
"Astaga istriku. Kenapa cemberut begitu." Goda Ansel mencium pipi istrinya sambil berjalan menuju ke ruang kerja. "Kamu berlebihan." Jawab Karin kesal karen suaminya membeli tujuh kacamata sekaligus dan menurutnya itu pemborosan. "Baru kali ini loh ada istri di manja tapi malah tidak suka." Celoteh Ansel heran. "Bukannya apa apa Dad. Jangan boros. Nggak baik." Karin menurunkan putranya membiarkan bayi tampan itu berjalan. "Hm. Iya iya maaf. Nanti sebelum pulang mampu dulu ya." Pinta Ansel sembari memeluk istri tercinta. "Mampir kemana?" Tanya Karin. "Aku sudah reservasi tempat mau beli kemeja sama sepatu olahraga." Baru saja minta maaf suaminya borosnya sudah berulah lagi. Karin hanya bisa mengangguk pasrah membiarkan suaminya. Hidup Ansel yang bergelimang harta tentu saja apa apa serba mewah. Berbeda dengannya yang begitu sederhana meskipun mampu untuk menyaingi sang suami.
Karin mengajak putranya jalan jalan karena bosan menunggu suaminya yang sedang meeting. "Nyonya. Putranya tampan sekali." Ucap Seorang karyawan yang berpapasan dengannya. "Terimakasih." Jawab Karin sambil tersenyum ramah kemudian meneruskan berjalan. "Sayang nya Mom mau kesana?" Tanyanya karena Isam sedaritadi menunjuk ke arah taman. "Iya kita kesana." Ucap Wanita itu.
__ADS_1
Ansel baru saja keluar dari ruangan meeting. Pria itu langsung masuk ke dalam ruangannya untuk menemui Karina. "Kemana mereka?" Ansel bertanya tanya karena sudah mencari namun tidak menjumpai sang Istri. Baru saja hendak berangkat mencari Ia bernapas lega melihat Karin berjalan sembari menggendong Isam menuju ke arahnya.
"Darimana?" Tanya Ansel tak mau memeluk dan mencium istrinya di depan banyak orang. "Isam pengen jalan jalan. Aku ajak ke taman." Jawabnya. "Kamu atau Isam yang pengen jalan jalan?" Ansel mencubit hidung mancung sang istri. "Kita berdua." Jawab Karin sambil tersenyum membuat siapapun yang melihatnya gemas. "Lihat apa kalian?" Tegas Ansel karna orang orang memperhatikan istrinya. Mereka bergegas kembali bekerja sebelum mendapat omelan Ansel karena jika datang dengan Karin pria itu hanya akan mengomeli dengan pedas tapi tanpa makian dan kata kata kasar.
__ADS_1
Karin sedang menata semua belanjaannya suaminya di walk in closet setelah memastikan putranya sudah tidur lagi. "Mau taro dimana ini Dad? Ruangnya nggak cukup. Baju sama sepatu kamu terlalu banyak." Ucap Karin. "Iya ya. Kayanya butuh space lagi biar muat." Jawab Ansel. "Bukan masalah space nya. Barang kamu terlalu banyak." Karin memperhatikan deretan jas, kemeja, celana, sepatu dan parfum Ansel yang mendominasi. Wanita itu kemudian duduk karena sudah cukup lelah berkutat dengan barang barang Suaminya yang seakan tidak habis habis. "Kamu itu laki laki suka banget belanja." Ansel mendekat. Ia tiduran dengan nyaman menggunakan paha Karin sebagai bantal. "Sudah terbiasa." Jawabnya tersenyum menatap wajah cantik sang istri.
Karin menghela napas melihat suaminya tiduran di ranjang dengan kondisi badan yang basah setelah mandi. Pria itu masih mengenakan bathrobe sembari memegang handuk. "Pakai baju sana loh Dad. Kamu kenapa malas sekali." Karin meletakkan Isam diatas ranjang setelah memberi Asi. "Kamu habis pinjam punya Ayah ya. Harusnya kalau sudah doyan makan nggak minta tutu lagi." Ucap Ansel mengusap perut putranya. "Daddy pakai bajunya sana loh. Masuk angin nanti." Karin memberikan pakaian suaminya yang sudah Ia siapkan sedaritadi. "Bantu keringkan badan aku Mom. Lagi males banget." Manjanya sambil duduk. Karin mengambil handuk yang dipegang suaminya. Wanita itu mulai mengelap area dada kemudian rambut Ansel. "Basah tuh sprei nya. Daddy sih." Karin mengeluh dengan kelakuan sang suami. "Nanti diganti." Jawab Ansel santai sambil memeluk pinggang ramping istrinya.
__ADS_1
Bella dan Ayahnya sama sama kuwalahan menenangkan Isam yang sedang menangis karena ingin ikut Mommynya. "Mom masih mandi Nak." Ucap Ansel. "Mommy." Isam merentangkan tangannya ketika melihat kedatangan sang Ibu. "Iya sayang. Maaf lama." Karin buru buru menggendong putranya membuat Isam seketika langsung diam. "Begitu kamu. Sama yang lain bahkan Ayahnya sendiri tidak mau. Kamu itu dari benih Daddy kenapa tidak sayang Daddy sama sekali." Ucap Ansel membuat Karin membulatkan mata. Ia tak habis pikir dengan apa yang diucapkan suaminya yang terlalu vulgar padahal ada Bella. "Mom hari ini dapat jatah kan ya." Ansel berbisik. "Jatah apa?" Karin pura pura tidak mengerti. "Jangan begitu dong Mom." Keluh Ansel namun di abaikan istrinya.