tepian kolam menemani Bella berenang. "Sudah bangun." Ucap Karin merasakan dekapan suaminya. Tak menjawab Ansel memberikn kecupan di pipi mulus sang istri. "Sudah sore Bell. Nanti kamu masuk angin." Tegur Karin saat anak gadisnya muncul di permukaan. "Sebentar lagi. Ini masih jam empat Mom." Jawabnya menghampiri kedua orang tuanya. Gadis itu menciptakan air untuk menggoda sang Ibu namun Daddy nya yang begitu sensitif tentu saja kesal. "Hentikan Bell. Daddy basah." Ansel jelas berdecak dengan tingkah anaknya. "Daddy juga belum mandi saja sok sok an nggak mau kena air." Bella mencibir. Ia dengan sengaja menghentakkan tangannya hingga membuat Daddy nya basah kemudian menenggelamkan diri karena tak ingin mendengar amukan pria itu.


Karin menghampiri putrinya sembari membawa coklat panas. "Makasih Mom." Ucap Bella langsung meneguknya perlahan. "Kan sudah dibilang nggak usah lama lama kalau berenang. Jadi kedinginan gini kan." Karina mengeringkan rambut putrinya. "Ayo makan dulu." Ajak Karin setelah rambut putrinya kering. "Mau diikat atau biarkan begini?" Tanyanya menawari. "Ikat saja Mom." Jawab Bella.


Ansel makam malam bersama keluarga kecilnya. Meja makan yang begitu besar dan panjang hanya diisi tiga orang setiap harinya. Sangat miris. Berbeda dengan di rumah Karin yang membebaskan pekerja di rumah untuk makan bersama. Karin sadar peraturan di sini berbeda. Suaminya begitu menjunjung tinggi status tentu tak mau harus berbaur dengan orang yang tidak setara. "Ada apa Mom?" Tanya Ansel menggenggam tangan istrinya. Bukan hanya sekali dua kali Ia sangat sering memergoki Karina yang sedang melamun. "Tidak. Hanya mengingat ingat tadi meletakkan buku dimana. Aku lupa." Jawab Karin. "Nanti Daddy carikan." Wanita itu mengangguk kemudian tersenyum menanggapi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2