
Ansel menghampiri istri dan anak anaknya yang sudah siap di meja makan.
"Selamat pagi." Ucap pria itu lalu mencium istri dan anak anak bergantian.
"Pagi Daddy." Jawab mereka kompak.
"Hari ini aku gajian. Mommy sama adek adek bakalan aku traktir." Ucap Bella memberikan pengumuman.
"Daddy tidak?" Tanya Isam.
"Daddy sudah banyak uang. Tidak perlu di traktir. Lagian kalau mau traktir Daddy nanti uang kakak tidak cukup." Jawab Bella membuat Ibunya tersenyum.
"Nggak adil kalau Daddy tidak kamu traktir." Ansel tidak terima.
"Dad. Aku uang bensin masih minta ke Mom masa Daddy tega minta traktiran ke aku."
"Tega. Ayo traktir. Daddy minta parfum aja." Bella seketika tersedak mendengar ucapan sang Ayah. Parfum pria itu harganya selangit. Bella mana mampu.
"Minum dulu." Ucap Karin menuangkan air putih untuk putrinya.
"Daddy parfumnya mahal. Nggak ah."
"Terus apa dong?"
"Udah dibilang nggak usah minta traktir. Gaji aku 6 juta Dad. Kalo buat traktir Daddy lenyap. Itu juga masih kurang. Dah ah... Bella berangkat dulu. Nanti sore kita jalan." Gadis itu mengucapkan salam kemudian bergegas pergi setelah mendaratkan ciuman di pipi semua orang.
Karin mengantarkan suami dan putranya sampai di depan sembari menggendong Safa.
"Mom. Isam berangkat Assalamualaikum." Ucap bocah tampan itu mencium tangan dan pipi Ibunya kemudian bergegas masuk ke mobil.
"Waalaikumsalam." Jawab Karin melambaikan tangan.
"Daddy berangkat Sayang. Jangan capek capek di rumah. Makan siang nanti Daddy pulang. Safa jangan nakal ya.... Daddy berangkat. Assalamualaikum." Ansel memeluk kemudian mengecup kening anak istrinya bergantian.
"Waalaikumsalam. Hati hati."
__ADS_1
Selepas memastikan anak anak dan suaminya berangkat Karin masuk ke dalam.
"Mom. Safa mau puding susu." Ucap gadis cantik yang masih di gendong Ibunya itu.
"Iya. Mommy buatkan. Mau apa lagi?" Tanya Karin mengusap kepala putrinya.
"Mau nugget." Jawab Safa tersenyum.
"Baiklah. Kita buat sekarang." Ajak Karin membawa putrinya ke dapur. Ia mendudukkan Safa di kursi kemudian mengambil bahan bahan dari kulkas.
"Nyonya mau buat apa?" Tanya Bibi menghampiri majikannya.
"Mau buat puding susu Bi. Safa mau puding."
"Oh.... Saya bantu Nyonya." Ucap Bibi tak ingin berpangku tangan meskipun majikannya itu gemar memasak.
Sore hari suasana rumah Ansel begitu ramai karena mertuanya sedang berkunjung dengan Kakek juga. Pria paruh baya itu sekarang kerap datang karena merindukan cucu dan cicitnya. Mereka semua sedang berkumpul di halaman belakang. Mengobrol sembari menjaga Isam dan Adiknya yang sedang bermain di lapangan.
"Mas Isam nanti adiknya jatuh lo." Tegur Karin melihat putranya hendak menggendong Safa.
"Mas Isam belum kuat jangan di gendong adiknya."
"Kalau sama kamu langsung Ok ya." Ansel menyindir karena putranya itu sangat patuh pada Karina.
"Memang sama kamu tidak?" Tanya Kakek.
"Ya iya sih Kek. Tapi ada mengeluhnya kalau sama Ibunya langsung Iya aja."
"Dulu kamu di tegur Ibu kamu gimana?"
"Nggak pernah di tegur Bi. Makannya begini." Pria itu tertawa menanggapi mertuanya.
"Kafil tumben telpon." Gumam Karin langsung menerima panggilan dari adiknya.
"Assalamualaikum." Ucap wanita itu.
__ADS_1
"Kamu tidak salah?" Tanya Karin tampak panik.
"Ya. Waalaikumsalam." Wanita itu mengakhiri panggilan lalu menatap suaminya.
"Kenapa Mbak? Ada apa?" Tanya Umi.
"Bella kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit."
Karin pergi ke rumah sakit dengan suami dan Abinya karena Umi dan Kakek menjaga anak anak di rumah.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Karin pada Om dan tantenya yang ternyata sudah ada disama.
"Masih ditangani dokter."
"Ya Allah." Karin begitu cemas menangis dalam pelukan suaminya.
"Om sama Tante kok disini?" Tanya Ansel.
"Tadi kebetulan antar Tante cek up. Tenyata dapat kabar dari Kafil kalau Bella kecelakaan." Jawab Pandu.
"Bagaimana keadaan Bella?" Tanya Ansel saat Kafil keluar dari ruangan.
"Kami butuh darah. Stok darah yang sama habis. Kak Ansel bisa?"
"Ya. Ayo." Ansel buru buru pergi mengikuti iparnya.
Ansel berjalan menghampiri sang istri. Pria itu menatap kosong kemudian memeluk Karin dengan erat. Semua yang baru saja Ia dengar sangatlah menusuk hati. Ia benar benar tak percaya dengan semua ini. Sudah puluhan tahun lamanya dan tidak terungkap. Ansel benar benar seperti orang bodoh.
"Daddy ada apa?" Tanya Karin. Belum sempat Ia mendapat jawaban Kafil dengan sedikit berlari menghampiri.
"Darahnya tidak cocok."
"Denganku. Ayo lakukan." Semua mata tertuju pada Pandu. Pria itu melangkah dengan mantap menuju ke ruangan.
"Ada apa ini?" Ucap Ansel mencekal tangan Omnya.
__ADS_1
"Akan aku jelaskan. Tapi tidak sekarang." Jawabnya bergegas pergi karena keadaan darurat.
"Mom. Bella bukan putriku." Ucap Ansel masih dalam posisi memeluk sang Istri. Karin tak bisa berkata apa apa saat ini. Yang bisa Ia lakukan hanya mengusap punggung suaminya berharap pria itu bisa tegar menghadapi fakta yang baru saja terungkap.